KU TITIPKAN DIA PADA-MU

0 komentar

KU TITIPKAN DIA PADA-MU
Cerpen Putri Rahmawati

Pemuda itu namanya hamdan. Dia seorang pemuda yang tekun beribadah, rajin mengaji tidak banyak cakap tapi pekerja keras kalau kata iklan “talk less do more”, mudah bergaul, ramah, baik hati dan tidak sombong, gemar manabung ga ya??? Tapi dia bukan berasal dari keluarga ulama melainkan dari keluarga yang biasa-biasa saja semangat ibadahnya.

Dialah yang jadi penyemangat ibadah keluarganya. Pada suatu hari…di masjid hamdan biasa mengaji datanglah seorang gadis cantik, sholehah, dia juga seorang mubalighod. Gadis itu berasal dari kota sebrang. Ketika melihat gadis itu hati hamdan langsung bergetar tapi dengan cepat hamdan langsung menundukkan pandangan kemudian berpaling dari gadis itu, hamdan takut pandangannya berubah jadi nafsu yang di hias-hiasi syaiton.

Hamdan memang sangat taat beribadah termasuk dalam menjaga hatinya dari cinta yang belum waktunya. Memang gadis itu dambaan semua pria termasuk hamdan. Hamdan berkata dalam hati “Subhanalloh gadis itu cantik sekali tapi sayang aku bukan siapa-siapanya dan tidak berhak memandangnya terlalu lama”. Hari demi hari akhirnya hamdan kenal dan akrab dengan gadis itu karna setiap acara pengajian mereka selalu bertemu.


Owh iya lupa nama gadis itu dini. Dini mulai akrab dan terbiasa dengan teman-teman barunya termasuk hamdan. Hamdan pun senang karena bisa akrab dengan dini, tapi hamdan selalu berusaha menetralisir hatinya terhadap dini karena hamdan belum berani mengubah rasa senang itu menjadi cinta. Hamdan punya anggapan bahwa berani mencintai harus berani menikahi sehingga cinta itu bisa terjaga dari godaan syaiton, sedangkan pada saat itu hamdan merasa belum mampu untuk menikah.

Dalam do’anya hamdan selalu meminta pada Alloh, berikut isi do’a hamdan kepada Alloh :
“Ya Alloh aku menyukai seorang gadis bernama dini, tapi demi menjaga hatiku agar selalu tetap mencintaiMU, agar bisa jauh dari nafsu semata, agar tetap bisa menjalankan perintahMU bahwa jangan dekat-dekat dengan zina aku belum berani mencintainya, karena saat ini aku merasa belum mampu untuk menjadi halal baginya. Semua ini aku lakukan karena cintaku padaMU jauh lebih besar Ya Alloh jadi aku berusaha mengalahkan syaiton yang menggoda imanku dengan cintaMU. Maka dari itu aku menitipkan dia padaMU karna dia seutuhnya milikMU dan pada saat aku siap menjadi halal baginya dengan ridhoMU aku ingin meminta dia dariMU dan semoga engkau masih menjaganya untukku, jadikan dia jodoh yang baik bagiku. Saat ini aku ingin mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik untuknya. Apabila di tengah jalan dia diambil orang itu semua di luar kuasaku melainkan di dalam kuasaMU, yang pasti demi menjaga hatiku pada Alloh aku sudah memintanya padaMU lebih dulu dan aku yakin Alloh meridhoi niat baikku ini…Amiiin”

Hari demi hari tidak ada hubungan yang special antara hamdan dan dini, tidak ada komunikasi yang berarti kecuali masalah-masalah penting mengenai kegiatan-kegiatan masjid. Dini pun sama sekali tidak merasa kalau hamdan menyukainya karna sikap hamdan yang biasa-biasa saja. Banyak pria yang mengungkapkan rasa cintanya pada dini, baik itu yang sudah siap nikah maupun hanya sekedar suka-sukaan, hamdan pun mengetahuinya namun dia tetap percaya pada do’anya dan membiarkan dini dengan pilihannya. Tapi ternyata di antara sekian banyak pria yang menyatakan cinta pada dini belum ada yang membuat dini tertarik karena pada saat itu dia juga belum siap untuk menikah. Akhirnya keberanian hamdan untuk mewujudkan keinginanya terkumpul sudah, dan pada saat itu sepengetahuan hamdan dini sedang tidak dekat dengan siapa-siapa, sehingga hamdan mulai merutinkan sholat iskhoroh untuk dini sampai kira-kira satu bulan lamanya. Setelah benar-benar merasa yakin hamdan memberanikan diri mengutarakan isi hatinya pada dini, bukan tentang perasaannya terhadap dini melainkan tentang niatnya untuk melamar dini. Pada saat itu hamdan menemui dini di rumahnya bersama temannya. “Assalamu’alaikum”
“Waalaikumussalam”
“Din bisa ganggu sebentar”
“Ada apa mas”
“Ada yang mau saya bicarakan”
“Owh ya udah masuk aja mas”
“Terimakasih”
“Ehhhmm gini din niat saya kesini mau menyampaikan sesuatu”
“Menyampaikan apa mas”
“Saya berniat melamar kamu din”

Pada saat dini mendengar niat hamdan untuk melamarnya dini kaget bukan kepalang. Selama ini hamdan tak pernah terlintas sama sekali di pikirannya apalagi di hatinya meskipun dia tau hamdan orang yang baik. Tapi dini berusaha menghargai niat hamdan, dia bertanya pada hamdan
“sampeyan benar-benar yakin mas mau melamar aku??”
“Iya saya yakin din”
“apapun hasilnya?”
“iya apapun hasilnya saya terima, itu semua di dalam kuasa Alloh saya hanya bisa mengusahakannya”
“Baiklah saya menghargai niat baik sampeyan, tapi saat ini saya belum siap menikah sampai tahun depan, kalau sampeyan mau menunggu saya silahkan tapi kalau engga juga ga apa-apa, jodoh itu kuasa Alloh”
“Baiklah saya terima keputusan kamu din, kita serahkan semua pada Alloh, terima kasih telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengutarakan niat baik saya ini”
“Iya sama-sama”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”

Setelah mendengar jawaban dini hamdan dan temannya pamit pulang. Dalam hati hamdan sedih tapi dia juga senang karena pada dasarnya dini tidak menolaknya hanya menunda keputusannya, dia masih yakin dengan do’anya. Dini pun masih terkaget-kaget dengan sikap hamdan padanya, dia cerita dengan beberapa teman dekatnya mengenai hamdan. Teman-temannya yang juga mengenal hamdan menyarankan supaya dini menerima lamarannya. Dini pun bingung, akhirnya dia mencoba merutinkan istikhoroh untuk hamdan. Tapi lama kelamaan tidak ada kabar lagi dari hamdan. Seperti ada penyesalan di hati dini kenapa dulu tidak menerima lamaran hamdan karena sekarang dini merasa hamdan menjauh darinya. Akhirnya setelah beberapa bulan tidak ada kabar hamdan datang lagi pada dini dan masih mengutarakan niat yang sama. Dini pun merasa yakin bahwa hamdan tidak main-main, Akhirnya dini menerima lamaran hamdan dan mereka pun menikah dengan ridhonya Alloh. Hati mereka selama ini sama-sama terjaga hingga akhirnya di persatukan dalam ikatan yang suci.

25 Alasan Enggan Berjilbab

0 komentar

Berikut beberapa alasan anak muda yang enggan berjilbab dan sanggahan halusnya. Semoga yang belum berjilbab mendapat hidayah. 1. Saya nggak mau jilbaban! Jilbaban itu kuno | “Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake jilbab”
2. Tapi kan itu hal kecil, kenapa jilbaban harus dipermasalahin?! | “Yang besar2 itu semua awalnya dari perkara kecil yang diremehkan”
3. Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari jilbabnya, fisiknya! | “trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik? Dan Islam meyakini bahwa iman itu bukan hanya perkara hati, namun juga ditunjukkan dalam fisik atau amalan lahiriyah. Hati pun cerminan dari lahiriyah. Jika lahiriyah rusak, maka demikianlah hatinya”
4. Jilbaban belum tentu baik | “Betul, yang jilbaban aja belum tentu baik, apalagi yang … (isi sendiri)
5. Saya kemarin lihat ada yang jilbaban nyuri! | “So what? yang nggak jilbaban juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”
6. Artinya lebih baik jilbabin hati dulu, buat hati baik! | “Yup, ciri hati yang baik adalah jilbabin kepala dan tutup aurat”
7. Kalo jilbaban masih maksiat gimana? dosa kan? | “Kalo nggak jilbaban dan maksiat dosanya malah 2. Malah nggak jilbaban itu dosa besar.
8. Jilbaban itu buat aku nggak bebas! | “Oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”
9. Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis! | “Nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim tidak mau taat”
10. Kalo aku pake jilbab, nggak ada yang mau sama aku!? | “Banyak yang jilbaban dan mereka nikah kok”
11. Kalo calon suamiku gak suka gimana? | “Berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur? Dan ingatlah al khobitsaatu lil khobitsiin, perempuan rusak ditakdirkan dengan lelaki yang sama. Demikian sebaliknya.
12. Susah cari kerja kalo pake jilbab! | “Lalu enggan taat pada perintah Allah demi kerja? emang yang kasih rizki siapa sih? Bos atau Allah? Dan asalnya wanita itu berdiam di rumah: wa qorna fii buyutikunna (menetaplah kalian di rumah-rumah kalian)
13. Ngapa sih agama cuma diliat dari jilbab dan jilbab? | “Sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”
14. Aku nggak mau diperbudak pakaian arab! | “Ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu (di zaman jahiliyah) gak pake jilbab. Syari’at jilbab ini untuk seluruh wanita, bukan hanya Arab sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Ahzab ayat 59: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".”
15. Jilbab cuma akal2an lelaki menindas wanita | “Perasaan yang adain miss universe laki2 deh, yang larang jilbab di prancis jg laki2
16. Aku nggak mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake! | “Sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”
17. Jilbab kan bikin panas, pusing, ketombean | “Jutaan orang pake jilbab, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”
18. Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?! | “Katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”
19. Jilbab kan nggak gaul?! | “Lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”
20. Aku belum pengalaman pake jilbab! | “Pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”
21. Aku belum siap pake jilbab | “Kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”
22. Mamaku bilang jangan terlalu fanatik! | “Bilang ke mama dengan lembut dan santun, bahwa cintamu padanya dengan menaati Allah penciptanya”
23. Aku kan gak bebas ke mana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju! | “Bukankah itu perubahan baik?”
24. Itu kan nggak wajib dalam Islam!? | “Kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”
25. Kasi aku waktu supaya aku yakin jilbaban dulu | “Yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”.
Nah wahai saudariku muslimah, tunggu apalagi?
Mengenai kewajiban berjilbab sudah ditetapkan dalam Al Qur’an yang tiap hari kit abaca, di mana Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.
Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ …
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, …” (QS. An Nur: 31).
Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ ، وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلاَّهُنَّ . قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ « لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا »
Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890)
Dalam Lisanul ‘Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (rida’) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya.[1] Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.
Semoga Allah beri hidayah demi hidayah bagi yang belum berjilbab.

3 HARI BERSAMA MEREKA

0 komentar

3 HARI BERSAMA MEREKA
Cerpen Dita Fadhilah Azri

Siang ini semua masih biasa dengan siang-siang sebelumnya. Siang ini masih terasa panas. Siang ini matahari masih setia melakukan tugasnya. Siang ini ozon yang membolong masih tetap tak mampu menahan sinar ultraviolet –malah bertambah parah-

Tapi ada yang tidak biasa di siang ini. Dua gadis yang masih memakai seragam sekolah mereka, kelihatan celingak-celinguk memperhatikan orang-orang yang berseliweran di daerah lampu merah itu, seperti ada yang mereka cari.
“Jadi lo mau nge-riset tentang apa nich Sa?” satu dari dua gadis itu membuka suara lebih dulu “gue kayaknya uda dapet dech” lanjutnya tapi dengan suara yang mengandung keraguan.
“Belum tau  Re, masih bingung gue” satunya lagi menanggapi dengan suara bernada hampir putus asa “emang lo mau riset siapa?”
“Tapi lo jangan ketawa ya!?”
“Iya”
“Tuh..” gadis itu menunjuk ke arah laki-laki yang memakai dress bling-bling, berdandan norak dan memakai wig.

Salsa langsung terkejut, tercengang, tak percaya dan bengong dalam waktu bersamaan. Sesaat kemudian tak ada tanda-tanda dia mau menertawakan “pilihan” yang akan di-riset oleh Rena. Dan memang dia tidak akan melakukan itu, yang terjadi justru sebaliknya. Dia sangat takut dengan manusia peralihan seperti itu.
“Sa….” Yang dipanggil tak menyahut. “SALSA!!” ulang Rena dengan nada gila-gilaan, kontan yang dipanggil tersentak kaget.
“Apaan sich lo? Lo kira gue budek kayak elo?”
“Hehe, sory…. Abis lo dipanggil sekali gak ngeh. Kenapa sich liatin itu mas-mas eh itu mbak-mbak sampe segitunya?”
“Gue masih trauma ama banci, karena waktu TK dulu gue hampir diculik ama makhluk peralihan kayak gitu, untung aja ada yang jaga warung sekitar situ curiga gue datarik-tarik masuk taksi, terus dia langsung teriak-teriak dan ngedatangi gue terus ngerebut gue dari tu banci, jadinya selamat dech gue”

Cerpen Remaja Islami - 3 Hari Bersama Mereka

Dengan wajah prihatin yang dibuat-buat Rena berkata dengan nada simpati, “Tragis amat kisah lo sob, huhu, terharu gue. Kayak……cerita di sinetron. Hahahaha”
“Iyah, ketawa terus. Puas-puasin aja lo ngetawai gue” Tapi orang yang dimaksud Salsa dalam sindirannya malah nyengir-nyegir kuda. “Lagian kenapa sich lo milih makhluk peralihan gitu buat diwawancari dalam riset lo?”
“Yaaaa soalnya kan jarang banget tuh yang kepikiran kalau salah satu human trafficking itu mbak jadi-jadian kayak gitu”
“Emmm gitu ya?”
“Gak usah pasang tampang oon gitu dech, karena muka lo uda oon dari sono nya” Rena mencibir, sementara Salsa mendengus kesal. “Kan biasanya orang pada mikir kalau makhluk peralihan kayak gitu tu pada suka mangkal bukannya ngamen di traffic light kayak gini” lanjutnya kemudian dengan nada mantap, yang diberi penjelasan cuma manggut-manggut aja.
“Iya deh, gue manut aja sama elo. Kalau gue bilang gak bisa habis pala gue lo jitakin”
“Bagus, yauda yok!!” Rena menarik tangan Salsa.
“Eh….eh…. mau lo ajak ke mana gue?” Salsa mempertahankan posisinya
“Ya mau wawancarain tu mbak-mbak la”
“Ogah ah,” muka Salsa pucat “lo aja sendiri. Gue nunggu di sini”
“Lo gak kenapa-napa nunggu di sini sendirian?”
“Justru kalau gue ikut lo ke sana gue malah kenapa-napa. Mending gue di sini aja dech, sekalian nyari-nyari inspirasi apa yang mau gue riset.”
“Ya uda, gue ke sana dulu ya..” Rena pergi ke arah mbak-mas itu.

Salsa menunggu Rena di tempat mereka mengintai tadi. Matanya tertuju ke depan, namun telinganya  masih dapat menangkap dialog Rena dengan makhluk yang menjadi pobia-nya itu. Rena mulai memperkenalkan diri. Memperlihatkan identitas diri dan surat ijin dari Pak Radit untuk melakukan riset ini. Dan mulailah meluncur pertanyaan demi pertanyaan.

Di saat itulah, saat matanya tertuju kedepan itu, walaupun pandangannya terhalang sesekali oleh mobil yang berseliweran, dia melihat sesuatu yang agak menarik perhatiannya.

Agak menjorok ke dalam dari pasar besar, di arah menuju perkampungan kumuh, berdiri sebuah tenda. Tenda sederhana yang hanya terdiri dari terpal biru yang biasa dipakai oleh tukang angkut sayur di gerobaknya dan hanya di sangga oleh tiang dari bambu seperlunya. Di bawah tenda itu tersusun meja-meja dan kursi-kursi panjang-yang bisa diduduki oleh beberapa orang- yang sekarang dihuni oleh anak-anak yang berpakaian kumal. Dan di depan mereka, ada seorang pria seperti seorang guru, berdiri dan tampak menunjuk-nunjuk papan tulis sambil menjelaskan sesuatu.

Dia penasaran. Sambil berjalan hendak menyeberangi jalan, dia sedikit berteriak pada Rena “Re, gue ke sana bentar” katanya sambil menunjuk ke depan. Yang diteriaki cuma mengangguk sekilas karena dia sendiri pun sedang berkonsentrasi pada wawancaranya.

Dia berhasil sampai di seberang, dan segera melangkah mendekati tenda itu. Tapi gadis itu tidak langsung mendatangi tenda itu. Dia berdiri mengamati dari jarak yang cukup jelas untuk melihat ke sana dan tidak mengundang kecurigaan. Tiba-tiba ada seorang ibu separuh baya berjalan hendak melawatinya. “Pas, ada tempat untuk bertanya” pikirnya.
“Maaf buk, saya boleh nanyak?” Salsa langsung  menghentikan langkah si ibu begitu si ibu lewat di depannya.
“Mau nanyak ape neng?” Hwa, ternyata tu ibuk turunan betawi.
“Mmmm, itu kegiatan apa ya kalau boleh tau?”
“Oh ntu, ntu mah ude biyase tiap harinye begono. Anak-anak di mari pade belajar bace ame nulis.”
“Hari minggu juga?”
“Iye, tapi kayaknye kalau hari minggu pade ngegambar atau buat-buat ape gitu.”
“Kira-kira mereka ngumpul gitu jam berapa ya buk?”
“Biyasenye sih sebelum zuhur tu anak-anak ude pade bedatangan, soalnye sebelum belajar ntu guru pasti ngajak anak-anak shalat berjamaah di mushallah dekat situ.”
“Oh gitu, kalau gitu makasih ya buk” Salsa menanggapi sambil tersenyum sama si ibuk.
“Iye, same-same” Si ibuk pun menyahut sambil berlalu.

Salsa masih senyum, “Nice!!” serunya dalam hati. Dan dengan langkah riang, dia kembali ke tempat dimana dia menunggu Rena tadi. Dan sekarang ganti Rena yang menunggunya.
“Uda siap wawancaranya Re?” Salsa langsung bertanya pada Rena begitu dia berhasil menyeberang kembali.
“Uda. Besok gue tinggal ngikuti kegiatannya dia, sambil dokumentasi beberapa yang perlu. Habis itu gue bisa langsung nulis essay-nya.” Rena menjelaskan “Lo sendiri gimana? Kayaknya cerah banget ni, uda dapat inspirasi ya?” Kali ini Rena menebak sambil senyum.
“Hehe. Emang uda”
“Apaan?” Tanya Reena penasaran
“Lo liat dech Re, ke seberang jalan situ.”

Rena menajamkan penglihatan. Dilihatnya ke arah yang ditunjuk Salsa. Dan karena memang Rena gak rabun, tentu saja yang dilihatnya sama persis seperti yang diamati Salsa tadi.
“Pondok belajar anak-anak jalanan itu?” Rena mengernyitkan dahi, Salsa mengangguk. “Bukannya tema kayak gitu uda biasa banget ya Sa?”
“Kalau temanya uda biasa, tapi cara mengamati, meriset dan nulisnya jadi essay dengan cara yang berbeda, hasilnya jadi gak biasa kan?” Salsa meyakinkan Rena
“Iyah, kalau elo yang ngamati, ngeriset dan nulis essay-nya hasilnya memang bakal jadi gak biasa. Jadi makin hancur dari kebanyakan orang yang uda nulis itu, gitu kan maksud lo?”

Dug!!
Satu jitakan telak dari Salsa singgah di kepala Rena. Rena cuma bisa meringis karena kesakitan, tapi sambil cengar-cengir. Senang juga dia karena berhasil menggoda Salsa, temannya dari jaman masuk SMP dulu.
“Tega lo sama temen sendiri” tampang Salsa mulai memprihatinkan.
“Ouuu, cup cup. Maaf dech Sa. Jangan patah semangat gitu donk. Gue gak maksud koq nyurutin semangat lo. Gue bakal nge-dukung apa pun yang bakalan lo lakuin asal itu bener. Okey?” Rena membujuk Salsa “Keep Smile!”

Selalu ada maaf untuk teman. Seberapa besar pun kesalahannya, selalu ada celah yang membuat kita tidak tahan berlama-lama mendiamkannya. Walaupun kadang dia menjengkelkan, tapi justru dia yang menghadirkan tawa dalam hidup kita. Menyeka air mata kita, memberi semangat saat kita jatuh, dan menawarkan sejuta bantuannya saat kita terpuruk.
“Iyah deh. Besok kita ke sini lagi kan?” tampang memprihatinkan Salsa mulai hilang dan perlahan digantikan oleh senyum.
“Jelas donk. Gue juga kan belum siap seluruhnya riset tentang mas-mas itu. Lagipula gue kan mesti nemenin lo buat nyiapin riset lo.”
“Lo manggil dia mas-mas? Gak mbak-mbak lagi? Emang dia gak marah?”
“Dia bukan beneran banci lagi Sa, dia gitu cuma waktu ngamen doank. Lo tau gak, ternyata dia itu uda mahasiswa. Dan dia ngamen buat nutupi kekurangan kiriman orang tuanya di kampung tiap bulannya. Katanya sich, kalau dia ngamen bentuknya dalam wujud asli alias cowok, orang-orang pada nyangka kalau di itu copet di balik topeng pengamen. Makanya dia dandan gitu. Terus katanya lagi nih, hasilnya lumayan juga, soalnya orang-orang pada ketawa kalau liat dia lagi show, haha” Rena semangat banget dengan ceritanya.
“Menarik juga cerita tu orang.” Salsa bergumam “Pulang yuk Re, uda hampir jam tiga nih. Ntar lo dicariin ibuk kost lo lagi.”
“Ya udah yuk”

Mereka berdua jalan ke arah dimana motor Salsa mereka parkirkan. Tanpa banyak kata-kata lagi, Salsa memacu sepeda motornya dengan Rena di boncengan. Jilbab keduanya melambai-lambai terkena tiupan angin.

Salsa terlebih dahulu mengantar Rena ke kost-annya. Setelah beramah tamah sebentar dengan ibuk kostnya Rena, dia melanjutkan memacu motornya ke arah  rumahnya yang cuma berjarak satu kilometer dari kost-an Rena.
***

Seperti siang kemarin, sepulang sekolah dan terlebih dahulu menyempatkan diri shalat zuhur di mushallah sekolah, kedua gadis itu kembali lagi ke daerah lampu merah itu. Rena-seperti rencananya kemarin- mengikuti mas-mas yang berdandan norak itu. Sementara Salsa kembali lagi ke pondok belajar itu. Tidak seperti kemarin yang hanya mengamati, hari ini dia mendatangi pondok belajar itu. Tapi tidak ada seorang pun di sana. Hanya ada buku-buku lusuh dan pensil di atas meja-meja, Koran-koran yang belum terjual bersama dagangan asongan di sudut-sudut tenda.
“Mungkin lagi shalat” Salsa meyakinkan diri sendiri dalam hati “tunggu aja dech”. Dan benar saja tak lama kemudian terdengar langkah kaki beberapa orang diiringi dengan celoteh anak-anak. Mereka tampak terkejut melihat kedatangan Salsa. Beberapa bahkan bertanya pada pria yang dianggap Salsa guru anak-anak itu, “Kak, itu siapa?” Salsa tersenyum menanggapi kebingungan mata-mata di depannya itu.
“Kalian duduk dulu ya di kursi masing-masing” anak-anak itu menurut pada guru mereka.
“Sebentar mbak” Kemudian dia mengajak Salsa agak menepi.
“Kalau boleh tau…”
“Saya Salsa Nur Atifah” Salsa memotong perkataan laki-laki itu dengan memperkenalkan diri tapi tanpa mengulurkan tangan. Dia yakin laki-laki di hadapannya itu takkan tersinggung dengan yang dilakukannya, karena dia juga yakin laki-laki ini paham dengan hal yang seperti itu, terbaca dari wajahnya yang bercahaya.
“Saya Al Ghiffary”
“Mmmm, Saya dari SMA Pendiri Bangsa” Salsa menunjukkan KTS-nya
“Saya percaya koq, keliatan dari simbol kamu” Al menunjuk lengan kanan Salsa sambil tersenyum “Itu kan sekolah-nya famous banget”

Salsa senyum, sambil menarik kembali KTS-nya. “Ngg, gini, sebagai tugas akhir semester genap angkatan saya dapat tugas dari guru sosiologi kami mengenai riset tentang jenjang sosial. Dan saya kebagian tema human trafficking. Jadi….”
“Jadi kamu mau riset pondok belajat dan anak-anak ini?” Sekarang ganti Al yang memotong perkataan Salsa.

Salsa hanya mengangguk. “Huft…..untung dia ngerti, jadi gak capek-capek ngejelasin” Salsa bersyukur dalam hati. “Ini surat ijin dari guru dan sekolah” Salsa berkata sambil menyerahkan kertas yang dibagikan oleh Pak Radit di hari dia memberikan tugas itu. Al mengangguk-angguk pelan.
“Oke, kamu boleh mengamati kegiatan kami di sini sampai essay kamu selesai” Al cepat tanggap membaca isi surat itu
“Makasih” Salsa tersenyum lega dan puas. Al melanjutkan tugasnya seperti biasa, menjelaskan pengetahuan-pengetahuan umum pada anak-anak jalanan itu dan menjelaskan lebih men-detail bila ada yang bertanya. Disamping itu, dia masih harus membimbing anak-anak yang masih buta huruf. Baik itu buta huruf latin maupun buta huruf hijaiyah.

Sementara Salsa mengeluarkan note dan kamera digital yang dipinjamnya dari mas Adit, kakak laki-laki Salsa satu-satunya. Dia mencatat hal-hal yang dianggapnya perlu, pantas diingat dan pantas diikutsertakan dalam essay-nya nanti. Sesekali dia mengabadikan cara anak-anak itu belajar dengan kameranya, ketika mereka mengacungkan tangan untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan dari Al, saat wajah-wajah kebingungan mereka muncul ketika ada yang tidak dipahami dan tidak dapat dicerna seluruhnya oleh otak anak-anak mereka dan lain sebagainya.

Hari menjelang sore. Anak-anak itu mulai memberesi buku-buku lusuh mereka dan juga barang-barang dagangan mereka. Tak lama kemudian, anak-anak itu sudah benar-benar bubar, ada yang sepertinya kembali ke rumah ada juga yang melanjutkan menjajakan dagangannya lagi atau melanjutkan mengamennya. Tinggal Al dan Salsa di pondok belajar itu.
“Gak bosen cuma liatin kami sambil nulis dan moto-moto doank?” Al membuka suara
“mmmm, hehe, sebenernya sich iya, bosen” aku Salsa malu.
“Kenapa besok gak nyoba aja ngajari mereka?”
“Ide bagus!!” sahut Salsa senang, tapi sedetik kemudian ada nada keraguan “eeehh, emang boleh?” tanyanya takut-takut
“Ya jelas boleh la,” Al senyum “Kamu liat kan aku cuma sendiri ngajari mereka, pasti bakalan bekurang repotnya kalau kamu bantuin, hehe. Walaupun ya cuma beberapa hari ini”
“Aku dijadiin azas manfaat donk?” Salsa cemberut
“Haha, ya gak la. Kamu nanti bisa nulis bagian ini di essay kamu. Jadi untung buat kamu juga kan?”
“mmmm, iya uga sich. Hehe, thanks ya, itu saran bagus banget” Salsa cerah kembali “by the way, kita pake aku-kamu nih, gak saya-saya’an lagi?”
“Kenapa?” Al tersenyum geli
“Kayaknya kamu lebih tua dari aku, gak sopan kan kalau kamu-kamu’in yang lebih tua”
“Emang aku setua itu apa, haha. Panggil kakak atau mas juga boleh dech”

Suasana mencair, Al lalu bercerita kalau dia mahasiswa jurusan psikologi tahun pertama, yang berarti baru aja menuntaskan masa-masa SMA-nya tepat saat Salsa baru merasakan masa-masa yang dirasakan Al dulu. Lalu tentang dia yang mengajari anak-anak tiap hari, bagaimana awalnya dia tertarik mengabdikan diri di sini, bagaimana dia menyesuaikan waktu kuliahnya dengan waktu mengajari anak-anak itu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Salsa sendiri heran mengapa dia bisa ngobrol sedekat ini dengan Al. padahal dengan mas-nya sendiri aja-yang umurnya gak jauh beda dari Al- dia gak pernah seperti ini.

Obrolan mereka memang dekat tapi bukan berarti jarak mereka duduk juga dekat. Al duduk di bangku terdepan yang dianggap oleh anak-anak jalanan itu bangku guru mereka, sementara Salsa duduk di kursi deretan kedua dimana anak-anak yang barusan bubar tadi belajar. Sejak awal Salsa memang sudah yakin seperti apa Al.

Di saat mereka ngobrol, dan sesekali Salsa bertanya tentang risetnya, Rena muncul. “Assalamualaikum” katanya
“Wa alaikum salam wa rahmatullah” Salsa dan Al menjawab serempak.
“Uda kelar Re?” Salsa bertanya
“Alhamdulillah uda, lo gimana?” Rena balik bertanya
“Kayaknya gue butuh waktu dua hari lagi buat ngamati di sini, sekalian bantu-bantu kak Al ngajari anak-anak”

Rena mengerutkan dahinya.
“Oh iya, gue lupa” Salsa cengengesan “Re, ini kak Al. Yang tiap harinya ngajari anak-anak disini. Kak, Ini Rena sahabat aku dari SMP, kebetulan kita dapat tema yang sama” Rena menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum, begitu juga Al.
“Emang biasanya ngajari anak-anak itu selalu sendirian ya mas?” Tanya Rena
“Gak, biasanya gantian sama temen. Namanya kang Rahman, Tapi ini lagi gak bisa masuk istrinya baru melahirkan” Rena ber-ooh.

Tanpa terasa waktu menjelang Ashar. Rena dan Salsa segera berpamitan pada Al. Seperti kemarin, Salsa mengantar Rena terlebih dahulu baru kemudian lanjut ke rumahnya.
***

Hari ini Salsa datang lagi ke pondok belajar itu, tapi ditemani Rena yang riset-nya telah selesai. Setelah shalat berjamaah, proses belajar di mulai seperti biasa. Tapi hari ini anak-anak itu lebih bersemangat. Karena Salsa dan Rena membawa banyak buku-buku bacaan. Walaupun tidak baru, setidaknya buku-buku tersebut masih layak di pakai.

Salsa terharu, agak teriris juga hatinya melihat anak-anak itu begitu senang menerima buku darinya. Tampak bersyukur meskipun yang didapat bukanlah buku baru. Sementara dirinya yang setiap bulan pasti mendapatkan koleksi buku baru-karena Ayah Salsa punya kantor penerbitan buku sendiri- merasa biasa-biasa saja. “Makasih ya kak” tak putus-putus anak-anak itu berterimaksih pada Salsa dan Rena, diiringi dengan senyum tulus.

Sesuai dengan obrolan Salsa dengan Al kemarin, hari ini Salsa membantu mengajari anak-anak. Dia mengajari anak-anak yang belum pandai membaca dengan huruf latin. Sementara Rena yang bacaan Al-Qur’annya dianngap Salsa lebih fasih daripada dirinya sendiri, dibujuk Salsa agar mengajari anak yang belum pandai membaca dengan huruf hijaiyah. Tentu saja Rena senang. Setiap ada kesempatan dakwah, mengajari yang baik, Rena tak pernah ketinggalan. Mungkin itulah sebabnya teman-teman dan kakak-kakak kelas banyak yang memilihnya untuk menjadi ketua rohis.
“Kak, kenapa kakak nutupi kepala pake kain gitu?” Tanya seorang anak perempuan berambut ikal pada Salsa dan Rena.
“Ini ajaran agama kita sayang. Wajib hukumnya bagi setiap muslim memakai jilbab” Rena menjawab dengan senyum
“Ibaratnya gini, kamu  punya mainan yang berharga dan indah, pasti kamu gak mau setiap orang bebas memainkannya, karena nanti bisa kotor, hilang atau sebagainya. Tapi bukan berarti pelit ya sayang. Kita cuma mau menjaga apa yang seharusnya kita jaga dari orang banyak. Mungkin sekarang kamu belum ngerti sepenuhnya, tapi nanti lama-kelamaan kamu akan ngerti sendiri.” Sambung Salsa dengan senyum juga
“Aku juga mau pake jilbab” anak perempuan tadi menyahut
“Aku juga”
“Aku juga” anak-anak perempuan lainnya ikut menyahut
“Subhanallah” Salsa dan Rena takjub sendiri dalam hati
“Tapi…” anak perempuan yang bertanya tadi mendadak sedih “kita gak punya baju panjang dan jilbab seperi itu kak
“Kalian mau pakai jilbab aja itu sudah bagus.” Senyum Rena makin mengembang “Insya Allah besok kakak bawakan baju yang layak untuk kalian pakai ya”

Anak-anak perempuan itu bersorak kegirangan. Salsa dan Rena ikut bahagia. Memang kebahagiaan itu akan lebih bermakna, jika kita membaginya dengan orang lain. Bisa tersenyum bersama bahkan bisa lebih disyukuri daripada dapat undian mobil Avanza tapi hanya tersenyum sendirian. Diam-diam Al pun ikut tersenyum menyaksikan kejadian itu.
***

Esoknya, sesuai janjinya kemarin, Rena membawa pakaian muslim anak-anak satu dus besar di tambah satu kantong plastik yang berukuran agak besar juga berisikan jilba-jilbab. Bukan hanya anak perempuan saja yang kebagian, tapi anak laki-laki juga.
“Dari mana baju sebanyak itu Re” Salsa bingung sendiri
“Hehe, semalam kan Ummi gue nengokin gue ke sini. Nah, malamnya itu gue telpon dulu, bilang kalau lagi butuh baju muslim anak buat dibagi-bagiin. Kebetulan kemarinnya itu habis ada yang donor baju banyak banget, uda dibagi-bagiin ke seluruh anak panti masih belebih, Ya uda deh jadi disalurin ke mari.” Senyum Rena mengembang

Ummi-nya Rena memang mendirikan sebuah panti asuhan disamping rumah mereka. Kadang Salsa berpikir, pantas saja rejeki mereka selalu mengalir, karena mereka memelihara anak yatim.

Karena hari ini hari terakhir yang dijadwalkan Salsa sebagai waktu risetnya, dia seperti tak ingin melewatkan sedetik pun kejadian di pondok belajar ini. Dia mengambil gambar semakin banyak dari biasanya, jarang mengedipkan mata dan selalu memekakan diri terhadap anak-anak yang butuh bantuan.
“Kamu boleh koq ke sini lagi walaupun gak dalam rangka riset lagi, kami gak akan menolak kamu maupun Rena. Malah kami bersyukur karena pondok ini semakin ramai karena ada kalian” Al seperti bisa membaca setiap gerakan Salsa. Dikatakannya kalimat itu ketika anal-anak sudah bubar
“Beneran??” mata Salsa berbinar dan di bibirnya terukir senyum. Al mengangguk. “Makasih ya” sambung Salsa lagi.
“Aku juga makasih ya sama kamu sama Rena juga. Uda bikin anak-anak ceria dalam beberapa hari ini” ucap Al tulus, sekarang gantian Salsa mengangguk.
“Kita pulang sekarang Sa?” Rena yang baru dari kamar kecil muncul dan bertanya tiba-tiba
“Mmmm, boleh. Yuk…” Salsa bangkit dari duduknya “Kak, kita pulang dulu ya, mungkin besok kita belum bisa ke sini, karena besok pengumpulan tugasnya”
“Iya, gak papa. Berarti nanti malam donk nyusun essay-nya. Good luck ya” lagi-lagi Al tersenyum tulus. Salsa mengangguk lalu mengucap salam dan berlalu bersama Rena. Sesaat rasa sepi membayangi Al.
***

Seperti yang dikatakan Al, malam ini Salsa menyusun essay nya, diikutsertakannya juga foto-foto yang diambilnya beberapa hari ini. Karena tugas kali ini berbentuk essay, Salsa bebas menuangkan apa yang dirasakannya selama tiga hari yang membuatnya lebih bersyukur akan hidupnya itu. Sementara Rena, essay-nya sudah selesai dari kemarin.

Pak Radit sangat puas dengan hasil riset kedua gadis itu. Dia berniat berkunjung ke pondok belajar yang ditulus Salsa dalam essay-nya. Dan niat itu tak lama-lama hanya berkumandang di mulut saja, karena besoknya ditemani kedua gadis itu, Pak Radit berkunjung ke pondok belajar Al. Dia membawa banyak coklat, coklat yang hanya dibagikan untuk anak-anak yang berani berbicara di depan kelas. Dan juga banyak buku-buku bacaan.

Menjelang Ashar, Salsa dan Rena pamitan. Sebelum mereka benar-benar pergi, Al memanggil Salsa “Sa, boleh minta nomer handphone kamu? Aku pengen belajar dari kamu gimana caranya membagi kebahagiaan dengan orang lain, kayak kamu bisa bikin bahagia anak-anak itu” Salsa senyum, disebutkannya sederet nomor ponsel.

Perjalanan Salsa pulang ke rumah, di lihatnya sore ini lebih cerah dan indah dari sore-sore yang kemarin. Tak henti-hentinya dia tersenyum. Begitu juga dengan Al. Salsa membayangkan setelah ini hari-harinya akan terisi oleh celoteh anak_anak di pondok belajar itu, juga…. Senyuman tulus Al.

menebar kedamaian

0 komentar

MENEBAR KEDAMIAN

Baru kali ini selama 5 tahun perkawinannya, Astiti benar-benar tidak mengerti dengan tindakan Iwan suaminya. Iwan, seorang lelaki yang alim dan sholeh membuat keputusan untuk mengontrak rumah di daerah yang lingkungannya benar-benar tidak "bersih". Sejak dipindah tugas oleh kantornya di daerah ini, maka mau tidak mau kami harus mencari kontrakan lagi di daerah yang dekat dengan kantor suaminya. Untuk bertahan tinggal di tempat dulu, rasa-rasanya tidak mungkin lagi karena gaji suaminya akan ludes hanya untuk transport dan lagi jaraknya cukup jauh.

Sebenarnya rumah yang akan mereka tempati nanti sangatlah ideal, dan lagi harga sewanya yang cukup murah untuk rumah se type ini, sepetak rumah ukuran 100 meter persegi ditambah pekarangan yang mengelilingi cukup luas. Tempat seperti ini tidak pernah dijumpainya pada "rumah-rumah" nya terdahulu.Tetapi hanya satu yang membuat Astiti tidak suka, yaitu lingkungan sekitarnya yang amat sangat tidak mendukung. Di ujung gang masuk terdapat warung temapt berkumpulnya pemuda-pemuda yang suka mabuk. Kalaulah sudah malam hari suara "genjrang-genjreng" irama musik sangat memekakkan telinga ditambah lagi lingkungan tetangga di daerah ini sangat tidak familiar menurut Astiti. Atau mungkin melihat penampilan Astiti yang lain dari kebanyakan wanita disini dengan menggunakan kerudung yang selalu menutup auratnya. Juga satu lagi yang membuat Astiti paling tidak suka adalah di gang sebelah terdapat sebuah rumah "bordil" sarang maksiyat. Kata orang-orang di sekitar sini rumah bordil tersebut tanpa ijin Pemda setempat alias beroperasi secara gelap tetapi tergolong besar. Tetapi Astiti tidak perduli, mau gelap kek terang benderang kek kalau yang namanya sarang maksiyat tetap saja berdosa, dan sampai saat ini Astiti tidak pernah dan tidak akan mau melihat atau melewati gang sebelah. Ihh Astiti bergidik... Naudzubillahi min dzalik.

"Ada apa dek..kok melamun terus sih...udah selesai belum membongkar kotaknya ?" Teguran mas Iwan membuyarkan lamunan Astiti. "Hhemmm...mana bisa beres sih mas dalam waktu singkat" jawab Astiti dengan ogah-ogahan. "Yaaa..mana bisa cepat selesai kalau sama ngelamun begitu...ada yang bisa di bantu dek..?" tanya Iwan ramah. "Banyak sih kalau mau bantu..... itu kotak-kotak di ruang tamu sama sekali belum aku bongkar, kotak yang sudah dibongkarpun belum sempat aku bereskan " Jawab Nastiti agak meninggi..entah karena letih atau hatinya kurang sreg tinggal di rumah baru ini. "Ya sudah sini biar mas bantu..pokoknya tanggung beres deh.." Iwan menyahut dengan sabarnya. Memang kalau Astiti sudah terlihat bersungut-sungut terus pertanda hatinya diliputi perasaan kesal dan kalau sudah begitu Iwan tidak akan menanggapi...percuma kalaupun ditanggapi pun nantinya akan meletuplah pertikaian-pertikaian kecil.

Walaupun sudah sepekan mereka boyongan ke rumah baru tersebut, tetapi Astiti masih malas membongkar kardus-kardus barang dan segera merapihkannya. Bahkan ada bebrapa kardus memang sengaja tidak di bongkar olehnya. Karena Astiti berharap kepindahan di rumah ini tidak akan lama. Dan ia berharap Iwan segera dipindah lagi tugas kantornya ataupun kalau tidak mereka menemukan rumah kontrakan lagi yang lebih indah lingkungannya.

Enggan pula Astiti untuk melakukan silaturahim dengan tetangga kanan kirinya. Pikirnya percuma saja diajak menuju kebajikanpun susah akan berhasil. Alhasil selama ini Astiti hanya mengurung diri dan anak-anaknya di dalam rumah saja. Pertama yang ia takutkan adalah banyaknya "virus-virus" yang akan menggerayangi anak-anaknya, apalagi Abdullah sudah berusia 3 tahun dan Ahmad 1 tahun akan mudah sekali meniru apa yang dilihat dan didengar Entah apa omongan para tetangga yang beredar Astiti tidak mau tahu. Bahkan Astiti pun melarang mbok Yem khadimat yang telah menemaninya semenjak ia anak-anak untuk tidak bergaul terlalu dekat dengan tetangga sekitar.

Semenjak Astiti kecil memang dilahirkan dalam lingkungan yang bersih, dan tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikirannya tinggal di daerah seperti ini. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di lingkungan pesantren, karena Ayahnya termasuk pengajar pesantren. Kemudian ketika menginjakkan kakinya di bangku perguruan tinggi, teman-temannya banyak sekali orang-orang yang aktif dalam kajian keislaman dan Astitipun meleburkan diri dalam aktifitas tersebut. Bahkan setelah menikah dengan Iwan tempat tinggalnya tak jauh dari pusat pendidikan Islam yang besar sehingga lingkungan sekitarnya banyak sekali para keluarga Islami yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut. Jadi selama ini Astiti selalu tinggal di daerah yang bersih dan terisolasi dari virus yang merusak iman.
*******

Siang itu Astiti pulang dari belanja dan seperti biasanya ia naik mikrolet. Ketika turun dari mikrolet tiba-tiba terdengar celetukan orang dari dalam. "Ehh..nggak nyangka pake jilbab turunnya di warung mang Dirun.." Deg...Asititi terhenyak mendengar celetukan salah seorang penumpang di mikrolet. Ternyata warung mang Dirun tempat berkumpulnya para pemuda berandalan itu terkenal akan kejelekannya. Perasaan Astiti jadi tak menentu.Sesampai dirumah ia menangis menjadi-jadi. Semakin tak betahlah Astiti tinggal di daerah ini. Kesal juga ia tujukan kepada Iwan suaminya, mengapa begitu teganya memilihkan tempat tinggal di lingkungan ini untuk keluarganya. Malam hari sepulang Iwan pulang dari kantor, Astiti menguraikan perasaan yang menggumpal di dadanya. "Mas...kok begitu tega memilihkan tempat tinggal di daerah ini buat kita" tanya Astiti "Emangnya..kenapa to dek..dek..bukannya dimanapun di Bumi Allah itu sama" timpal Iwan " Lho bagaimana sih Mas Iwan ini, lha dekat tempat maksiyat kok ya di jadikan alternatif tempat tinggal...emang nggak ada tempat kontrakan lagi yang lebih baik.." "Ada sih dek tapi itu di perumahan elite seberang jalan, kalau dek Asti mau tinggal di sana gaji Mas nggak cukup..maaf ya dek" canda Iwan. "Mas Iwan sih enak, pergi pagi ke kantor pulang sudah menjelang maghrib, sedangakan aku... mas yang disini sepanjang hari sudah tidak betah melihat berbagai kemaksiyatan di depan mata" Astiti semakin kesal saja dengan Iwan yang masih bisa bercanda padahal ia sudah gondok sekali. "Sebenarnya sebelum Mas putuskan untuk memilih tempat tinggal disini, sudah putar kesana kemari mencari kontrakan. Ada yang di gang samping kiri itu rumahnya kecil sekali hanya ada satu kamar tetapi kontrakannya 2 kali lipat di sini. mas juga heran dek mengapa harga kontrakan rumah ini begitu murah.. Menurut pak RT, karena yang menempati rumah sebelum kita ditemukan bunuh diri dengan gantung di pohon mangga di pekarangan. Hemm apa itu yang membuat dek Asti takut tinggal disini..."tukas mas Iwan "Masya Allah mas...biarpun ada seratus demit, jin dan sebangsanya mengganggu kita ..Insya Allah aku nggak takut mas.." "Bener nih.." selidik mas Iwan. "Rasulullah kan bersabda apabila hendak mencari tempat tinggal, kita juga harus melihat tetangga kiri kanan alias kita juga harus memperhatikan lingkungannya.." timpal Astiti. "Lalu de Asti mau apa...mau pindah, atau mau tinggal di rumah bapak ..." tanya Iwan dengan sabarnya. Astiti terdiam seribu bahasa. "ya..memang idealnya rumah yang akan ditempati memang seperti demikian. Tetapi kalau kondisinya seperti ini bagaimana dek...Lagian Mas sudah membayar uang kontrakan selama setahun, sayang khan kalau kita sudah keburu pindah.."Iwan menjelaskan. Astiti tetap berdiam saja. "Sabar dulu ya dek...Insya Alloh ini merupakan ujian bagi kita. Dimanapun juga kita tinggal yang namanya ujian itu pasti ada dari Alloh. Nah itu artinya kita sebagai orang beriman karena Alloh mendatangkan ujian buat hambanya..." jelas Iwan, "Tinggal bagaimana kita bisa melaksanakan ujian ini atau tidak, artinya kita dapat tinggal di daerah ini tanpa kita teracuni, dan yang terpenting bagaimana kita dapat ber'amar ma'ruf nahi munkar terhadap tetangga.."

Kalau sudah begini Astiti sudah tidak dapat mengelak lagi argumen Iwan, karena yang dikatakannya memang ada benarnya. Tinggal bagaimana Astiti menterjemahkan kata sabar dalam kehidupannya sekarang ini. memang benar-benar harus sabar karena tidak terdengar suara adzan Duhur , Asar serta isya', sebagai gantinya terdengar nyanyian musik dangdut. Hanya terdengar adzan Maghribdi surau yang amat sangat kecil dan jarang dipenuhi jamaah.
******

Siang ini terjadi sebuah insiden kecil di dapur Astiti. Rupanya mbok Yem terburu-buru memasukkan minyak di dalam kompor dan minyak berceceran kemana-mana, sehingga ketika akan dipakai kompor tersebut meledak dan menimbulkan suara keras. Astiti yang baru saja menyelesaikan shalat duhur di kamar menjadi panik. Ia langsung menyambar Ahmad dan Abdullah yang sedang tertidur lelap. Mereka berdua merupakan kekayaan yang paling berharga buatnya di dunia ini. Dan segera memerintahkan mbok Yem segera pergi. Terlihat tangan mbok Yem sebelah kiri agak melepuh. mungkin sedikit terkena jilatan api. Keluar rumah Astiti langsung berteriak minta tolong, segeralah berdatangan para tetangga untuk menolongnya. Sedangkan dari arah warung mak dirun, para pemuda yang biasanya berkongkouw-kongkouw langsung masuk ke rumah Astiti, sekitar lima belasan orang pemuda masuk dan segera membantu memdamkan api yang menjilat dapur Astiti. Tampak semangat sekali mereka. Ada yang mengambil air di sumur, ada yang menyemprotkan air dari keran, ada yang mengambil pasir untuk disebarkan ke arah api.

Sedangkan Astiti bersama dua anaknya dan mbok Yem berada di rumah mbak Marni tetangga sebelahnya. Mbak Marni mengambilkan air putih untuk Astiti, dan mbak Lastri tetangganya pula membantu meredakan tangis Ahmad yan kaget melihat kejadian di rumah nya. "Bu Iwan...sabar ya bu...ini air putih ayo diminum dulu, ayo mbok Yem di minum juga " suruh mbak Marni. "Terima kasih ya mbak Marni" ucap Astiti lirih. Pada saat genting seperti ini Ia hanya pasrah kepada Allah saja. "Bu..kalau api belum bisa padam nanti bisa tidur di rumah saya saja, kasihan anak-anak" ajak mbak Marni. Astiti hanya bisa mengiyakan, di dalam hatinya hanya berdoa agar api tidak menjalar kemana-mana.

Suasana jalan di rumahnya, siang ini benar-benar ramai sekali. Tetangga-tetangga Astiti bahu membahu memadamkan api yang ada di rumah Astiti. Alhamdulillah tidak sampai setengah jam api berhasil di padamkan, berkat kerja keras para warga dan juga bantuan pemuda-pemuda itu yang berani memadamkan api sehingga jilatannya hanya sampai dapur saja. Itupun hanya daerah di sekitar kompor saja yang terkena, barang-barang lain di dapur dapat diselamatkan.
******

Kejadian siang itu, telah membuka hati Astiti. Ternyata para pemuda yang selama ini amat dibencinya, telah membantu keluarganya untuk memadamkan api. Ternyata mbak Marni tetangga sebelah rumah, yang bekerja pada malam hari, dan sempat membuat Astiti menjadi tak suka telah banyak membantunya. Ternyata mbak Lastri, mbak Mur, mbak Rini yang sering berdandan menor juga membantu Astiti dengan suka rela. Ternyata bu Dedeh, bu Jali, bu Anom yang sering terlihat oleh Astiti ngerumpi di mana-mana mambantunya pula....
Dari kejadian ini Astiti segera tersadar bahw sebenarnya mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang baik, tetapi mungkin tidak ada yang mengarahkan jadilah masyarakat seperti ini. Selama ini ternyata ber amar ma'ruf nahi munkar yang Astiti terima hanya sebatas konsep-konsep belaka dan belum pernah dipratekkan dalan kehidupan sehari-harinya.

Kemudian segera Astiti mendiskusikan dengan Iwan suaminya bagaimana cara-cara berdakwah di lingkungan seperti ini. Tentu saja Iwan senang sekali mendengar penuturan dan semangat Astiti. Akhirnya mereka berdua membagi tugas, stiti mencoba mendekati para ibu dan anak-anak sedangakan Iwan mencoba mendekati para pemudanya. Di sela-sela kesibukan yang menumpuk, mereka berdua mencoba mengimplementasikan konsep dakwah yang pernah dipelajari.

Pertama-tama yang dilakukan Astiti adalah mencoba mendekati anak-anak kecil. Astiti mengundang sekitar 30an anak -anak seusia 4 tahun sampai 7 tahun dengan alasan syukuran.Dibuatkan kantng-kantong kecil berisi permen dan biskuit. Permainan anak-anak yang meriah di pekarangan rumahnya yang cukup luas dibuatnya. Kalau sudah begini Astiti bersyukur sekali mempunyai pekarangan rumah yang cukup luas.Setelah capai bermain, anak-anak diajaknya berkumpul untuk dicoba mengetahui hafalan surat dan sedikit pengetahuan tentang agama. Cukup shock juga Astiti terhadap anak-anak seusia tersebut ternyata tidak hafal dengan surat Al Fatihah. Tetapi lagu-lagu dangdut mereka cukup fasih melantunkannya.

Sekarang kalau sore hari, anak-anak banyak yang bermain di pekarangan rumah Astiti. Sekarang mereka tidak takut terhadap sosok Astiti, yang menurut mereka dahulu terlihat amat galak. Astiti tersenyum sendiri. Lama-lama anak-anak yang suka bermain di pekarangan rumah diajak untuk shalat Maghrib berjamaah dengannya, tentu saja hal ini merupakan sesuati yang baru bagi anak-anak itu. Tetapi mereka menyambut dengan senang. Kemudian dilanjutkan dengan belajar mengaji.

Semakin lama jumlah anak-anak yang sering menyemarakkan rumah Astiti bertambah. Kalau dulu hanya sekitar 10 orang, sekarang berjumlah sekitar 25an anak. Kadang Astiti semakin kewalahan karena banyaknya. Dan ia sekarang dipanggil ibu Haji oleh anak-anak itu, ia hanya meng amin kan mudah-mudahan terkabul cita-cita mulia ini.

Sambutan positif ternyata juga bergaung pada ibu anak-anak tadi. Ibu-ibu di lingkungan ini ada yang meminta tolong agar Astiti mengajarkan membaca Alquran. Tentu saja kesempatan emas ini tidak disia-siakan olehnya. Tersebutlah nama mbak Marni, mbak Lastri, mbak Mur, bu Dedeh, bu Anom dan ibu- ibu lainnya menyemarakkan rumah Astiti untuk belajar membaca Alqur'an dan juga di selingi oleh Astiti untuk mengajarkan Islam.

Iwanpun tak ketinggalan pula dalam mencoba beramar ma'ruf nahi munkar. Para pemuda yang sering berleha-leha di ujung jalan sering pula bertandang ke rumah.Mereka salut terhadap Iwan, karena Iwan yang berpendidikan tinggi mau bertutur sapa dengan mereka yang rata-rata pemuda putus sekolah dan pengangguran.

Sekarang pun jarang dijumpai para pemuda-pemuda itu ber mabuk-mabukan. Tetapi suara musik yang mereka nyanyikan kadang masih terdengar. Tetapi itupun pada hari Sabtu malam saja. Kini mereka dikoordinir oleh Iwan untuk mengerjakan suatu ketrampilan tertentu yang dapat menambah penghasilan. Jamaah di surau pun mulai ramai. Iwan berusaha menghidupkan aktifitas di surau tua itu. Sekarang suara adzan pun terdengar lima waktu berkumanadang.

Memang untuk merubah sesuatu secara frontal tidak semudah membalikkan tangan, tetapi butuh pengorbanan yang besar terutama kesabaran.Astiti dan Iwan berusaha untuk memutihkan daerah mereka yang dahulu hitam. Tentunya banyak juga halangan yang menimpa mereka. Tetapi mereka tetap optimis karena Allah lah yang menyertai mereka.

Ada lagi harapan dan cita-cita Astiti..yaitu mencoba memutihkan gang sebelah dengan lokalisasinya.Yaa tentunya cita-cita mulia ini Insya Allah akan ditegakkannya. Namun memang butuh waktu untuk itu semua. Allah akan bersama mereka...............

kisah disepanjang jalan

0 komentar

KISAH SEPANJANG JALAN

Cerpen NN
Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.

Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.

Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kakc". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesalc

Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.

Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.

Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.

Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama inic" bisikku perlahan.

Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.

Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.

Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.

Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....

Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.

Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...

Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.

semoga bermanfaat

KETIKA TAKDIR MENGUJI CINTA

0 komentar


Cerpen Rudi Al-Farisi

DUBRAK…” banting pintu kamar kost nya.
Hari yang melelahkan..” getar bibirnya pelan.

Sejurus ia langsung nyalakan AC kamarnya. ia campakkan tas kerjanya, ia rebahkan badannya..Wusss… angin sejuk langsung menampar tubuhnya. Ia lihat jam di dinding, masih jam empat, masih ada satu jam lagi. Ucapnya pelan.

Ia baringkan badannya dikasur, ia hendak istirahat sejenak sebelum berangkat kuliah, rencana hatinya. Karena baginya waktu sangat bermanfaat dalam hidupnya, aktivitasnya cukup sibuk, pagi ia bekerja, sore hari ia kuliah. Ia bekerja di sebuah perusahaan cukup besar di kota dumai itu, penghasilannya lebih dari cukup, maka dari itu, untuk sekolah adiknya, ia yang mengambil alih.
            Ti dit…ti dit…
            Tidurnya terganggu dengan dering HP nya.
Ada sms masuk, ucap batinnya. Ia baca’”
          
            Ass.. mas Irul.. sebelumnya aku
            Mohon maaf beribu maaf mas..
            Dalam keputus asaanku. Aku ingin
            Mengabarkan bahwa aku akan
            Menikah esok hari.
            Allah mentakdirkan lain.
            Doakan aku ya mas…

 Spontan ia kaget, ia bingung, ada apa yang terjadi dengan Luna. Tanya batinnya. Luna adalah pacarnya, cinta yang ia jalin hampir tiga tahun itu, tiba tiba hancur berkeping keping, tak tahu apa penyebabnya, padahal baru bulan kemaren ia mengunjungi Luna dan keluarganya. Semua berjalan lancar penuh dengan canda tawa.

Ia coba telpon, tenyata tidak aktif. Ia coba kembali, tetap masih nada yang sama. Ia bangkit dari kasurnya, semula jadwalnya hari itu hendak kuliah, sementara waktu ia batalkan dulu.

Hatinya masih risau dan bingung, sekejap mata ia langsung tancap gas menuju rumahnya Luna, dengan mengendarai sepeda motornya, ia melaju membelah jalan       dengan hatinya bertanya Tanya.

Ya Rabb… apa yang terjadi ya rabbi. Rintih hatinya bingung.
Di jalan, ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia ingin tahu segera, gerangan apa yang terjadi dengan pacarnya. Baru bulan yang lalu ia merencanakan bersama keluarganya luna untuk melamar Luna setelah kuliahnya selesai, hanya tinggal menunggu skripsinya selesai saja baru ia akan wisud
Setelah sampai didepan rumah Luna, ia langsung memarkirkan sepeda motornya, jarak rumah luna cukup jauh dari tempat kostnya,            Tok…tok…tok… assalamu’alaikum. Sapanya sambil mengetuk pintu. Ia tunggu sejenak, belum ada jawaban, ia ulangi tok..tok..tok…assalamu’alaikum..
            Wa’alaikum salam, pintunya terbuka, ternyata ibunya Luna,
Sore bu.. maaf menggangu.. Lunanya ada bu… sapanya ramah.
            Eh… nak irul, silahkan masuk dulu nak...jawab ibunya luna sambil mempersilahkan masuk. Terima kasih bu…
            Ia tatap wajah ibunya luna, ada kegelisahan dan kesedihan yang mendalam tergambar dari raut wajahnya, mukanya terlihat pucat melihat irul yang datang. Hatinya semakin bingung.
            Luna nya ada bu…? Tanya penasaran..
Ibunya luna diam menunduk sesaat… Lu..luna pergi ke pekan baru bersama ayahnya nak irul. Emang nak irul tidak diberi tahu luna..? jawab ibunya dengan getar bibir terbata bata.
            Justru itu bu.. aku ingin menanyakan perihal apa yang terjadi dengan luna,,? Tiba tiba aku mendapat sms dari luna…? irul menjelaskan maksud kedatangannya.
            Tiba tiba mata ibunya luna berkaca kaca dan menunduk diam sesaat. Ada kepedihan dalam batinnya, suasana ruangan itu menjadi hening, hati irul semakin bingung bercampur gelisah,
            Bu… apa yang terjadi dengan luna bu..? Tanyanya memecah keheningan.
Ma…maafkan kami nak irul.. maafkan kami.. takdir Allah lah yang berkuasa. Jawab ibunya luna dengan terbata.
            Sebenarnya..apa yang terjadi bu..?
            Ba…baiklah.. ibu coba menjelaskan semua, kami telah menerima kuasa takdir Allah, se..sebenarnya yang terjadi adalah bermula saat luna seminar di pekan baru. Dua hari setelah nak irul datang bulan kemaren kesini. Luna minta izin mengikuti seminar itu. Kampusnya luna mengirim utusan dua orang untuk mengikuti seminar itu. Luna salah satunya, seminar IPTEK itu diadakan pemko pekan baru. Ia berangkat bersama Indra teman kampusnya, indra adalah anak ketua yayasan kampusnya luna, seminar itu berlangsung dua hari. Kampusnya luna memberikan fasilitas dua kamar hotel untuk menginap. Tiba tiba suara ibunya luna terhenti dan tangisnya semakin menjadi jadi.
            Dengan perasaan gelisah hati irul menebak nebak apa yang terjadi.
Tenang bu..” sabar bu..
            Tangis ibunya luna diam sesaat, ia coba menerima realita yang ada, lalu ia melanjutkan,
            Sepulangnya luna dari pekan, wajah luna tampak pucat, kami coba menanyakan ada apa dengannya. Ia tak mau cerita, tetapi kami coba merayu dan memaksanya. Dengan hati menjerit dan berlinang air mata, ia menjelaskan,, bahwa ia .. bahwa ia … Dijebak dan DIPER**SA oleh indra. Tiba tiba tangis ibunya luna kembali meledak, air matanya mengalir deras, Ternyata…. indra telah lama menyukainya. ia mengetahui bahwa luna akan segera dilamar nak irul. Maka itu, dalam kesempatan adanya seminar itu, ia minta kepada

Hati irul pedih, langit seakan runtuh ia rasa. Matanya berkaca kaca, badannya kaku serasa lumpuh, bibirnya

Kami pihak keluarga telah sepakat untuk menikahkan luna dengan indra. Maafkan kami nak irul..maafkan kami….Ibunya luna mengakhiri penjelasannya.

Suasana jadi mencekam, hati irul seakan ingin meledak, wajahnya menunduk, ada yang menetes dari matanya. Ia tidak kuat untuk menahan perasaannya. Ia langsung pamit,,
Ass…assalamu’alaikum bu. Saya pamit, sampaikan salam tegarku buat luna. 
Dalam perjalanan pulang bibirnya terus bertasbih, hatinya remuk, matanya terus mengalirkan sesuatu. Pernikahan yang ia rencanakan gagal, wisuda yang ia tunggu tunggu sebagai awal puncak kesuksesan masa depannya, terasa tak bermanfaat lagi. Luna adalah  gadis cantik dan jelita, pujaan hatinya itu telah terbang dibawa seekor elang yang rakus tak bermoral.

Sesampainya dikamar kostnya. Ia menangis sejadi jadinya.. ia meratap kepada tuhannya, ia mohon diberi kekuatan dan ketabahan, ia larut dalam kesedihan, tiba tiba suara adzan maghrib berkumandang ia dengar. Panggilan tuhan merasuk dalam batinnya.

Dengan berlinang air mata ia mencoba tegar menghadapi kuasa Allah itu. Ia wudhu’, ia bentangkan sejadahnya, ia bertakbir.

Usai sholat, ia munajat kepada rabbnya. Ia bertafakkur, ia roboh bersujud dihadapan takdir Allah. Ia utarakan kegundahan hatinya. Ia berharap diberikan cinta diatas cinta.

 Enam bulan telah berlalu, dengan hati yang tegar ia selesaikan kuliahnya. Kini ia akan meraih gelar S1 nya. Namun dari hari kehari bayangan luna masih saja hadir dalam benaknya. Tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa penjelasan terakhir dari bibir luna. setelah hari yang pahit itu. Ia coba menata kembali masa depannya.

Di hari wisudanya itu. Sengaja ia panggil ibunya dari kampung untuk mendampinginya. Senyum ibunya itulah yang membuat ia cukup terhibur menghadapi hari yang ia tunggu tunggu dulu. Hari yang semula ia rencanakan untuk melamar luna. tapi keadaan berubah. Dengan bantuan Allahlah ia sanggup menghadapi semuanya.
Tiba tiba suasana Aula gedung itu bertasbih. Acara wisuda heboh dengan kedatangan sosok bidadari yang anggun jelita. Mata semua lelaki memandang kearahnya. Ia menoleh. Subhanallah…” batin nya bertasbih. Sosok itu adalah luna. wajahnya yang dibalut jubah dan jilbab putih itu seakan membuat ia seperti bidadari yang baru turun dari langit.

Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Sama seperti rasa pertama kali ia berjumpa dengan luna dulu. Alangkah beruntung orang yang menikahinya..” Batinnya mengupat..

Astaghpirullah…ia sudah menikah,, aku haram memikirkannya. getar bibirnya menepis perasaannya,
Ibunya tersenyum melihat perubahan pada anaknya. Apa lagi rul..” kamu udah pantas menikah.. kerjaanmu sudah mapan, sarjana pun sudah ditangan, semua para ibu ibu ingin bermenantukan kamu. Canda ibunya, karena ibunya tidak tahu dengan apa yang terjadi, ia hanya balas dengan senyuman. Tunggu aja bu.. pilihan Allah. Jawabnya.
Ternyata luna menghampirinya .
Assalamu’alaikum..Selamat ya mas… aku datang bersama ibu ingin melihatmu. Sapa luna dengan senyuman malu.
Wa’alaiku salam… terima kasih..ibu mu mana dan ….
Dan.. apa mas…? potong luna. Seakan luna sudah mengetahui maksud nya.. Oh ya.. kedatanganku kali ini hanya untuk menyampaikan maafku saja kok mas…dan menjelaskan apa yang terjadi padaku selama ini. Sekaligus menebus ketidakberdayaanku mas. Lanjut luna dengan wajah menunduk dengan matanya menetes kan sesuatu.
Belum sempat bertanya lagi, irul diajak luna bicara empat mata. Luna hendak menjelaskan sesuatu hal yang penting seperti yang ia tunggu selama ini.
 Baik lah.. kita ke depan mushollah saja.
Dengan air mata yang terus jatuh, luna coba menenangkan diri.
Ia menjelaskan apa yang terjadi selama ini.

Mungkin mas… telah diberi tahu ibu kejadian yang menimpaku. Tetapi semua itu berubah, ternyata takdir Allah berubah lagi. aku terus berdo’a kepada Allah, agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup.

Umur pernikahanku dengan lelaki itu hanya bertahan satu minggu, setelah acara pesta pernikahan kami di pekan baru usai, tanpa melalui malam pertama ia lebih memilih merayakan pesta kemenangannya bersama teman temannya, pada malam itu ia bersama komplotannya merayakan pesta narkoba, dan naas, malam itu juga ia over dosis dan dibawa kerumah sakit, 1 minggu ia koma tak sadarkan diri, lalu ia tewas, aku hanya melihat proses kuasa Allah itu dengan bersyukur, Allah maha tahu penderitaan hambanya. Maka dari itu mas… Allah sedang menguji diriku.. statusku sekarang janda mas.. jelas luna panjang lebar dengan hati tegar.
Jadi ..? Ucap irul ceplos sambil melihat kondisi Luna.

Oh ya… aku sekali lagi bersyukur kepada Allah, Setelah seminggu kematian brengsek itu, aku memeriksakan diri ke dokter. Ternyata kesucianku masih utuh. Brengsek itu hanya menjebakku agar ia punya alasan untuk menikahiku. Begitu lah kisah hidupku mas… Allah masih menyayangiku..

Mendengar semua penjelasan itu, hati irul berdesir, setetes embun masuk ke dalam batinnya. Ternyata ujian Allah telah berakhir. Ia bertakbir dalam hati. Ia hendak langsung melamar luna hari itu juga.
 
semoga bermanfaat

ketegaran cinta bertasbih

0 komentar


cerpen rudi al farisi

Seorang sahabat, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar (SD), selama beberapa tahun itu saya mengenalnya, sangat mengenalnya, Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya, termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang yang sangat sholehah, yang patuh pada kedua orang tuanya.

Tetapi Ranu, Don Juan yang satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak menggoyahkannya untuk merebut hati Mimi. Sedangkan saya hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis ketegaran.
Setiap pagi hari, petugas rutin kantor pos pasti sudah nangkring di sudut rumah besar di ujung gang kampung kami, (rumah Mimi).

Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi dilewati selembar surat warna merah jambu milik Ranu untuk sang pujaan hatinya.

Sedang Mimi yang semula tak bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang ribuan rayuan gombal milik don juan.

Merekapun pacaran dari mulai kelas 1 SMP bayangkan, hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman yang baik, saya hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut. (walaupun hati ini meratap) Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama bisa menjaga dirinya, hingga ke Pelaminan,,Insyaallah.

Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah.

Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, dibalik kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem, orang tua Ranu yang salah satu anggota di DP….!! itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk menikah, sekalipun diluar persetujuan orang tua Ranu, dan secara otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah serapah dan segala macam cacian.

Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami, Dumai, menuju Pekan Baru, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah tidak ada, (semenjak Mimi di bangku SMA, orang tuanya kecelakaan). Untuk mengadu nasibnya menuju ke Pekan Baru " Kota Bertuah" Istilah si Mimi dan Ranu.


Cerpen Cinta
Cerpen Cinta
Saya hanya dipamiti sekejap, tanpa bisa berkata-kata, hanya saling bersidekap tangan didada dan terharu panjang, Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri.

Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”, melenggang pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju "Kota Bertuahnya" Pekan Baru.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga tahun kelima, dimana saya masih membujang dan masih menetap tinggal di Dumai, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya, lagi.

Bahkan Ibuku yang sudah berhijrah hampir tiga tahun ini di Pekan Baru tempat kakakku juga tidak bisa melacak keberadaan Mimi, Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta sahabat-sahabat yang lain yang masih rutin kami panjatkan, untuk keberuntungan Mimi di sana.

Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan saya berada dirumah karena kantor memang libur dihari sabtu dan minggu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ketokan pintu dikamar, mbak "Inul" patner kerja (alias Pembantu) kami mengabarkan ada tamu dari Pekan Baru, siapa gerangan pikir saya ketika itu.
Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan tamu tersebut, perempuan cantik berkulit putih, tapi bajunya sangat lusuh beserta ketiga anaknya, yang dua laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat kelelahan, dan seorang bayi mungil dalam gendongan.

Sejenak saya tertegun, lupa-lupa ingat, hingga suara perempuan itu mengejutkan saya " Faris….Faris khan !", sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkul saya, sambil terisak keras dibahu saya, saat itu saya hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa, dan saya tidak bisa menepis karena hal ini bukan muhrimnya.

Lalu setelah ia puas menangis, pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis bayi Mimi yang keras, yang rupanya tanpa kami sadari telah menyakitinya, dan menekan bayi itu dalam pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah mengampuni…..

Saya menjauhkannya dari bahu saya sambil masih ragu, berguman pelan "Mimi…Mimikah ?" Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang ingin merangkul Mimi, tapi karena syari’at masih membayang dibatin. Aku hanya bisa bersidekap tangan didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat kondisinya. Anak-anak Mimi yang melihat kami hanya termangu,

Mimi terlihat lebih tua dari usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas, badannya kurus, dengan jilbab lusuh, yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau juga benturan berkali-kali, seperti orang yang telah berjalan berpuluh-puluh kilometer.

Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan Mimi masuk kedalam rumah, membantu membawakan barang-barangnya, dibantu mbak Inul, meletakkan barangnya di ruang tamu, rumah saya.
Menunda beberapa pertanyaan yang telah menggunung dipikiran saya, Saya menatap dalam-dalam, Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu saya kenal kini terlihat sangat berantakan, Masyaallah !, Mimi …ada apa denganmu!.

Saya menunda pertanyaan saya, hingga Mimi dan anak-anaknya mau saya paksa beristirahat beberapa hari dirumah saya, ia tidur dikamar ibu yang sudah dirapikan mbak Inul, saya rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.

Beberapa hari beristirahat dirumah saya, saya baru berani menanyakan tentang kabar keadaannya sekarang. Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.

Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat saya tanya keadaan Ranu, matanya berkaca-kaca, saya menghela nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam hitungan menit hingga keluarlah suara parau dari mulutnya…

"Mas Ranu, Ris….sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu".
"Oh" desah saya pelan, kata-kata Mimi membuat saya tercekat beberapa saat, namun sebelum saya sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah meracau "Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah, keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orangtuanya masih saja membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu, aku bekerja serabutan di Pekan Baru, Ris.., mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dsb, hingga Mas Ranu meninggal, keluarganya, hanya memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Dumai, aku tidak sanggup mengadu nasib disana Ris…." Kata-kata Mimi berhenti disini, disambut isak tangisnya, sedang saya yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada.

Setelah kami sama-sama tenang, saya bertanya pada Mimi " Lalu apa rencanamu, Mimi ?".
Mimi tertegun… dia memandang saya nanar, saya menundukkan pandangan, karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, "Sisa hartanya " begitu kata Mimi.

"Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini Ris..".

Aku yang menahan haru, sontak mataku langsung mengalirkan sesuatu, walaupun aku lelaki, namun hati ini bertindak sebagai makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami hanyut dalam haru.
Pelan-pelan saya, meraih kalung itu dari meja, menimbang-nimbang, pikiran saya melayang menuju sisa uang saya di amplop, dalam tas, Jum’at kemarin saya baru saja mendapat lembur-an, sebagai pegawai di suatu instansi, nilai lembur saya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uang saya, saya mengeluarkan amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi, semata mata karena ikhlas.

Mimi menatap amplop di tangan saya, sejurus kemudian saya meletakkan amplop tersebut diatas meja sambil berkata "Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya, biar saya pikirkan caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha"

Keesokan harinya, saya menjual kalung Mimi, pada sahabat baik saya yang lain, kebetulan ia seorang pemodal-muslim, yang baik hati,.. "Thanks ya Hans".., saya menceritakan tentang keadaan Mimi pada mereka, Hans dan Istrinya banyak membantu " Ya Allah limpahilah berkah pada orang-orang baik seperti mereka".

Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil didekat rumah saya, Alhamdulillah !, sekarang ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil, Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa saya contoh dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.

Kuat karena Mimi enggan bergantung pada orang lain, dan tegar karena diterpa cobaan bertubi-tubi, Mimi tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia juga Smart, tahu dimana dia harus meminta pertolongan pada orang yang tepat, dan tentu saja muslimah yang taat beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya.

Saya hanya berpikir dan yakin pasti ada jutaan Mimi-Mimi, diluar sana, akan tetapi pastinya sangat jarang yang melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan Indahnya.

Saya hanya ingin berbagi…..cobalah kita lihat, Mimi tetangga saya kini dan setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya kembali bersinar, meskipun ia menyandang status janda. Yang kemudian dia tekun mendengar keluh kesah saya pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya, termasuk ketika saya mulai mengeluh tidak betah dikantor sebagai pegawai sekian tahun, atau ketika saya menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah berkepala tiga, apa kata Mimi

"Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu tidak".
Subhanallah ! Mimi, contoh kekuatan wanita muslimah, ada disana.
Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan bertubi-tubi dalam hidup saya, maka Mimi membawa saya menuju pintu rumah mungilnya, didepan pintunya, saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak, (sungguh rumah yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, dan juga tempat tidur gulung kecil dibawahnya, tempat si sulungnya tidur, kemudian katanya, "Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku menajalaninya, Ris, sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang panjang ".
Duh, gusti betapa baik hati Mimi ini, betapa malu saya dihadapannya, cobaan saya, tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa saya jarang bersyukur, sering mengeluh, dan sering merasa kurang.
"Stupid mind in the Stupid ordinary " Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya menumbuhkan satu prinsip dihati saya bahwa " Karena aku adalah lelaki, aku harus  kuat dan tegar lebih dari wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika mungkin jauh lebih kuat dan tegar demi tangan-tangan mungil yang mungkin akan menjadi tangan-tangan perkasa yang siap mencengkram dunia, Insyaallah Amien"
Singkat cerita, saya pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang saya bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja saya melintas didepan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati, Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah..
Allahu Akbar….
rnya Allah menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati, Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah..
Allahu Akbar….

semoga bermanfaat

jual hewan kurban dan akiqioh-sapi dan kambing

0 komentar

 jual hewan kurban dan akiqoh amanah dan syar'i
Dengan mengharap Ridho Allah subhanahu wata’ala kami kelompok budidaya sapi dan kambing akan berusaha agar dapat mengelola usaha dengan baik, berusaha mengoptimalkan iikhtiar,berusaha bermuamalah dengan benar agar tidak melanggar syariat Islam dalam masalah muamalah perdagangan.

kami adalah forum yang menjadi jembatan antara pembudidaya sapi dan kambing untuk kurban sesuai syariah/syarat hewan kurban yang amanah  dari bantul yogyakarta.Harga yang Fleksibel adalah upaya kami untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.selain melayani dalam kota jogja kami juga melani pengiriman hewan kurban sapi di seluruh jawa yaitu  pengiriman hewan kurban sapi dan kambing Tangerang,Serang,Cilegon,cilegon,banten  pengiriman telur gurami di jawa barat yaitu di Soreang,Cikarang,Cibinong,Ciamis,Cianjur,Sumber,Garut,Indramayu,Karawang,Kuningan,Majalengka,Purwakarta,Subang,Pelabuanratu,Sumedang,Singaparna,Bandung,Banjar,Bekasi,Bogor,Cimahi,Cirebon,Depok,Cisaat,Tasikmalaya pengiriman hewan kurban sapi dan kambing di jakarta, Pulau Pramuka,Menteng,Jatinegara,Koja pengiriaman hewan kurban sapi dan kambing di jawa tengah yaitu di Magelang,Pekalongan,Salatiga,Semarang, Surakarta,Tegal,dan solo pengiriman hewan kurban di jawa timur yaitu di  Batu,blitar,Kediri,Madiun,Malang, Mojokerto,Pasuruan,Probolinggo dan Surabaya


harga
  • sapi harga berkisar antara Rp.10.000.000,- sampai dengan Rp.15.000.000,-
  • kambing harga berkisar antara Rp.1.000.0000,- sampai dengan Rp1.500.000,-

syarat dan ketentuan

  • Pemesanan hewan kurban bisa dengan datang lansung ke alamat kelompok budidaya sapi dan kambing kami atau melalui telepon, sms atau email atau langsung melalui contact form di website ini. Pastikan data yang anda berikan valid, demi kelancaran komunikasi dan pengiriman.
  • kami hanya melayani pembelian secara tunai/via transfer Bank. Jika melalui transfer Bank, yang Anda lalukan adalah melakukan pembayaran ke rekening kami. Begitu dananya telah masuk atau bukti transfernya telah kami terima, kami akan mengirimkan hewan kurban sapi dan kambing ke alamat Anda.

 Apabila ada yang kurang jelas dengan informasi di atas dapat menghubungi kami via telepon/sms di 081328030055.
 semoga bermanfaat

 
  • Service rolling door folding gate kanopi pagar etalase pintu kaca alumunium Bantul Jogja Sleman © 2012 | Designed by dara izhhar, in collaboration with syarie blogmaker , Blogger Templates and WP Themes