Sepercik Makna dalam Samudera Hikmah Shalat

0 komentar

 
dakwatuna.com - Maha Suci Allah, Dia lah Yang Maha Agung, Pengasih dan Penyayang. Yang menurunkan perintah shalat kepada para mukmin, yang mana shalat itu memiliki kandungan makna yang sangat luas, tak kan mampu manusia mengurai semua hikmah kebaikannya.

Ini hanyalah sepercik makna dari samudera hikmah shalat yang mampu ditangkap, dan hanya Allah SWT jua yang mengetahui hakikat kebenarannya. Shalawat dan salam dari Allah Azza wa Jalla semoga tercurah kepada Baginda Nabi yang telah memberikan teladan tentang shalat kepada kita umatnya.

Shalat sesungguhnya fasilitas luar biasa yang disediakan bagi manusia, sebagai ‘ruangan’ suci dan terhormat di mana seorang hamba diizinkan masuk berkomunikasi ‘empat mata’ dengan Penguasa Langit dan Bumi.
Shalat adalah media komunikasi yang sah atas dasar panggilanNya kepada manusia untuk menghadapNya di bagian-bagian tertentu dari 24 jam yang dianugerahkan. Hal ini sebagai bentuk pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran kepadaNya, sebagai wujud rasa syukur atas nikmatNya yang besar.

Shalat adalah perintah Tuhan kepada manusia agar sama tunduknya dengan tunduknya alam semesta. Hal ini agar manusia tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan alam yang patuh kepada perintah Tuhannya, yang kekuatannya luar biasa, kekuatan yang sangat halus hingga yang sangat besar. Tuhan pun banyak menghadirkan unsur alam dalam memberikan perintah shalat kepada manusia, misalnya shalat pada posisi tertentu matahari terhadap manusia, berwudhu menggunakan air atau debu. Shalat berarti meleburkan diri ke dalam kesatuan alam semesta yang senantiasa bertauhid kepadaNya.

Dengan shalat yang benar, seorang hamba menjalin hubungan yang baik kepada Penciptanya sehingga wajarlah apabila ia mendapatkan perhatian yang lebih dari sebelumnya, pertolongan yang lebih, petunjuk yang lebih, kasih sayang yang lebih, kesadaran yang lebih, kecintaan kepadaNya yang lebih, dan berbagai kemuliaan diri lainnya.

***

Shalat mengandung ucapan dan gerakan ketertundukan sekaligus doa sesuai bimbinganNya. Doa dalam shalat di antaranya terdapat pada bacaan Al Fatihah:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Pada bacaan duduk di antara 2 sujud:
Rabbighfirlii (ampuni aku)
Warhamnii (sayangi aku)
Wajburnii (tutupi aib-aibku)
Warfa’nii (angkat derajatku)
Warzuqnii (beri aku rizki)
Wahdinii (beri aku petunjuk)
Wa’afinii (sehatkan aku)
Wa’fuani (maafkan aku).

Dan pada gerakan tahiyyat.

Maka tersirat suatu nalar yang sungguh indah: apabila Allah membimbing manusia untuk melantunkan doa tersebut, mana mungkin Allah tidak mengabulkan?

***

Shalat bagaikan lift di padang pengembaraan, dan lift itu menjulang ke langit. Dunia ini sejatinya adalah tempat berkelananya manusia yang diciptakanNya, yang kelak pasti akan kembali menghadapNya. Sebuah perjalanan sejati manusia, di mana semuanya dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah, dan Dia menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya sehingga sepantasnya manusia melakukan pengembaraan dengan niatan pengabdian kepadaNya. Sebagai lift, manusia yang masuk ke lift itu akan terhubung lagi ke langit untuk mendapatkan pencerahan dan kesadaran dirinya secara utuh.
Shalat bagaikan berada dalam ruang singgasana Raja Alam Semesta. Yaitu Raja yang penuh kasih sayang dan kekuatan, yang pasti menyayangi dan melindungi siapapun yang ikhlas tunduk pada hukumnya yang sempurna, sekaligus sebagai Raja yang telah dan akan terus mengalahkan siapapun yang menentang hukumnya. Peperangannya terus ada di mana saja dan kapan saja, sedangkan kemenanganNya terus menerus terbuktikan.

Kekalahan dari siapapun yang tidak mau tunduk itu berwujud ketidak-tenteraman, ketakutan, ketidakpuasan, kehampaan, kesedihan, kehinaan, keraguan, dan berbagai bentuk ketidak-bahagiaan di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Sedangkan manusia yang bershalat dengan tubuh dan jiwanya, Dia akan menurunkan ke dalam hatinya ketenangan, keberanian, pikiran yang jernih, keyakinan yang benar, dan semua bentuk kebahagiaan hati.

***

Shalat adalah ungkapan jasad yang mendukung keyakinan hati bahwa antara manusia yang tinggal di bumi dengan Pemilik jagad astronomi sesungguhnya amat dekat. Karena Allah maha besar, melebihi besarnya alam semesta, sehingga kebesarannya itu mampu menjangkau setiap detail benda ataupun kejadian yang terjadi di setiap penjuru ruang bumi dan langit. Meskipun Dia tak terlihat, tapi melalui komunikasi dalam shalat itu kita yakin bahwa pertolongan dan kasih sayangNya amat dekat melebihi kedekatan di antara sesama manusia, karena Allah mampu menjangkau rahasia dalam hati manusia.

Shalat adalah ruang temu antara dunia materi kepada Allah yang Maha Ghaib. Pertemuan ini selaras dengan keadaan manusia yang di dirinya bersemayam ruh yang ghaib. Karenanya, shalat akan menguatkan sifat Ruhiyah yang turut membentuk eksistensi manusia. Shalat bagi kita yang awam ibarat oase di padang pasir, di mana ruh mendapatkan ‘istana’nya ketika keadaan di luar shalat seringkali menistakannya dengan kesibukan urusan materi. Dalam shalat itu manusia melepaskan urusan duniawi, semata-mata menghadapkan wajah dan pikirannya kepada Yang menguasai ruh, Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

***

Dalam shalat, manusia meng-kecil-kan arti dunia sekaligus meng-Agung-kan KebesaranNya, menempatkan sesuatu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Dalam shalat, manusia menitipkan semua masalah duniawi kepadaNya, karena Allah lah sebaik-baik pengatur segala urusan. Karena itu, pikiran hanya bersandar kepadaNya sembari mengharap pertolongan dan kasih sayang-Nya, selebihnya adalah kepasrahan dan keyakinan bahwa urusan duniawi yang ditinggalkan tak akan menjadi kemudharatan, justru sebaliknya karena Dia tak akan pernah merugikan hambaNya.

Dengan menyadari makna yang terkandung dalam shalat dan semua kebaikan yang tak mampu kita pahami semuanya, shalat seharusnya menjadi saat-saat favorit kita. Dikerjakan dengan penuh kenikmatan, kenyamanan, kelembutan, kemesraan, pengharapan, dan ketundukan.
 
Shalat itu seharusnya menjadi sesuatu yang mudah untuk meraih nilai-nilainya, karena Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya. Menjalani shalat hanyalah meyakini bahwa kita sedang menghadapkan diri kepada Allah, lalu melakukan setiap gerakan dan bacaan dengan sepenuh hati dan pikiran. Untuk itu kita harus mengerti setiap kata dalam shalat (yang terdiri dari sedikit bacaan saja), lalu mempelajari kandungan makna agar bisa menghayatinya.

Dibanding ahli ibadah, kita mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dalam shalat untuk menghayati setiap bacaan yang belum begitu kita kuasai.

***

Menangis di dalam shalat adalah sebagian akibat dari kekhusyukan ketika membayangkan kebesaranNya, mengharap dalam doa atau menghayati ayat-ayat tertentu. Karena pada dasarnya setiap manusia itu lemah di hadapan Sang Khaliq, bagaikan sebutir debu di padang pasir. Tangisan yang Allah puji adalah tangisan keimanan yang ditujukan benar-benar untukNya, di antaranya penyesalan hamba atas perbuatan di masa lalu yang tidak mengikuti petunjukNya.

Namun terhadap suatu masalah atau urusan dunia, Allah tidak menginginkan hambanya larut dalam kesedihan saat melakukan shalat. Hamba Allah seharusnya kuat dan tegar dalam menghadapi masalah dunia yang sesungguhnya sangat kecil jika dibandingkan kekuasaan dan kemurahanNya, karena itu hamba yang melakukan shalat seharusnya melupakan segala bentuk urusan dunia untuk menuju kebesaran Tuhannya.

***

Ketika shalat dengan benar, kita mendapat keridhaan, kasih sayang dan ampunanNya. Sekaligus juga kita mendapat kekuatan, ketenangan, kesabaran, pencerahan, petunjuk/ jalan keluar, sikap mental positif lain dan terapi kesehatan sebagai bekal yang sangat kuat dalam menghadapi hidup. Selepas shalat, sudah tidak ada lagi kesedihan, kegalauan, ketakutan, kelemahan, kecengengan menghadapi liku-liku hidup. Allah juga yang akan menuntun langkah kita menghadapi semua urusan sehingga berujung pada sesuatu yang terbaik.
Shalat yang nikmat sebagai awal kedekatan hubungan pribadi kita dengan Allah, untuk selanjutnya beramaliah di kehidupan sehari-hari mengikuti ajaran yang diperintahkan dan meninggalkan laranganNya. Yaitu ajaran dan larangan baik itu yang menyangkut hubungan kepada Allah, maupun yang menyangkut hubungan kepada sesama dan lingkungan. Pemenuhan kedua jenis hubungan itu tidak bisa dipisahkan, sebagaimana ruh dan jasad ini menyatu dalam menjalani hidup.

Semoga kita tidak termasuk dalam sindiran Allah dalam Al-Qur’an sebagai generasi yang menyia-nyiakan shalat, karena banyaknya manfaat yang terdapat dalam shalat.

**

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (Maryam: 59)

Wallahu a’lam.

Tugas Rumah Tangga antara Suami dan Istri

0 komentar


Tugas Rumah Tangga antara Suami dan Istri

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum
Ustadz, awal bulan Oktober, saudara saya (laki-laki) baru saja melangsungkan pernikahan. Sebelum pernikahan, tidak ada kesepakatan tentang pembagian tugas rumah tangga. Namun setelah mereka hidup bersama (-+ seminggu), sang istri meminta adanya pembagian tugas rumah tangga yang jelas.
Pada awalnya sang suami telah berusaha membantu sesuai dengan kemampuannya, tapi setelah menjalaninya, dia merasa keberatan karena kondisinya yang capek setelah bekerja dsb. Sempat juga sang suami mempersilahkan istri tinggal di rumah dan berhenti bekerja, tapi istri menolak, karena khawatir dengan masa depan anak-anaknya kelak yang mungkin memerlukan biaya tinggi untuk pendidikan.
Sebagai informasi, suami istri tersebut bekerja di tempat yang sama. Sang istri menginginkan pembagian tugas rumah tangga, salah satunya bersandar ke dalil dibawah ini:
“Adat bukanlah syariah dan syariah bukalah adat.”
Para suami dilarang terkejut!
Mari kita renungkan hal berikut wahai para suami, lalu kita introspeksi dengan sikap kita selama ini kepada istri kita:
- Harta istri: bukan harta suami
- Harta suami: sebagiannya adalah hak istri
- istri berhak menetapkan nilai mahar
- nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34)
Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini ?
1. Madzhab Hanafi
“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).
2. Mazhab Maliki
- Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.
- Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)
3. Mazhab Syafi’i
- Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.
- Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)
4. Mazhab Hanbali
- Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.
- Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).
5. Mazhab Dzahiri
- Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.
- Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.
- Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm).
1. Apakah hal tersebut bisa dijadikan dalil?
Mohon nasihatnya.
Syukron, jazakumullahu khairan
Wassalamu’alaikum warahmatullah.
Dari: Margee
Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Pendapat mayoritas ulama dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, istri wajib melakukan tugas-tugas rumah sebatas kemampuan dirinya. Istri wajib menaati suami, jika suami memerintahkan istri untuk berhenti kerja, maka istri shalihah pasti langsung berhenti kerja.
Isteri wajib taat kepada suami asalkan perintah suami bukan maksiat. Jika suami memerintahkan istri untuk masak misalnya dan istri mampu untuk masak karena dalam kondisi sehat, maka memasak dalam hal ini adalah kewajiban yang membuahkan dosa jika tidak dijalankan.
Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

tugas rumah tangga suami istri

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum
Ustadz, awal bulan Oktober, saudara saya (laki-laki) baru saja melangsungkan pernikahan. Sebelum pernikahan, tidak ada kesepakatan tentang pembagian tugas rumah tangga. Namun setelah mereka hidup bersama (-+ seminggu), sang istri meminta adanya pembagian tugas rumah tangga yang jelas.
Pada awalnya sang suami telah berusaha membantu sesuai dengan kemampuannya, tapi setelah menjalaninya, dia merasa keberatan karena kondisinya yang capek setelah bekerja dsb. Sempat juga sang suami mempersilahkan istri tinggal di rumah dan berhenti bekerja, tapi istri menolak, karena khawatir dengan masa depan anak-anaknya kelak yang mungkin memerlukan biaya tinggi untuk pendidikan.
Sebagai informasi, suami istri tersebut bekerja di tempat yang sama. Sang istri menginginkan pembagian tugas rumah tangga, salah satunya bersandar ke dalil dibawah ini:

“Adat bukanlah syariah dan syariah bukalah adat.”

Para suami dilarang terkejut!

Mari kita renungkan hal berikut wahai para suami, lalu kita introspeksi dengan sikap kita selama ini kepada istri kita:

- Harta istri: bukan harta suami
- Harta suami: sebagiannya adalah hak istri
- istri berhak menetapkan nilai mahar
- nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34)

Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini ?

1. Madzhab Hanafi

“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).
2. Mazhab Maliki

- Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.
- Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)
3. Mazhab Syafi’i

- Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.
- Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)
4. Mazhab Hanbali

- Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.
- Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).
5. Mazhab Dzahiri

- Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.
- Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.
- Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm).
1. Apakah hal tersebut bisa dijadikan dalil?
Mohon nasihatnya.
Syukron, jazakumullahu khairan
Wassalamu’alaikum warahmatullah.
Dari: Margee

Jawaban:

Wa’alaikumussalam
Pendapat mayoritas ulama dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, istri wajib melakukan tugas-tugas rumah sebatas kemampuan dirinya. Istri wajib menaati suami, jika suami memerintahkan istri untuk berhenti kerja, maka istri shalihah pasti langsung berhenti kerja.
Isteri wajib taat kepada suami asalkan perintah suami bukan maksiat. Jika suami memerintahkan istri untuk masak misalnya dan istri mampu untuk masak karena dalam kondisi sehat, maka memasak dalam hal ini adalah kewajiban yang membuahkan dosa jika tidak dijalankan.
Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)


Untuk kalian yang saling mencintai karena-Nya.

0 komentar

Cerpen
Oleh: Muhammad Sholich Mubarok

 

Barang itu masih teronggok di atas tumpukan koran dan majalah. Tak jauh dari meja belajar. Kado dengan bungkus bercorak batik. Arif sendiri yang membungkus, tak rapi namun enak dilihat.
“Akh ini …” kata Arif dua hari lalu sembari menyodorkan kado.
“Apa? Buat siapa ini?”
“Buat Antum,” kata Arif sambil meng-he-he. Nyengir kuda. Tangannya masih digantungi kado.
“Memang apa isinya?”
“Nah, biar tahu makanya dibuka.”
“Ah, nggak-nggak. Dalam rangka apa?”
“Memang kalau member harus menunggu rangka dulu ya?” Arif balik nanya.
“Ah, nggak-nggak. Curiga saya, ntar gratifikasi lagi,”
Astaghfirullah al adzim, desah Arif. “Ya nggak lah. Ini memang buat Antum.”
“Ini akh,” Arif coba memaksa agar tangan teman satu kamar kosnya itu bersambut. Namun tak bersambut. “Taruh saja di situ. Masa ke kampus bawa beginian.”
Kopaja 20 pun mengantarkan mereka ke kampus. Ada rasa yang membuncah bahagia di hati Arif karena bisa memberi sesuatu pada Ardi. Mereka berdua adalah sekawan yang menempuh di kampus sama dan ngekos bersama. Demi hemat. Sebenarnya mereka udah kenal lama sejak semester tiga hingga semester lima ini. Namun gara-gara Ardi mulai ngekos– yang sebelumnya dilaju dari Bogor ke Jakarta—keakraban mereka makin lekat.
Arif memberi kado untuk ikhwan berlesung pipit itu bukan karena apa-apa, hanya ingin memberi. Kebiasaan Arif adalah suka memberi kado pada temannya sesama aktivis dakwah kampus. Khusus yang mahram. Dengan pemberian, hati seseorang yang keras bisa melunak. Ini yang kadang terlupakan oleh penggiat dakwah. Pernah suatu kali, Arif kesal dengan rekan organisasinya yang mangkir terus dari kegiatan. Ditanya pun banyak alasan, namun ketika Arif member kado, rekannya itu menjadi sangat rajin, bahkan lebih shalih.
Eh, tunggu! Dia memberi kado Ardi bisa juga karena Ardi telah membantunya mengerjakan coding PHP untuk tugas kuliah webnya.
Kado itu masih teronggok di atas tumpukan Koran dan majalah. Belum tersentuh pada yang dituju. Arif tak mengerti. Namun ia coba berpikir sepositif mungkin. Anehnya, belakangan Ardi bersikap dingin. Ngomong alakadarnya. Sekata bukan sekalimat. Padahal obrolan adalah kumpulan kata-kata. Arif merasa bersalah. Tapi apa salah Arif?
“Antum ada masalah Akhi?”
“Nggak,” jawab Ardi, datar.
“Oh,”
Arif sungguh-sungguh tak mengerti. Apa salah Arif hingga didiamkan Ardi? Apa gara-gara kado? Masa’ iya gara-gara memberi jadi ‘tersangka’. Mana ada sepanjang perjalanan sejarah, orang memberi malah dimusuhi. Tapi bisa jadi sih bila pemberiannya membuat sakit hati atau tersinggung. Apakah kausal itu yang jadi penyebabnya? Beragam tanya berkecamuk dalam benak Arif.
Kehadiran Ardi sebagai rekan satu kamar sangat berarti bagi Arif. Sangat memberi manfaat. Arif jadi makin rajin shalat tahajud dan shalat subuh di mushalla karena ada yang membangunkan, yang sebelumnya kerap tertinggal atau kesiangan.
“Mungkin dia gengsi kali,” kata Arya, teman beda kampus Arif ketika ia curhat. Gengsi? Masa’ iya? Memang sih Ardi anak orang kaya, ayah ibunya orang berada. Namun selama tiga bulan ngekos bareng Ardi hingga kini, Ardi adalah sosok yang rendah hati. Kalau pun sombong, paling menyombongkan orang dekat dia yang menjadi sosok terkenal. “Coba tanyakan lagi untuk memastikan, dia mau apa nggak? Mungkin dia sungkan untuk menanyakan lagi,” tambah Arya.
“Semua orang tak bisa mengkomunikasikan apa isi hatinya, Akhi,” kali ini Murabbinya Arif berbicara. “Dan tak semua orang mau menerima pemberian kita. Di sinilah, niatan kita diuji oleh Allah. Amal Antum tak akan seperti angin kok. Percayalah, Allah akan membalas.”
Arif mengangguk apa yang dikatakan Murabbinya saat konsultasi tentang permasalahannya.
Akh, kadonya kok nggak dibawa? Tulis Arif dalam pesan pendek coba berpikir bahwa tak ada-apa-apa. Coba berpolos hati. Namun tak ada balasan dari Ardi yang saat itu sedang balik di Bogor. Sepi.
Kado itu masih teronggok di atas tumpukan Koran dan majalah. Betah. Belum tersentuh pada yang dituju. “Akhi, kadonya kok nggak dibuka,” Arif memberanikan diri untuk menanyakan lagi. Mengikuti saran Arya.
Ardi yang sedang asyik dengan leppynya tak berkutik. Hanya, “Buat apa?”
“Ini buat Antum lho,” Arif yang lagi duduk di kursi belajar coba memaniskan diri, meski dalam hati gondoknya minta ampun.
Tak ada respon jua.
“Jadi, Antum mau menerima ini atau nggak Akhi?”
“Nggak,” kata Ardi dengan suara rendah namun menabrak.
Pernah melihat hujan selain hujan air? Hujan itu bernama hujan sakit hati yang menyayat hati Arif. Sangat menyayat. Rasanya ingin, argghh…
Masih dengan hati yang entah seperti apa kondisinya, Arif pun mengambil silet di atas lemari baju. Baru ia beli tadi siang, tingkat ketajamannya tak diragukan. Sangat tajam.
Krash!
Kado yang ia bungkus dan yang akhirnya ia buka sendiri itu pun terkuak isinya. Ardi mendengar suara itu, tapi ia enggan nengok. Tak tega juga Arif melihat kondisi seperti ini.
Ketika Arif tidur, Ardi yang belum tidur itu pun mendekati meja belajar. Penasaran. Deg! Ardi merasa berdosa telah menyakiti hati sahabatnya, tahu isi kado itu tak adalah Al-Munawwir, kamus bahasa Arab. Kamus yang selama ini diinginkannya. Sudah lama Ardi inginkan namun belum sempat kebeli karena harus ke toko As Sunah Kwitang. Tak sempat, sibuk, jauh, lebih tepatnya malas ke sana.
Allah…desahnya. Ada bintik bening di ujung matanya. Ia menolak pemberian itu bukan karena apa. Ia hanya ingin menjaga kesucian niat dalam membantu mengajarkan PHP kepada Arif. Kado itu saja bisa jadi pemancing niat awalnya. Jika menolak dengan mengatakan: Saya ikhlas membantu Antum, kalimat seperti ini yang membuat niat ternodai. Karena ikhlas adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan mulut. Namun kenapa harus ditolak? Terima saja, ah…Ardi kadang tak mengerti dengan diri sendiri.
Matahari mengintip dari timur dengan malu-malu. Hari cerah, namun tak secerah hati Arif. Sisa sakit hati semalam masih ada. Untuk kuatkan diri, dalam Twitter ia berkicau: jangan sakit hati bila Allah tujuan inti.
Ia membenarkan kata Murabbinya, tak semua orang mampu mengkomunikasikan apa yang ada dalam dirinya.
Sebelum berangkat kuliah, ia membuka dompetnya. Hanya ada dua lembar lima puluhan ribu rupiah. Uang segitu untuk waktu 12 hari ke depan. Uangnya berkurang karena …ah, sudahlah.

Untuk kalian yang saling mencintai karena-Nya.
Jakarta, 17 September 2012

Sumber: dakwatuna.com/

Khutbah Idul Adha 1433 H: Harapan Nabi Ibrahim, Harapan Kita Semua

0 komentar

Khutbah Idul Adha 1433 H: Harapan Nabi Ibrahim, Harapan Kita Semua

Oleh: Drs. Ahmad Yani

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ilustrasi. (inet)
Kembali kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita sehingga kita tidak mampu menghitungnya, karena itu keharusan kita adalah memanfaatkan segala kenikmatan dari Allah swt untuk mengabdi kepada-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur itu, salah satunya adalah ibadah berkorban pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik. Allah swt berfirman:
 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar [108]:1-2).
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para penerus risalahnya yang terus berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini hingga hari kiamat nanti.
Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Bersamaan dengan ibadah mereka di sana,  di sini kita pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah mereka, di sini kita melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah haji yaitu puasa hari Arafah, pemotongan hewan qurban setelah shalat Idul Adha ini dan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Apa yang dilakukan itu maksudnya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt.
Ibadah haji dan Qurban tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim as, karenanya sebagai teladan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as harus kita pahami untuk selanjutnya kita teladani dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, kita bahas Empat Harapan Nabi Ibrahim yang termuat dalam doanya, harapannya menjadi harapan kita semua yang harus diperjuangkan. Pertama, Harapan Atas Dirinya. Nabi Ibrahim as amat berharap agar dirinya terhindar dari kemusyrikan, Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya: “Doa ini menampakkan adanya kenikmatan lain dari nikmat-nikmat Allah. Yakni nikmat dikeluarkannya hati dari berbagai kegelapan dan kejahiliyahan syirik kepada cahaya beriman, bertauhid kepada Allah swt.”  Karena itu, iman atau tauhid merupakan nikmat terbesar yang Allah swt berikan kepada kita semua sehingga iman merupakan sesuatu yang amat prinsip dalam Islam, Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim [14]:35).
Di samping itu, Nabi Ibrahim as juga ingin memperoleh ilmu dan hikmah, sesuatu yang amat penting agar kehidupan bisa dijalani dengan mudah dan bermakna. Beliau juga meminta agar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih. Selain itu meminta menjadi buah tutur kata yang baik bagi generasi kemudian sebagai bentuk penghormatan dan upaya meneladani. Puncaknya adalah meminta dimasukkan ke dalam surga hingga tidak terhina dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini tercermin dalam doa beliau:
رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ. وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ. وَاغْفِرْ لأَبى‏ إِنَّهُ كانَ مِنَ الضَّالّينَ * وَلا تُخْزِنى يَومَ يُبْعَثُونَ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83– 87).
Dari doa Nabi Ibrahim di atas, jelas sekali betapa pentingnya menjadi shalih sehingga orang sekaliber Nabi Ibrahim masih saja berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih. Manakala keshalihan sudah dimiliki, cerita orang tentang diri kita bila kita tidak ada adalah kebaikan. Karena itu, harus kita koreksi diri kita, seandainya kita diwafatkan besok oleh Allah swt, kira-kira apa yang orang ceritakan tentang kita.
Hal penting lainnya dari harapan Nabi Ibrahim as adalah agar amal-amalnya diterima oleh Allah swt, termasuk orang yang tunduk dan taubatnya diterima oleh Allah swt, hal ini terdapat dalam doanya:
رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوّابُ الرَّحِيمُ
Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah [2]: 127 – 129).
Syaikh Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa berulang-ulang Nabi Ibrahim dalam doanya menyebut rabbi (ya Tuhanku) agar dikabulkan doanya dan menampakkan kehinaan diri kepada Allah.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt.
Harapan Kedua adalah Harapan Atas Keluarga, mulai dari orang tua yang beriman dan taat kepada Allah swt, karenanya beliau pun meluruskan orang tuanya sebagaimana firman Allah swt:
وَ إِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَ تَتَّخِذُ أَصْناماً آلِهَةً إِنِّي أَراكَ وَ قَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS An’am [6]:74)
Selain istrinya yang sudah shalihah, beliau juga ingin agar anak-anaknya menjadi anak shalih, taat kepada Allah swt dan orang tuanya dengan karakter akhlak yang mulia, ini merupakan sesuatu yang amat mendasar bagi setiap anak. Karenanya beliau berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shaffat [37]:100-102)
Di dalam ayat lain disebutkan bahwa dengan keshalihan diharapkan membuat sang anak selalu mendirikan shalat, hati orang pun suka kepadanya dan pandai bersyukur atas kenikmatan yang diperoleh, hal ini disebutkan dalam doa Nabi Ibrahim as:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim [14]:37)
Hal yang amat penting mengapa Nabi Ibrahim as amat mendambakan memiliki anak bukan semata-mata agar punya anak, tapi bagaimana anak yang shalih itu mau dan mampu melanjutkan estafet perjuangan menegakkan agama Allah swt.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Ketiga yang merupakan harapan Nabi Ibrahim adalah terhadap Masyarakat agar beriman dan taat kepada Allah swt, bahkan tidak hanya pada masanya, tapi juga generasi berikutnya. Dalam rangka itu, sejak muda Nabi Ibrahim telah membuka cakrawala berpikir agar tidak ada kemusyrikan dalam kehidupan masyarakat, Allah swt berfirman:
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ. قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ. قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS Al Anbiya [21]:57-60)
Karena itu, dalam doanya Nabi Ibrahim meminta agar Allah swt mengutus lagi Nabi yang menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah swt, hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
 رَبَّنا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتابَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS Al Baqarah [2]:129)
Dalam konteks sekarang, masyarakat amat membutuhkan dakwah yang mencerahkan dan memotivasi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah.

Harapan Keempat dari Nabi Ibrahim as adalah atas Negara dan Bangsa. Beliau ingin agar negara berada dalam keadaan aman dan memperoleh rizki yang cukup dari Allah swt, bahkan Allah swt memberikan kepada semua penduduk meskipun mereka tidak beriman, beliau berdoa:
رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً ءامِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ ءامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.”(QS Al Baqarah [2]:126)
Sayyid Quthb dalam Fi Dzilalil Quran menyatakan: “Nikmat keamanan adalah kenikmatan yang menyentuh manusia, memiliki daya tekan yang besar dan perasaannya dan berhubungan pada semangat hidup pada dirinya.”
Apa yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as ini bila kita ukur dalam konteks negara kita ternyata masih jauh dari harapan, hal ini karena keamanan menjadi sesuatu yang sangat mahal, sementara kesulitan mendapatkan rizki atau makan masih begitu banyak terjadi. Namun kesulitan demi kesulitan masyarakat pada suatu negara dan bangsa ternyata bukan karena Allah tidak menyediakan atau tidak memberikan rizki, tapi karena ketidakadilan dan korupsi yang merajalela. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk istiqamah atau mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Meskipun banyak orang yang korupsi, kita tetap tidak akan terlibat, karena jalur hidup kita adalah jalur yang halal.
Setiap orang bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan negara dan bangsa yang baik, namun para pemimpin dan pejabat harus lebih bertanggung jawab lagi. Karena itu, kita amat menyayangkan bila banyak orang mau jadi pejabat tapi tidak mampu mempertanggungjawabkannya, jangankan di hadapan Allah swt, di hadapan masyarakat saja sudah tidak mampu, inilah pemimpin yang amat menyesali jabatan kepemimpinannya, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِى؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ: إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا
Abu Dzar RA berkata: Saya bertanya, Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan? Maka Rasulullah menepukkan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda: Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya (HR. Muslim)
Akhirnya, memiliki harapan yang baik tidak cukup pencapaiannya hanya dengan doa, karenanya setiap kita harus berjuang bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa berada dalam ridha Allah swt. Akhirnya marilah kita berdoa:
 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian
 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Sumber:dakwatuna.com

grosir pewangi laundry kwalitas terbaik

2 komentar

Jual grosir/distributor pewangi perlengkapan/kebutuhan laundry di seluruh indonesia

Dengan mengharap Ridho Allah subhanahu wata’ala kami “ABATA”akan berusaha agar dapat mengelola usaha dengan baik, berusaha mengoptimalkan ikhtiar,berusaha bermuamalah dengan benar agar tidak melanggar syariat Islam dalam masalah muamalah perdagangan.

Abata adalah agen/distributor kebutuhan laundry yaitu detergen matic dan pewangi/farfum dengan mengedepankan kwalitas dan kwantitas.Alamat gudang kami berada di pelemsewu RT03 panggungharjo sewon bantul yogyakarta jawa indonesia.harga yang fleksibel adalah upaya kami untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.

harga grosir pewangi laundry termurah dengan kwalitas terbaik

minimum pembelian pewangi laundry 1 galon atau 5 liter
harga grosir pewangi laundry kwalitas standard 1 galon atau 5 liter Rp.75.000,-
harga grosir pewangi laundry kwalitas bagus 1galon atau 5 liter Rp 105.000,-
harga grosir pewangi laundry kwalitas super 1 galon atau 5 liter Rp 135.000,-


kami menyediakan banyak pilihan aroma pewangi laundry yaitu:



PARFUM LAUNDRY / PEWANGI
WANGI PILIHAN
Katrina
Fruity fantasi
Fantasi
Lavender
Ocean
Lily
Bougenvile
Blue Oase
Apple
Strawberry
Snappy
Green tea
Baby cadle
Aqua Fresh



pengiriman pewangi laundry di seluruh indonesia

selain melayani pengiriman grosir parfum dan pewangi di jogja /yogyakarta kami juga melayani pengiriman antar pulau di seluruh Indonesia.yaitu pengiriman ke wilayah jawa diantaranya Tangerang,Serang,Cilegon,cilegon,banten pengiriman kebutuhan laundry parfum/pewangi harga grosir di jawa barat yaitu di Soreang,Cikarang,Cibinong,Ciamis,Cianjur,Sumber,Garut,Indramayu,Karawang,Kuningan,Majalengka,Purwakarta,Subang,Pelabuanratu,Sumedang,Singaparna,Bandung,Banjar,Bekasi,Bogor,Cimahi,Cirebon,Depok,Cisaat,Tasikmalaya pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi harga grosir di jakarta, Pulau Pramuka,Menteng,Jatinegara,Koja pengiriaman kebutuhan laundry parfum/pewangi pakaian di jawa tengah yaitu di Magelang,Pekalongan,Salatiga,Semarang, Surakarta,Tegal,dan solo pengiriman kebutuhan laundry parfum/pewangi pakaian di jawa timur yaitu di Batu,blitar,Kediri,Madiun,Malang, Mojokerto,Pasuruan,Probolinggo dan Surabaya pengiriman kebutuhan laundry parfum/pewangi pakaian harga grosir wilayah sumatera meliputi aceh, Banda Aceh,Langsa,Lhokseumawe,Sabang,Subulussalam, Meulaboh pengiriman kebutuhan laundry parfum/pewangi pakaian di sumatera utara yaitu di Binjai,Gunungsitoli,Medan,Padang sidempuan,Pematangsiantar,Sibolga,Tanjungbalai dan Tebing Tinggi pengiriman kebutuhan laundry parfum/pewangi pakaian harga grosir di bengkulu,Manna,KarangTinggi,ArgaMakmur,Bintuhan,Kepahiang,MuaraAman,Mukomuko,CurupTais pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di
jambi,MuaraBulian,MuaraBungo,Bangko,Sengeti,Sarolangun,KualaTungkal,MuaraSabak,MuaraTebo,SungaiPenuh pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di sumatera barat,Bukittinggi,Padang,Padangpanjang,Pariaman,Payakumbuh,Sawahlunto,Solok pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di ,Lubuklinggau,PagarAlam,Palembang,Prabumulih,bandar lampung,metro, Liwa,Kalianda,Gunung Sugih,Sukadana,kota bumi,Gedong, Tataan,Pringsewu,Kota Agung,Menggala,Tulang Bawang Tengah,BlambanganUmpu,pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di pekanbaru dan dumai pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di kepulauan bangka belitung yaitu di pangkal pinang,pengiriman telur gurami di kepulauan riau yaitu di batam,tanjung pinang,tanjung pandan dan tanjung karang pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di Kalimantan barat, pontianak,singkawang,Bengkayang,Putussibau,Sukadana,Ketapang,SungaiRaya,Ngabang,NangaPinoh,Mempawah,Sambas,Sanggau,Sekadau,Sintang pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di kalimantan selatan yaitu di Paringin,Martapura,Marabahan,Kandangan,Barabai,Amuntai,Kotabaru,Tanjung,Batulicin,Pelaihari,Rantau,Banjarbaru,Banjarmasin pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir di samarinda,Buntok,Tamiang,MuaraTeweh,KualaKurun,KualaKapuas,Kasongan,PangkalanBun,Sampit,NangaBulik,Purukcahu,Pulang Pisau,Sukamara,Kuala Pembuang,pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian harga grosir tujuan pulau kalimantan timur di balikpapan,bontang,samarinda,tarakan,Tanjung redep,berau,Tanjungselor,Sendawar,Tenggarong,Sangatta,Malinau,Nunukan,Tanah,Grogot,Penajam,TidengPale Pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di Bali,denpasar,Badung,Bangli,Singaraja,Gianyar,Negara,Karangasem,Klungkung,Tabanan Pengiriman telur gurami di Ntt,bima,mataram, Kupang ,Raba,Dompu, Praya,Selong,Tanjung,Sumbawa Besar,Taliwang pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di gorontalo,Marisa/Tilamuta,Suwawa,Kwandang,Marisa, Kalabahi,Atambua,Ende,Larantuka,Lewoleba,Ruteng,LabuanBajo,Borong,Bajawa,Mbay,BaaSeba,Maumere,Waikabubak,Tambolaka,Waibakul,Waingapu,Soe,Kefamenanu pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di sulawesi selatan palopo,makassar,parepare, Bantaeng,Barru,Watampone,Bulukumba,Enrekang,SungguMinasa,Jeneponto,Benteng,Malili,Masamba,Maros,Pangkajene,Pinrang,Sidenreng,Sinjai,WatanSoppeng,Takalar,Makale,Rantepao,Sengkang pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di sulawesi tenggara baubau,kendari,Rumbia,Pasarwajo,Buranga,Kolaka,Lasusua,Unaaha,Andolo,Wanggudu,Raha,WangiWangi, pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di sulawesi tengah palu,Luwuk,Banggai,Buol,Donggala,Bungku,Parigi,Poso,Ampana,Toli-Toli,Sigi ,Biromaru pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di sulawesi tenggara bitung, manado,tumohon, Kotamobagu,BolaangUki,Tutuyan,Boroko,Tahuna,OndongSiau,Melonguane,Tondano,Amurang,Ratahan,Airmadidi pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di Majene,Mamasa,Mamuju,Pasangkayu,Polewali, pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di maluku,ambon,tual,ternate,tidore pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di jayapura, agats,Biak,TanahMerah,Tigi,Kigamani,Sugapa,Sentani,Wamena,Waris,Serui,Tiom,Burmeso,Kobakma,Kepi,Merauke,Timika,Nabire,Kenyam,Enarotali,OksibilIlaga,Kotamulia,Sarmi,Sorendiweri,Karubaga,Botawa,Sumohai,Elelim pengiriman kebutuhan laundry deterjen matic,parfum/pewangi pakaian di sorong,Fakfak,Kaimana,Manokwari,Kumurkek,Waisai,Sorong,Teminabuan,Fef,Bintuni,Rasiei dan kota-kota lainnya.

Syarat dan Ketentuan.


• Pelanggan di jogja dan sekitarnya akan kami kirim lansung sampai alamat tujuan.
• pembelian bagi luar joagja akan kami kirim via jasa pengiriman barang sampai alamat dengan harga yang terjangkau/termurah.
• ada batas minimum yang harus dipenuhi yaitu muatan armada angkut harus penuh sehingga biaya transportasi akan lebih efisien, mengingat sedikit atau banyak biayanya sama.

Pengiriman dan pembayaran

* Pengiriman via darat laut dan udara.sesuai yang telah di sepakati
* Pembayaran dilakukan tunai atau via transfer Bank. Nomor rekening akan kami informasikan kepada Anda via email – sms atau telepon.
Jika ada yang kurang jelas dari informasi di atas silahkan hubungi kami di 081328030055-fery sumanto

Izinkan Aku Mampu Yaa Rabbi…

0 komentar

Izinkan Aku Mampu Yaa Rabbi…

Oleh: Rina Lestari
 
Seakan peluh ini hilang sekejap
ketika bibir-bibir mungil itu mengeja a-ba-ta
air mata menangis dalam hati begitu lembut
kedamaian yang terasa lebih…lebih dari apapun
asa mereka tak pernah lelah
bila salah terucap..bola mata yang bening terlihat menatap
kedipan mereka seakan ingin mengiba
untukku bersabar menuntun mereka…
senyum tawa mereka tergambar keinginan yang begitu dalam
tepuk dan lagu TPA begitu membahana penuh makna
lafal doa-doa terhafal dengan syahdu
“Allahu Akbar…”
begitu membahana terpantul di sudut-sudut mushalla kecil
mushalla di ujung area pembuangan sampah
meski terkadang angin membawa bau yang berbeda
nyamuk dan lalat terkadang beterbangan masuk dan keluar
tak sedikit pun mengurangi semangat anak-anak kecil ini belajar
membaca ayat-ayat suci yang indah penuh arti
menghafalkan gerakan dan doa shalat lima kali sehari
doa iftitah mulai terbaca..
gerakan-gerakan shalat terlaksana..
hingga salam mengakhirinya
kupejamkan mataku ketika tangan-tangan kecil itu menengadah penuh doa
air mata ini menetes keharuan
mengingat mereka anak-anak yang setiap hari bermain dengan tumpukan sampah
mereka anak-anak yang ceria, tak peduli dengan bau yang menyengat dan logam-logam yang berkarat serta pecahan-pecahan kaca yang berhambur dengan bungkusan plastik sampai organik
rumah kecil berdinding papan yang tak beraturan
lubang-lubang kecil menjadi jalan tetesan hujan
tak peduli mereka dengan semua itu, yang aku tahu
mereka bahagia terlihat dari tawa canda merekah
tapi…pernah siang itu di sekolahan, mereka menangis di hadapanku
“ibu…aku dibilang bau sampah”
“iya…bu, mereka menyebutku pemulung”
aku mencoba menyeka air mata mereka, berusaha tersenyum meski hatiku tidak terima.
“sayang…’gak pa-pa kok dibilang pemulung, yang penting yang dipungut kebaikan-kebaikan nanti malah baunya surga loh, wangi dan yang pasti disayang Allah dan disayang sama semua..termasuk ibu guru selalu menyayangi kalian baik di sekolahan ataupun di mushalla”
aku ingat ucapanku tadi membuat mereka tersenyum kembali
Kuhela dalam nafas panjang
Ya Rabbi…terima kasih…
dengan cara-Mu Engkau membuatku kembali menata hidup dan tujuanku
karena Lewat mereka Kau Mengingatkanku untuk selalu bersyukur melewati bait-bait hidupku
dengan cara-Mu Engkau berikan kesempatan ladang amal yang luas
karena lewat mereka, kita bisa berbagi, meringankan beban dalam kehidupan
istiqamahkan hati ini selalu ke jalan-Mu ya Rabbi
jalan yang penuh cahaya putih..suci..dan indah
Kupegang teguh Pesan nabi Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan
Orang kaya yang murah berbagi hartanya
Orang pintar yang murah berbagi ilmunya
“Ya Rabbi…
aku kini iri…
karena diri ini pun masih terus belajar
untuk mampu membimbing mereka untuk lebih mengenal Agama-Mu
tawa ria kecil mereka adalah semangatku
ilmu bekal dunia dan akhirat adalah pilar tujuanku
aku ingin mengajari mereka untuk lebih mencintai-Mu
aku hayati penuh Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam
“Sesungguhnya Allah, Para Malaikat, penduduk langit dan bumi, termasuk semut-semut di liangnya dan ikan-ikan senantiasa bershalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
tapi…langkah kecil ini yang hanya aku mampu lakukan untuk mereka
Aku ingin selalu berusaha mengajari mereka ya Rabb,
izinkan aku mampu ya Rabbi.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Konsekuensi Cinta (Untukmu Yaa Rasulullah)

0 komentar

Konsekuensi Cinta (Untukmu Yaa Rasulullah)

Oleh: Muhamad Ihsan
 
Bismillahirrahmanirrahim.
Dari Abdullah bin Hisyam RA bahwa dia berkata: Kami pernah bersama Nabi sementara beliau menggandeng tangan Umar bin Khatthab RA, maka Umar berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku”. Maka Nabi bersabda: “Tidak, demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Hingga kamu lebih mencintai aku dari pada dirimu sendiri”. Umar berkata kepadanya:“Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Nabi bersabda: “Sekarang wahai Umar”. (HR Bukhari).
Berita tawuran pelajar akhir-akhir ini merebak menjadi isu yang hangat diberitakan oleh seluruh Media Nasional, seluruh masyarakat dan para pakar mengomentari sebab musabab terjadinya tawuran tersebut dan Apa kerugian yang ditimbulkan daripadanya.
Hampir seluruh tawuran pelajar berawal dari pertikaian antara dua orang pelajar lalu salah satu yang teraniaya melakukan pembelaan terhadap dirinya, kemudian berujung kepada pembelaan sahabat kepada temannya dan berujung pada harga diri kelompok bahkan hingga sekolah. Namun itu semua berawal dari satu hulu yaitu pembelaan terhadap diri sendiri. Kenapa kita melakukan pembelaan diri? Karena kita cinta terhadap diri kita, kita tidak akan membiarkan orang menginjak-injak harga diri kita.
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda:
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah di antara kalian beriman sehingga aku lebih dicintai dari pada orang tua dan anaknya”. (HR Bukhari).
Kemudian bagaimana jika bukan dirimu yang dihinakan? Tetapi bisa jadi saudara kandungmu, orang tuamu, bahkan anakmu sendiri. Sudah pasti semua orang tua akan membela anak-anaknya yang dianiaya oleh anak orang lain. Walaupun anak kita mengawali kenakalan tersebut. Tapi kita akan tetap melakukan pembelaan terhadap anak kita, minimal dia menerima hukuman seringan mungkin. Semua ini terjadi karena ada cinta di setiap hati orang tua, cinta orang tua kepada anaknya.
Dari Umar bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa – sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad  SAW bersabda:
Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab: “Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya”. Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Seorang anak akan marah jika nama orang tuanya disebutkan tanpa embel-embel “bapak” dan “ibu”. Hal ini lazim terjadi di antara kenakalan anak – anak, seorang teman kita akan di anggap menghina orang tua jika menyebutkan nama orang tua kita tanpa menyertakan kata penghormatan mengawali namanya. Katakanlah nama bapak kita adalah Hasan. Jika teman kita hanya menyebutkan “Hasan” bukan dengan “Pak Hasan”. Itu adalah ejekan yang mendalam, sebegitu marahnya kita akan tindakan teman kita itu. Semunya reaksi yang kita lakukan adalah atas dasar cinta. Karena cinta kita akan membela, dan memperjuangkan yang layak untuk orang tua kita.
Bagaimana jika penghinaan itu datang kepada Rasulullah SAW? Apakah yang akan kita lakukan ketika orang yang begitu mencintai kita dihinakan? Apakah kita akan menjawab cintanya dengan pembelaan, atau bungkam seribu bahasa?
Penghinaan Rasulullah SAW melalui film “an innocence of muslims” telah mendapatkan reaksi yang sangat keras oleh umat muslim di seluruh dunia dan juga Indonesia. Umat muslim yang terdapat cinta kepada Rasulullah SAW di dalam hatinya. Melakukan pembelaan dengan apa saja yang bisa ia lakukan, yang bisa Menggunakan Tangan akan ia gunakan tangannya itu, yang bisa menggunakan Lisan akan ia lantangkan suaranya untuk membela Rasulullah SAW, dan yang hanya bisa berdoa akan ia panjatkan doa itu di sepertiga malam dengan tangisan penuh cinta kepada Rasulullah SAW.
Ironis ketika masih banyak Warga Negara Indonesia yang jelas tertera Islam di kartu tanda penduduknya (KTP) malah bungkam tak melakukan apapun. Presiden bungkam, Pejabat Negara bisu, dan bahkan Kepolisian menjadi musuh bagi orang-orang yang membela Rasulullah di depan kedutaan AS. Mereka mengecam kaum mukmin atas dasar ketertiban semu, atas dasar hubungan bilateral. Tanpa sadar mereka telah mengutamakan Amerika di atas Rasulullah, dan meninggikan hukum manusia di atas hukum Allah.
Apakah tidak jelas apa yang disebutkan dalam Al Qur’an? “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara- saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul- Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah 24).
Lalu kenapa mereka kini hanya diam. Apakah tidak ada cinta di dalam diri mereka. Padahal jika orang tua, anak, dan dirinya dihina dia akan marah atas penghinaan itu. Kemudian kenapa orang-orang yang membela Rasul-Nya mereka beri cap anarkis, teroris, tidak toleran, radikal, dan sebagainya. Padahal diri mereka senantiasa menjadi anarkis ketika keluarga dan dirinya dihinakan. Lalu siapakah yang lebih anarkis, orang yang memulai penghinaan, atau orang yang menuntut hak atas penghinaannya? Semua akan bisa dijawab jika di dalam dirimu ada cinta. Tetapi tidak cukup hanya cinta, kamu harus paham apa itu konsekuensi cinta. Cinta Rasulullah SAW.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. (Buya Hamka)

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq r.a.

0 komentar

Kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq r.a.

Oleh: Samin Barkah, Lc
 
dakwatuna.com - Masa Kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq r.a. dari 11 Rabiul Awal 11 H sampai 11 Jumadil Akhir 13 H (2 tahun, 3 tahun dan 10 hari)
Ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat berselisih pandangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa Rasulullah saw telah wafat dan sebagian yang lain mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak meninggal. Ketika berita kematian Rasulullah saw sampai ke Abu Bakar Shiddiq r.a., beliau mendatangi rumah Rasulullah saw dan membuka penutup wajah lalu menciumnya dan telah ternyata Rasulullah saw telah wafat. Kemudian beliau keluar dan menemui para sahabat lalu berkata,
“Barang siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah Taala, ketahuilah bahwa Allah Hidup, tidak wafat. Allah berfirman,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Dan Tidaklah Muhammad itu, melainkan seorang Rasul. Telah wafat sebelum ini para Rasul. Apakah jika Rasul wafat atau terbunuh, kalian akan berpaling dari ajarannya?”
Abu Bakar membacakan ayat ini kepada para sahabat, termasuk kepada Umar bin Khathab r.a. Saat itu seakan-akan mereka baru pertama kali mendengar ayat tersebut.
Setelah mendengar ayat ini, hati mereka menjadi tenang dan hilanglah segala kegundahan dan keraguan. Kemudian kaum muslimin berkumpul di Saqifah Bani Sa’adah. Di sana mereka bermusyawarah perihal pengganti Rasulullah saw sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin.
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, antara kaum sahabat Anshar dan sahabat Muhajirin. Masing-masing mengunggulkan kandidat-kandidat kaumnya untuk tampil sebagai khalifah. Pemuka Anshar, Basyir bin Saad r.a, menentramkan kaumnya dengan mengingatkan bahwa kaum Anshar membela Islam semata-mata untuk mencari ridha Allah Taala serta sebagai bentuk ketaatan pada Rasulullah saw hingga tidak pada tempatnya untuk berebut kekuasaan dengan Muhajirin. Taushiyah yang disampaikan dengan sangat bijaksana ini akhirnya mampu mendinginkan hati sahabat Anshar.
Dari sahabat Muhajirin, Abu Bakar r.a. mengusulkan untuk mengangkat Umar bin Khathab r.a. dan Abu Ubaidah bin Jarrah r.a untuk menjadi khalifah pengganti Rasulullah saw. Namun keduanya langsung menolak, bahkan Umar bin Khathab langsung memegang tangan Abu Bakar r.a dan membaiatnya menjadi khalifah diikuti oleh Abu Ubaidah r.a, Basyir bin Saad r.a, dan para sahabat lainnya.
Abu Bakar Shiddiq r.a. adalah salah seorang sahabat yang pertama masuk Islam. Beliau giat melakukan dakwah meski di bawah tekanan, dan beliaulah sahabat Rasul saw yang secara eksplisit namanya diabadikan dalam Al-Quran. (At-Taubah:40)
Selain itu track record beliau sebagai orang yang ‘bersih’, berani, tegas, dan memiliki keberpihakan pada masyarakat kecil telah diakui oleh para konstituennya tersebut. Selain itu sifat rendah hati Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. tidak luntur meski dia terpilih menjadi khalifah secara aklamasi.
Tidak ada seorang pun yang menolaknya, termasuk Ali bin Abi Thalib (sebagian orang menyangka bahwa ia telat berbaiat kepada Abu Bakar Shiddiq r.a).
Ibnu Katsir berkata, “Baiat Ali bin Abi Thalib kepada Abu Bakar Shiddiq r.a. terjadi pada hari pertama atau hari kedua pengangkatannya. Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib tidak pernah berselisih paham dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. dan tidak ada satu shalat pun yang dikerjakan Ali tidak berjamaah mengikuti Abu Bakar Shiddiq r.a. Ali bin Abi Thalib r.a juga ikut Abu Bakar Shiddiq r.a. ke Dzul Qishah untuk memerangi penduduk yang murtad dari agama Islam. Akan tetapi terjadi sesuatu pada Fathimah r.a. yang mencela Abu Bakar Shiddiq r.a. karena dia menyangka bahwa dia akan mendapatkan warisan dari Rasulullah saw sebagai anak. Fathimah r.a. sendiri belum mengetahui hadits Rasulullah saw kepada Abu Bakar Shiddiq r.a. dan para sahabat yang menyebutkan,
إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ لا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ
“Sesungguhnya kami, para nabi tidak meninggalkan warisan dan apa-apa yang kami tinggalkan adalah sedekah buat kaum muslimin.”
Dengan dasar hadits tersebut, Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak memberikan warisan kepada Fathimah r.a. dan istri-istri Rasul. Ketika Fathimah r.a. meminta Ali bin Abi Thalib r.a. untuk menanyakan tanah yang di Khaibar, Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak menjawabnya karena dalam pandangan Abu Bakar Shiddiq r.a. dialah yang mengurus semua peninggalan Rasulullah saw. Peristiwa itu menambah kecewa dan marahnya Fathimah r.a. hingga ia tidak mau berbicara dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. sampai Fathimah meninggal, enam bulan sejak wafatnya Rasulullah saw. Kondisi inilah yang membuat Ali merasa perlu memperbaharui baiatnya kepada Abu Bakar agar ketegangan antara Fathimah r.a. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin.
Perselisihan antara Fathimah r.a. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. meninggalkan celah menganga di internal kaum muslimin dengan kemunculan kelompok Ar-Rafidhah.
Pidato Politik Pertama Abu Bakar Shidddiq r.a:
Amma ba’du…
Wahai para sahabat, aku telah diserahi tugas sebagai khalifah, padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Karena itu, jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku.
Jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat.
Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya Allah.
Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah akan menjadikan mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan kotor menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. Untuk itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kalian tidak wajib mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”
Itulah momen-momen awal kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq r.a. Wallahu a’lam. (bersambung)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

 
  • Mengenal alqur'an lebih dekat © 2012 | Designed by dara izhhar, in collaboration with syarie blogmaker , Blogger Templates and WP Themes