kaos dakwah "rezeki kita soal rasa"

0 komentar

assalamuaalaikum warohmatullahiwabarokatuh..
temen temen yang ingin punya kaos dakwah "rezeki kita soal rasa" bisa sms ke hp 082135662249

"rezeki kita soal rasa"



WARNA

biru muda

KETERANGAN BAHAN

- Cotton Combed
- Jahit rantai bahu

HARGA PROMO

Rp. 75.000,- (Belum Termasuk Ongkir dari jogja)
70% dari keuntungan akan di sedekahkan untuk kegiatan islam dan sosial

UKURAN

M: 70 cm x 45 cm
L: 72 cm x 51 cm
XL: 75 cm x 54 cm
XXL: 84 cm x 66 cm
sementara hanya tersedia ukuran L da XL

mereka mengenalkan pung,musik dan lain lain salah satunya melaui kaos,semoga kaos ini selain bermanfat untuk di kenakan juga dapat menjadi jalan bagi yang membaca untuk selalu bersyukur kepada Allah subhanahuwata'ala atas apa yang di karuniakan-Nya.

tulisan kaos ini ter inpirasi dari buku LAPIS-LAPIS KEBERKAHAN penulis SALIM A FILLAH 
berikut kami kutipkan, semoga bermanfaat.

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”
Rasa nikmat itu telah dikurangi.
Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.
Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.
Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.
Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderitahyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.
Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”
“Adapun kita orang mukmin” “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”
***
Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

di terima atau di tolak itu urusan nanti

0 komentar

Ilustrasi (inet)Dua hari sebelumnya mendapat taujih dari teman berkaitan dengan sikap ikhwan, dan semalam dapat lagi guyonan dari seorang mbak yang berada di Jerman. Dari taujih maupun guyonan tersebut membuat tertawa dan berakhir pada suatu tujuan yang sama. 

Meskipun konteks penyampaiannya berbeda, yang satu berbentuk keseriusan sedangkan yang satunya lebih pada guyonan menuju keheningan malam.
tulisan ini tidak mewakili sikap ikhwah fillah yang sedang membaca, melainkan tulisan ini hanya sebatas imajinasi liar belaka.

 Entah kenapa ikhwah fillah cuma berani membicarakan saja, hanya berani mengguyoni, hanya berani diajak chat melalui sosial media, hanya sanggup menantap jarak jauh tak berani mengatakan siap pada ikatan yang dianjurkan Allah, hanya jago di kandang tapi tidak berani mendatangkan wali. Banyak hal kenapa baru berani di kandang, antara lain tidak punya nyali besar, cuma berani berada di comfort zone, jangan cuma berani nge-like status facebooknya saja, jangan cuma berani following twitternya, merasa belum mampu menafkahi, takut ditolak, ingin membahagiakan keluarga dahulu, dan terakhir tidak dapat restu dari orang tua. Sungguh sakit ya!!!

Mungkin juga karena merasa belum mapan, merasa tidak pantas, merasa belum saatnya untuk menyatakan rasa suka, merasa belum yakin karena tidak setara dengan si wanita baik dari sisi finansial, pendidikan, fisik, keluarga, berasumsi jangan-jangan ditolak, dan jangan-jangan dipermalukan.

Jika memang belum berani, belum sanggup, masih betah di comfort zone, dan belum mendapat restu sebaiknya jangan engkau bicarakan mereka (akhwat) dalam keadaan apapun, jangan nge-like statusnya, jangan following twittenyar.

 Jangan guyonin apalagi memberi janji untuk serius karena itu akan menyakiti hati sendiri dan semakin terlihat bahwa kalian jago di kandang. Kenapa mengatakan jago di kandang? Karena cuma berani aman saja tetapi tidak berani menerima kenyataan pahitnya. Atau kenapa ikhwan bersikap seperti itu, karena nyali sudah hilang dan keberanian sudah tenggelam oleh kegalauan maksimal.
Sampai kapan punya keberanian untuk datang pada walinya? Apakah sampai kaya?

 Padahal kalau tunggu kaya, bisa-bisa usia sudah tua. Sedangkan teman seperjuangan sudah menenteng kiri kanan. Apakah sampai hati yakin? Padahal soal keyakinan tidak ada manusia yang yakin seratus persen bahkan hati itu selalu berbolak-balik dan istikharah merupakan cara menyakini hati. Sampai tidak ada pilihan baru memilih. Sampai puas menikmati kesendirian atau sampai cari waktu pas dari ramalan bintang.

Padahal sudah tahu wanita yang disukai memiliki masa depan yang cerah untuk mendidik si buah hati (anak-anak), memiliki potensi menjadi istri yang shalihah. 
Sedangkan ia memiliki karakteristik yang tidak dimiliki sembarang orang dan memiliki jiwa membangun sekolah peradaban. Jangan sampai orang pernah hadir dalam qalbumu, orang yang pernah kau ucapkan dalam doa, dan orang yang sesuai dengan kriteriamu diambil oleh sang pemberani tentu akan menyesal nantinya.

Tahu gak ? Saat ini tidak gampang mencari wanita shalihah meskipun jumlah wanita lebih dominan dari kaum adam, yang gampang mencari wanita matre, wanita menebar aurat dengan vulgar dan wanita suka bersolek di luar nalar. Bayangkan saja jika wanita minim ilmu agama dan menebar aurat begitu gampang, apa yang akan terjadi ketika membina rumah tangga dan menciptakan perabadan kehidupan…”Jawab aja sendiri”.

Maaf bukan bermaksud menyentil, bukan maksud menyinggung, bukan maksud membuat galau. Rangkaian kalimat ini semoga bisa menjadi motivasi untuk bangkit, untuk menjadi pemberani, untuk bebenah segera dan agar tetap bisa menjaga hati dalam kondisi keindahan.

Apakah rela orang tersebut diambil orang lain?! Tentu tidak diinginkan. Jikaulah tidak mau, segera nyatakan perasaan tersebut kepadanya orangtua dan sampaikan maksud bahwa siap menjadi partner terbaik bagi anak mereka. Apakah nanti diterima atau ditolak itu soal nanti. Datang saja belum tapi sudah pesimis, sudah takut, sudah menyimpulkan dan sudah minder saja. Kalau beranggapan seperti itu terus sampai kapan berani?

Bukankah kepribadian seperti itu adalah kepribadian yang ling-lung. Apakah sampai tumbuh keberanian, sampai yakin, sampai dapat ilham?! Padahal laki-laki membiarkan wanita yang disukai diambil oleh orang lain adalah laki-laki tidak mempunyai prinsip, laki-laki bodoh dan belum siap membebani tanggung jawab.
 Masalah penolakan itu adalah hal biasa dalam siklus kehidupan. Kalau hidup tanpa penolakan sepertinya bumbu-bumbu kehidupan tidak begitu nyeesss. Ibarat makanan diperlukan berbagai macam bumbu agar merasa nikmat makanan tersebut begitu juga dalam mencapai cita-cita dalam menemukan pasangan hidup tentu juga harus mendapat penolakan agar memahami apa kekurangan diri.

Meminjam status teman yang dipublikasi melalui facebook bahwa 
“Nikahi seseorang itu dengan kekuatan iman & potensi yang dimilikinya. Gunakanlah mata hatimu untuk melihat seseorang hari ini dengan refleksi MASA DEPAN. Bila hari ini dia miskin, atau hari ini dia masih belajar, tidak masalah!!. Bila hari ini dia kesulitan, atau dia belum mencapai pencapaian standar-standar dunia, jangan takut! Lihatlah potensi itu, kenalilah pikiran dan karakternya. Apakah dia berpotensi menjadi ayah/ibu, berpotensi menjadi kaya raya, atau berpotensi membangun umat? Dan tentu potensi tertinggi adalah apakah dia berpotensi masuk surga dan kita bisa turut serta bersamanya?”

Selamat menjadi jiwa pemberani dan tidak hanya berani di kandang saja tetapi berani menunjukkan pada orang bahwa kita adalah insan yang siap mengemban amanah yang mengalirkan pahala, siap mendatangkan walinya dan siap menjadi imam kehidupan dalam keluarga Sakinah Mawaddah Warrahmah.
sumber dakwatuna.com

 
  • Mengenal alqur'an lebih dekat © 2012 | Designed by dara izhhar, in collaboration with syarie blogmaker , Blogger Templates and WP Themes