Akhwat Tak Perlu Menunggu, Ikhwan Tak Perlu Meragu

0 komentar


59821_10151285367571798_2019727870_nAkhwatmuslimah.com – Hmm … Ada statement menarik nih dari seorang akhwat. Tugas kami akhwat cuma menunggu untuk “diam” atau “tolak”. Slogan yg bikin galau terus melanda: akhwat terus menunggu, ikhwan terus meragu. Alhamdulillah, saya dan istri pernah memproses menikahkan ikhwan dan akhwat, dimana inisiatif datang dari akhwat.
Ada seorang akhwat yang pernah jadi binaan ngaji (mutarobi) istri saya, tiba-tiba mendatangi istri saya: “mbak, aku mau nikah” , katanya.
Istri saya jawab: “bagus itu, sudah ada calonnya?” | “belum mbak, tapi aku suka sama seorang ikhwan” | “siapa ikhwannya, biar saya dan suami bantu”
Akhwat ini kemudian menyebutkan nama seorang ikhwan, salah satu ikhwan terbaik di ITB.
Setelah tahu nama ikhwannya, saya mendatangi ikhwan tersebut. “Akh, apakah antum ada rencana menikah?” | “insya allah akh”
“Kalau dalam waktu dekat, antum menikah gimana? ” | “boleh aja, insya allah siap” | “sudah ada bayangan siapa calon istrinya?” | “belum akh”
“Bagaimana kalo ana mengusulkan nama akhwat untuk antum? ” | “boleh akh” | “gimana kalo akhwat ini? Saya sebutkan namanya
Setelah saya sebutkan namanya, ikhwan ini bilang: “akhwat ini luar biasa akhii, apa saya pantas jadi suami beliau?” | “insya Allah akhii”
“Gimana akh, antum mau menikah dengan akhwat ini?” | “masalahnya, dia mau gak sama saya?” | “tenang akh, soal itu, urusan ana dan istri” :D
“Mau ya nikah dengan akhwat ini” | “insya allah akh” . Alhamdulillah, saya beritau ke istri, istri beritahu ke akhwatnya.
Saya kontak guru ngajinya ikhwan dan istri kontak guru ngajinya akhwat, minta ijin ikhwan dan akhwat ini saya dan istri yamg bantu prosesnya.
Alhamdulillah, kami pertemukan ikhwan dan akhwat ini, untuk mempertanyakan hal-hal yang mungkin masih ada keraguan.
Setelah keduanya mantap meneruskan prosesnya, tugas selanjutnya adalah meyakinkan kedua orang tua. Giliran ikhwan yang datang ke ortu akhwat. Selama akhwat ini jadi binaan ngaji istri saya, beliau selalu menceritakan hal-hal positif tentang istri saya, sampe si ortu penasaran ingin ketemu istri. Akhwat ini dari daerah di jawa tengah. Ketika ortunya ke Bandung, mereka sangat ingin bertemu dengan istri. Beberapa kali istri saya menemui beliau. Kondisi ini kami manfaatkan, saya yang menemani ikhwan saat mendatangi keluarga akhwat di Jawa Tengah. Karena begitu positifnya istri saya di mata ortu si akhwat, kata-kata yang saya ucapkan ketika pertama bertemu ortunya akhwat adalah …
“Bapak , ibu … Kenalkan sy hafidz, suaminya iin” :D
Alhamdulillah, semuanya lancar, ortunya akhwat langsung setuju . Pulang dibawain oleh-oleh buanyak bener :D
Ikhwan dan akhwat ini akhirnya menikah, sudah punya dua anak. Bahwa si akhwat duluan yang suka ke ikhwannya, tidak saya sampaikan ke ikhwan. Setelah mereka menikah, baru saya sampaikan ke ikhwannya, bahwa si akhwatlah yang mengajukan namanya duluan. Gpp kan? :D  Biarlah cerita bahwa si akhwat yang suka dulu, jadi bahan obrolan di kamar mereka :D
Saya dan istri senang sekali membantu akhwat-akhwat yang bersedia menyebut nama ikhwan yang memikat hatinya :)
Terakhir ketemu ikhwan dan akhwat ini pas pemilu IA ITB kemarin. Tetap seorang ikhwan dan akhwat aktivis. Alhamdulillah.
Lain lagi ikhwan dan akhwat yang lain. Si ikhwan menyebut sebuah nama. Kemudian kami lobi supaya akhwatnya mau. Akhirnya mau.
Saat semua sudah setuju, sudah lamaran, menjelang nikah, si akhwat tiba-tiba meragu dan mundur.
Kemudian ikhwan ini menyebut nama lain, kita bantu, akhirnya menikah dengan akhwat ini. Dan akhwat yang mundur tadi juga sudah menikah dengan yang lain
Lain dengan ikhwan yang lain. Ikhwannya sahabat saya dan akhwatnya sahabat istri. Ikhwan dan akhwat sudah setuju, keluarga akhwat sudah setuju. Pas akhwat berkunjung ke keluarga ikhwan, ibunya ikhwan ini tidak setuju karena dianggap kurang cantik. Akhirnya prosesnya batal.  Alhamdulillah, tak lama kemudian. Akhwat menikah dengan yang lain, yang lebih shalih dar isi ikhwan tadi. Si ikhwan menikah dangan akhwat yang lebih cantik
Lain lagi dengan ikhwan yang lain, menyebut nama seorang akhwat, tapi sampai 7x bertemu ditolak terus. Akhirnya mengajukan akhwat lain, menikahlah. Ikhwan yg 7x ditolak ini, setelah menikah, bersyukur sekali menikah dangan istrinya sekarang dan tak menyesal karena tidak menikah dengan akhwat yang menolaknya.
Menjodohkan orang itu menyenangkan …
Menjodohkan orang, terutama binaan-binaan adalah hobi kami berdua, saya dan istri.
Slogan “akhwat menunggu, ikhwan meragu” sangat menghambat gerakan perlawanan ini, perlawanan terhadap budaya pacaran dan zina.
Ikhwan dan akhwat harus sama-sama pro aktif , meskipun cara pro aktifnya berbeda. Jangan kayak telenovela korea.
Acung jempol buat akhwat-akhwat yang pro aktif.
Akhwat yang meminta langsung ke ikhwan, ini jelas berat untuk seorang akhwat. Makanya kita bantu ngomongnya. [ ]
Sumber : http://hafidzary.wordpress.com

Tanda Akhir Zaman, Jika Wanita Jadi Tukang Dagang

0 komentar


dagangAkhwatmuslimah.com - DUNIA usaha bukan lagi monopoli laki-laki. Lihat saja, sekarang ini banyak usaha yang dikelola oleh seorang perempuan. 1600 tahun yang lalu, Rasulullah menyebutkan bahwa ini adalah salah satu tanda akhir zaman.
Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya menjelang kiamat akan ada ucapan salam khusus dan perdagangan tersebar luas sehingga seorang perempuan ikut serta dengan suaminya dalam perdagangan.” (HR. Ahmad) (Hadits dishahihkan oleh Ahmad Syakir Isnadnya, sebagaimana riwayat Hakim)
Akhir abad ke-20 merupakan masa-masa tumbuh dan gencarnya emansipasi. Dan pada abad ke-21 sungguh mengejutkan banyaknya pabrik-pabrik, kantor-kantor, pasar dan pusat perdagangan, dan lapangan pekerjaan lainnya, dipadati oleh komunitas perempuan.
Bahkan pekerjaan kasar yang sejatinya dilakukan oleh kaum laki-laki pun tak luput dari campur tangan perempuan. Sebagai contoh pekerjaan kuli pasar, pekerja bangunan, kernet bus, polisi, pekerja SPBU, polisi lalu lintas, pendorong gerobak, kini sudah banyak diisi oleh kaum perempuan.
Hadits di atas juga menggambarkan maraknya perdagangan di kalangan manusia. Tugas mencari nafkah yang sebenarnya dibebankan kepada kaum laki-laki, ternyata juga banyak dilakukan oleh kaum perempuan.
Hadits di atas juga bisa sebut sebagai peringatan dari nabi untuk berhati-hati dengan fenomena yang terjadi saat ini, di mana peran seorang perempuan sudah banyak berubah di akhir zaman. Mereka tidak lagi menahan diri mereka di rumah, yang memang itu lebih baik untuk mereka. Namun, justru keluar dari rumah mereka dan ikut meramaikan pasar-pasar dengan kehadiran mereka di tengah-tengah kaum laki-laki.
Dengan alasan persamaan gender dan emansipasi, banyak dari kaum perempuan yang menuntut agar mereka mendapatkan peran dan posisi yang setara dengan kaum laki-laki, jelas ini merupakan penyimpangan fitrah mereka sebagai perempuan.
Bisa jadi hadits tersebut juga sebuah gambaran sulitnya beban ekonomi yang harus dipikul oleh seorang kepala keluarga, sehingga tugas mencari nafkah juga harus melibatkan istri. Wallahu’alam
Sumber : Buku Fitnah dan Petaka Akhir Zaman  Oleh Abu Fatiah al- Adnani

shalat shalat sunnah

0 komentar

Di antara nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin adalah adanya amalan-amalan sunnah setelah Allah menetapkan adanya amalan-amalan yang wajib. Dengan adanya amalan-amalan sunnah tersebut, maka semakin banyaklah kesempatan untuk beramal bagi seorang muslim. Di antara amalan sunnah tersebut adalah apa yang dikenal sebagai shalat sunnah.
Definisi Shalat Sunnah
Yang dimaksud dengan shalat sunnah adalah seluruh shalat yang apabila ditinggalkan dengan sengaja oleh seseorang, maka tidak akan menyebabkan ia berdosa. Dalam ilmu fiqih, shalat sunnah sering juga disebut dengan istilah lain seperti shalattathowwu’, shalat mandubah, dan shalat nafilah.
Macam-macam Shalat Sunnah
Berikut di antara shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan:
[1] Shalat Rowatib
Shalat rowatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib yang lima waktu, baik itu dilaksanakan sebelum atau pun sesudahnya. Shalat rowatib yang dilakukan sebelum shalat wajib dinamakan juga dengan shalat sunnah qobliyyah dan shalat rowatib yang dilakukan sesudah shalat wajib dinamakan juga dengan shalat sunnah ba’diyyah. Berdasarkan keterangan-keterangan hadits yang ada, berikut jumlah dan waktu shalat rowatib yang boleh dilakukan : dua raka’at sebelum shubuh, empat raka’at sebelum dan sesudah zuhur, empat raka’at sebelum ashar, dua raka’at sebelum dan sesudah maghrib, serta dua raka’at sesudah ‘isya.
Sangat dianjurkan untuk merutinkan shalat rowatib 12 raka’at dalam sehari dan semalam. Dalam sebuah hadits Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa shalat dalam sehari semalam dua belas raka’at maka akan dibangunkan untuknya rumah di Surga, yaitu: empat raka’at sebelum zuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah maghr.ib, dua raka’at sesudah ‘isya, dan dua raka’at sebelum shubuh” (HR. Tirmidzi, derajat : hasan).
Di antara seluruh shalat rowatib tersebut, yang paling utama untuk dilakukan adalah dua raka’at sebelum shubuh, atau yang sering disebut dengan istilah shalat sunnah fajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua raka’at sunnah fajar (shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
[2] Shalat Sunnah Mutlak
Shalat sunnah mutlak adalah shalat sunnah yang dilakukan dengan tidak terikat pada waktu tertentu, tempat tertentu, sebab tertentu, atau jumlah raka’at tertentu. Dengan kata lain, shalat ini boleh dilakukan kapanpun (kecuali pada waktu-waktu tertentu yang memang dilarang), di manapun (kecuali pada tempat-tempat tertentu yang memang dilarang), dengan jumlah raka’at berapapun. Shalat ini boleh dilaksanakan dengan cara dua raka’at-dua raka’at.
Di antara waktu yang terlarang untuk melaksanakan shalat sunah mutlak adalah : (1) waktu setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari, (2) waktu ketika matahari tepat lurus berada di atas kepala hingga sedikit tergelincir ke barat, dan (3) waktu setelah shalat ashar ketika matahari sudah menguning hingga matahari terbenam.
Dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat sunnah mutlak adalah sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perbanyaklah bersujud (dengan shalat), karena tidaklah engkau bersujud sekali kecuali Allah akan mengangkat satu derajat untukmu dan menghapus satu kesalahan darimu” (HR. Muslim).
[3] Shalat Tahajjud
Shalat tahajjud sering juga disebut sebagai shalat malam atau qiyamul lail, yaitu shalat sunnah yang boleh dilaksanakan di malam kapanpun, setelah seseorang bangun dari tidurnya sampai waktu terbitnya fajar. Sedangkan waktu yang paling utama untuk melakukan shalat tahajjud adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda tentang shalat tahajjud“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Shalat tahajjud boleh dilaksanakan dengan cara dua raka’at-dua raka’at hingga jumlah raka’at yang mampu dilakukan.
[4] Shalat Witir
Secara bahasa, witir bermakna ganjil. Dinamakan demikian karena shalat witir hanya boleh dilaksanakan dalam jumlah ganjil —satu raka’at, tiga raka’at, dan seterusnya. Pelaksanaannya boleh sejak setelah shalat ‘isya sampai terbitnya fajar. Apabila shalat witir dikerjakan bersamaan dengan shalat malam, maka shalat witir dilaksanakan sebagai penutup shalat malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir” (HR. Bukhari & Muslim).
Untuk shalat witir yang tiga raka’at, boleh dilaksanakan dengan dua cara : (1) dua raka’at kemudian salam dan di tambah dengan satu raka’at kemudian salam, atau (2) dilaksanakan sekaligus tiga raka’at dengan satu kali duduk tasyahud dan satu kali salam.
[5] Shalat Dhuha
Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada waktu dhuha. Yang dimaksud dengan waktu dhuha adalah waktu sekitar 15 menit setelah terbitnya matahari sampai tibanya waktu zuhur. Di antara yang menjelaskan keutamaan shalat dhuha adalah sebuah hadits:
Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih bernilai sedekah, setiap bacaan tahmid bernilai sedekah, setiap bacaan tahlil bernilai sedekah, dan setiap bacaan takbir juga bernilai sedekah. Amar ma’ruf juga bernilai sedekah, dan nahi mungkar juga bernilai sedekah. Itu semua bisa diganti dengan melaksanakan shalat dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR.. Muslim).
Shalat dhuha juga boleh dilaksanakan dengan cara dua raka’at-dua raka’at hingga jumlah raka’at yang mampu dilakukan.
[6] Shalat Isyroq
Shalat isyroq sebenarnya merupakan bagian dari shalat dhuha. Pembahasan tentang shalat ini sering disendirikan karena pelaksanaannya yang harus di awal waktu dhuha dan karena keutamaannya yang sangat besar. Isyroq maknanya adalah terbitnya matahari. Dinamakan shalat isyroq karena dilakukan beberapa saat (sekitar 15-20 menit) setelah terbitnya matahari. Di antara hadits yang menjelaskan keutamaan shalat isyroq adalah :
Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh” (HR. Tirmidzi, derajat : hasan).
Dari hadits tersebut diketahui pula bahwa syarat untuk melaksanakan shalat isyroq adalah harus didahului dengan shalat shubuh berjamaah di masjid lalu berdzikir sampai waktu 15-20 menit setelah matahari terbit. Berdzikir tersebut bisa dalam bentuk membaca Al Quran, membaca baaan dzikir, mendengarkan tausiyah, dan seterusnya.
[7] Shalat Tahiyatul Masjid
Tahiyatul masjid secara bahasa artinya adalah penghormatan terhadap masjid. Adapun secara istilah, shalat tahiyatul masjid adalah shalat dua raka’at yang dilakukan sebelum seseorang duduk di dalam masjid kapan pun waktunya, termasuk ketika khotib jum’at sedang berkhutbah, tetap dianjurkan untuk melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila salah seorang diantara kalian memasuki masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia shalat dua raka’at”(HR. Bukhari dan Muslim).
[8] Shalat Sunnah Wudhu
Shalat sunnah wudhu adalah shalat sunnah dua raka’at atau lebih yang dilaksanakan oleh seseorang yang baru saja berwudhu, kapan pun waktunya. Di antara dalil yang menganjurkan shalat sunnah wudhu adalah hadits yang menjelaskan tentang pertanyaan Nabi kepada Bilal tentang amalan yang paling Bilal sukai. Bilal pun menjawab, “…tidaklah aku berwudhu ketika siang atau pun malam hari kecuali aku akan shalat dengan wudhuku itu sesuai dengan apa yang telah ditetapkan untukku” (HR. Bukhari dan Muslim).
[9] Shalat Gerhana
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat gerhana adalah sunnah. Namun sebagian lagi berpendapat shalat gerhana adalah wajib. Terdapat sebuah perintah dari Nabi untuk melaksankan shalat apabila melihat gerhana”Jika kalian melihat dua gerhana (matahari dan bulan), bersegeralah menunaikan shalat” (HR. Bukhari).
Shalat untuk gerhana matahari biasa disebut dengan isitlah shalat kusuf, adapun shalat untuk gerhana bulan biasa disebut dengan istilah shalat khusuf. Tatacara pelaksanaan shalat gerhana berbeda dengan shalat sunnah lainnya, diperlukan pembahasan sendiri untuk menjelaskannya.
Tata Cara Shalat Sunnah
Pada asalnya, tatacara pelaksanaan seluruh shalat sunnah sama dengan shalat biasa dan dilakukan dengan dua rakaat-dua raka’at. Namun, hal tersebut tidak berlaku apabila memang ada dalil yang menjelaskan bahwa tata caranya memang berbeda, semisal tata cara pelaksanaan shalat witir yang boleh dalam tiga raka’at sekaligus hanya dengan satu duduk tahiyah dan satu salam, atau shalat gerhana yang dilakukan dengan dua rukuk setiap raka’at.
Lebih Utama di Rumah
Shalat-shalat sunnah yang telah disampaikan di atas jika tidak dipersyaratkan untuk dilakukan di masjid, maka lebih utama untuk dilakukan di rumah. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda, “Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali untuk shalat wajib” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akan tetapi, ada kondisi yang dapat menyebabkan shalat sunnah bisa lebih utama untuk dilaksanakan di masjid daripada di rumah, semisal jika dilaksanakan di rumah akan muncul rasa malas atau akan tidak khusyuk karena diganggu oleh anak-anak.
Penutup
Demikian di antara shalat sunnah yang kita dianjurkan untuk melaksanakannya. Terdapat beberapa shalat sunnah lainnya yang belum disebutkan di dalam pembahasan ini. Semoga kita dimudahkan untuk melakukan segala kebaikan.
Penulis : Muhammad Rezki Hr., ST., M.Eng. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah : Ustadz Aris Munandar, M.PI

menembus batas

0 komentar


Ilustrasi (syahrulsila.wordpress.com / dasraldesign)
Ilustrasi (syahrulsila.wordpress.com / dasraldesign)
dakwatuna.com - “Satu janji itu adalah surga. Inilah yang dijanjikan untuk mereka yang telah berjihad, yang didera duka dan kegetiran, yang berjuang mati-matian di jalan dakwah” (Sayyid Qutb”

Apa yang membuat ragu bung? Jika saat ini kita merasa sulit, maka sebentar lagi kita akan melesat cepat. Betapa sedikit orang yang bersabar atas langkahnya padahal ternyata hanya tinggal selangkah lagi ia berjalan, ia akan sampai pada tujuan.

Kadang kita berusaha keras atas cita-cita kita, namun Allah belum wujudkan dengan segera, sungguh itu karena Allah ingin melihat kesungguhan kita dan kerja keras kita. Bahkan kita jarang menyadari apa yang kita upayakan itu ternyata terwujud bukan dari tangan kita, bukan dari usaha kita, bukan dari langkah kita, tapi dari orang lain.

Apapun Yang Terjadi Kita tetap Meyakini, dada kita dipenuhi keyakinan, dipenuhi keimanan. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Apakah hajar mendapatkan apa yang ia cari saat berlari di dua bukit; syafa dan marwa? Tidak! Justru ia dapatkan bukan dari kerja kerasnya berlari-berlari, melainkan dari kaki Ismail yang menangis kehausan lah ia temui air.

Apa yang membuat ragu bung? Tetaplah berjuang, meski belum kita dapatkan titik terang keinginan, karena Allah selalu melihat upaya dan kerja keras yang kita lakukan.
Jika ada yang meragukan kita, katakanlah apa yang dikatakan Columbus pada Ferdinand dan khalayak “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”
Tidak ada yang tidak mungkin! Selama ada keimanan yang terhujam dalam dada, maka saat itu pula kita sadar, kita adalah satu dari banyak orang yang tengah bekerja, berupaya, dan berusaha membangun menara Cahaya. Inilah yang membedakan kita dengan yang lain. Keimanan, ya keimanan. Wallahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/12/23/43691/menembus-batas/#ixzz2oLGavkKX 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

kumpuan artikel seputar natal dan tahun baru

0 komentar

Berikut ini kami rangkumkan beberapa artikel di muslim.or.id yang membahasan mengenai hukum ikut merayakan Natal dan tahun baru masehi, serta bahasan yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Semoga bermanfaat.
Artikel-artikel mengenai adab berinteraksi dengan orang kafir:

semoga bermanfaat

jangan mengucapkan selamat natal

0 komentar

Seorang muslim tentu tidak boleh mengucapkan selamat natal. Itu sudah jadi prinsip umat Islam. Namun banyak yang belum memahami hal ini dan tetap bertoleransi dalam hal yang terlarang.
Logika Sederhana
Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan.
(Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani)
Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku?
Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami.
Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku.
Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau?
Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya.
Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja.
Natali : Baik, sekarang, saya mengerti.
Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb.
Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75).
Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya.
Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal
1- Natal bukan perayaan umat Islam
Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar.
Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
2- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir.
Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama.
Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4)
Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138).
3- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama.
Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441)
4- Muslim diperintahkah menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم

Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.”
Umar berkata,

اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم

Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.”
Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724.
5- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Artikel Muslim.Or.Id

 
  • Mengenal alqur'an lebih dekat © 2012 | Designed by dara izhhar, in collaboration with syarie blogmaker , Blogger Templates and WP Themes