…karena pacaran diajarkan

0 komentar

Apa yang ada dalam pikiran kamu ketika membaca judul ini? Hmm.. mungkin ada yang memahami: “bahwa pacaran memang diajarkan, sehingga ya wajar banyak yang pacaran.” Sebagian yang lain berpikir, “Ooh.. pacaran itu diajarkan, jadi boleh-boleh saja melakukannya.” Selain itu ada lagi nggak? Opsi lainnya ini kayaknya nih: “karena pacaran diajarkan, maka memang itulah realitanya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, nggak perlu merasa khawatir dipermasalahkan. Toh, udah biasa dong ya.” BTW, kamu pilih jawaban yang mana dari ketiga pilihan tadi? Atau mungkin kamu punya jawaban sendiri ya. Baiklah. Kita langsung saja geber membahas masalah ini.

Bro en Sis, gaulislam edisi pekan ke 163 ini sengaja membahas tentang PACARAN. Tentu ada alasannya. Ketika saya ikut nyebarin gaulislam edisi cetak ke sekolah-sekolah. Eh, diralat, bukan ikut nyebarin, tapi nyebarin langsung. Kalo ikut kan berarti bareng teman-teman yang lain hehehe.. Iya, soalnya pekan kemarin kru distribusi pada nggak bisa semua. Ada yang kerja, ada yang lagi nyari kerjaan. Jadinya, editornya langsung deh yang turun tangan. Tapi, ada hikmahnya. Jadi seru obrolan bersama para guru di beberapa sekolah lho. Gini ceritanya.

Salah satunya ngobrol bareng Pak Solihin (lha ini emang namanya sama dengan saya, cuma emang beda ruh dan jasadnya, hehehe). Beliau adalah pengajar di SMKN 1 Bogor. Seru banget ngobrol sama beliau (bukan karena namanya sama dengan saya lho, tapi emang nyambung aja gitu). Nah, satu obrolan dengan beliau yang kemudian menjadi inspirasi saya dalam menulis artikel gaulislam edisi pekan ini adalah tentang pacaran.

Beliau menyayangkan dan juga mengeluhkan dengan banyaknya sikap remaja yang sudah menganggap BIASA dalam pergaulannya dengan lawan jenisnya. Sederhananya, pacaran atau gaul bebas sudah dianggap sebagai budaya tersendiri karena banyak yang melakukannya. Pacaran diajarkan dalam film, di sinetron, dalam iklan, dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah ada yang pacaran, di jalan-jalan raya banyak pelajar cowok-cewek yang gandengan tangan. Pulang sekolah jalan berdua nggak punya tujuan. Persis kayak truk gandengan nggak bawa muatan. Runtang-runtung nggak jelas juntrungan. Apalagi kalo pada bokek semua. Jadinya cuma jalan-jalan doang nggak pake acara jajan (backsound: jadi inget lagunya Iwan Fals yang 22 Januari itu, lho. Tapi diplesetkan dikit: “Jalan bergandengan tak pernah jajan-jajan”. Wakakakak…)

Obrolan kami santai dan cair. Karena sudah saling mengenal. Selain sering ketemu pas anter gaulislam untuk jatah SMKN 1 Bogor, juga saya beberapa kali mengisi acara talkshow remaja di sana. Seru lah pokoknya. Dari sini saya tambah yakin, bahwa mengemban amanah dakwah ini memang berat. Nggak semua orang mau dan sanggup melakukannya. Dakwah, bukan saja amar ma’ruf alias menyeru kepada kebaikan, tapi harus dilengkapi dengan nahi munkar (mencegah kemungkaran). Idealnya begitu. Tapi, biasanya kalo udah nahi munkar, kita kadang berani kadang tidak. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Para guru di sekolah tidaklah cuek. Mereka juga tetap menjalankan amanahnya dalam mendidik dan membina murid-muridnya. Tapi, memang tugasnya perlu dibantu pihak lain. Mudah-mudahan keberadaan gaulislam bisa menjadi tandem dakwah yang keren di sekolah-sekolah. Ibarat dalam sepakbola, harus kompak antar pemain di semua lini. Kiper, bek, pemain sayap, dan striker. Kalo nggak kompak, main bola nggak seru. Permain sebagus apapun nggak bisa menjebol gawang lawan tanpa kerjasama. Tapi kalo udah kerjasamanya bagus, buktinya Irfan Bachdim dkk bisa membawa Indonesia menghabisi Malaysia dalam laga AFF Suzuki Cup 2010 pekan kemarin, dengan skor telak 5-1. Laos juga diterkam Firman Utina dkk dengan 6-0. Gooool! Gooool! (lho, kok jadi ngomongin sepakbola sih? Hehehe)

Ok. Sekarang balik lagi ke topik tentang pacaran. Saat ini, pacaran udah dianggap sebagai jalan suci menjalin kasih di antara para remaja. Tak sedikit pasangan yang sudah mengikat janji setia di antara mereka. Sepertinya, setelah mendapatkan status sebagai pacarnya si anu, seorang remaja berhak memamerkannya kepada teman lainnya dan ada kewajiban menjaga pasangannya. Minimal ngajak jalan-jalan dan ada waktu khusus ketemuan. Malah ada yang dikunjungi secara rutin (idih, WC kaleee).

Pacaran sehat, tetap maksiat

Obrolan dengan Pak Solihin masih berlanjut. Beliau mencontohkan bahwa ada anak sekolah yang ketika ditanya kenapa pacaran, jawabannya: “kami kan pacarannya sehat, Pak”. Weleh-weleh… udah bisa berdalil rupanya teman kita ini. Sehat menurut siapa? Lagian standar sehat dan nggak sehatnya apa sih? Kok kayaknya gampang banget mengklaim bahwa yang dilakukannya adalah pacaran sehat?

Mungkin, yang dimaksud pacaran sehat menurut para remaja yang mengklaimnya adalah: tanpa seks. Okelah, seks bebas atau berzina memang berbahaya dan dosa. Itu nggak sehat menurut syariat. Tapi, apa ada jaminan kalo orang yang pacarannya nggak sampe ngeseks bisa terus bertahan? Nggak juga kok. Sebab, kalo dilakukan PNDK alias Penelusuran Nafsu Dan Kekuatan, banyak remaja yang nggak tahan menahan nafsu. Justru karena nafsu makin kuat kalo udah ada kesempatan. Betul? Jadinya, yang tadinya “baik-baik” pun, berubah jadi “biadab” dan berperilaku bak hewan. Dasar bajigur! Naudzubillah min dzalik.

Maklum, soal nafsu dan kekuatan emang bisa mengalahkan akal sehat dan juga keimanan. Sebab, ketika keimanan yang cuma nyangkut di KTP itu, setan pun getol bergerilya dan menaburkan jerat-jerat dan mengobarkan hawa nafsu kepada mereka yang imannya kendor. Kalo udah gitu, setan tinggal jejingkrakan sambil diriingi irama kesesatan karena udah berhasil menjerumuskan manusia ke jurang nista karena akal sehat dan imannya terkubur hawa nafsu.

Benar adanya firman Allah Swt. (yang artinya): “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan-nya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jaatsiyah [45]: 23)

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. menegaskan bahayanya zina. Seperti dalam firmanNya (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa [17]: 32)

Bukti lain bahwa pacaran ini bisa menjerumuskan pelakunya kepada kemaksiatan yang lebih jauh lagi, yakni berzina, bisa dilihat dari maraknya pemberitaan di media massa. Banyak remaja putri yang dihamili pacarnya. Ada sih cowoknya yang kemudian menikahinya tapi nggak sedikit yang kabur sambil menghilangkan jejak. Bahkan pernah ada juga yang kirim SMS ke redaksi gaulislam untuk curhat soal itu dimana dirinya menurut pengakuannya via SMS udah nggak perawan lagi. Itu terjadi gara-gara pacaran yang memang akan berujung jadi kebablasan itu. Duh, pokoknya kasihan deh. Jadi, jangan coba-coba pacaran ya. Nggak sehat dan emang melanggar syariat.

Nikmat sesaat, sengsara selamanya

Rugi! Ya, rugi banget dan rugi berat kalo kita cuma ngejar kenikmatan sesaat tapi sengsara selamanya. Mereka yang terkategori gawat darurat dalam urusan parahnya mengendalikan hawa nafsu sering berbuat nekat. Hubungan seks yang cuma legal dilakukan sepasang suami-istri ternyata mereka berani melakukannya juga dengan pacarnya. Waduh, ini kan sangat berbahaya. Kalo nafsu udah di ubun-ubun, mereka suka lupa dengan norma apalagi dosa.

Ah, ini namanya nafsu kenceng, keimanan blong. Ya, susah ngeremnya. Duh, kondisi ini terasa kian berat bagi kita. Sebab, setiap tarikan napas kita sudah bercampur debu kemaksiatan. Mau nonton televisi, tayangan yang banyak muncul justru yang “gersang” alias “seger” merangsang. Mau baca tabloid, majalah, koran, juga kita rasanya pengen muntah karena disuguhi menu yang “itu-itu” aja. Utamanya di tabloid dan majalah “esek-esek”. Nyaris nggak ada pilihan bagi kita. Menurut Walter Lippman, bisa diistilahkan sebagai “pictures in our head”. Sebab, semua gambaran informasi itu ada di manapun dan diberikan dengan penguatan pesan seolah-olah itu benar dan harus diikuti. Informasi itu terbentuk di kepala setiap orang karena disampaikan secara gencar dan rutin di berbagai media massa. Gawat! Jadi, karena semuanya begitu, maka jangan salahkan pem­baca dan pemirsa 100 persen, bila kemudian mereka berperilaku bejat. Para pengelola acara televisi, radio, internet dan pengelola bisnis majalah, koran, dan juga tabloid kudu bertanggung jawab juga (eh, negara juga dong).

Oke deh, hati-hati dengan pacaran ini. Lebih enak dan benar emang menikah. Kenapa? Karena dalam ikatan pernikahan yang sah kamu boleh sesukanya bermesraan dengan pasanganmu tanpa kudu merasa risih. Asmara yang mekar juga sudah jelas sasarannya. Rindunya bukanlah rindu yang terlarang. Bahkan cintanya adalah cinta yang suci-bersih dan tentunya semua yang dilakukan, asal sesuai dengan tuntunan syariat, so pasti halal. Ya, halal. Jadi, kalo pacaran adalah nikmat yang membawa mudharat, sementara menikah adalah nikmat dan sesuai syariat. Pilih mana? Orang cerdas pilih taat syariat. Betul?

Mungkin di antara kamu ada yang komentar: “Lha, kita masih remaja, kan belum dibolehkan nikah?” Gini aja, jadikan info ini sebagai bekal pemahaman, dan sekarang fokus belajar dan raih cita-citamu. Setuju? Akuur…! [solihin: osolihin@gaulislam.com]

Antara Kita dan Televisi

0 komentar

Jaman sekarang, kalo nggak kenal televisi kayaknya bener-bene kuper deh. Sebab, benda ini hampir bisa dipastikan sudah diketahui orang dan pernah melihatnya. Televisi adalah bagian dari kemajuan teknologi, dan ini ngak akan bisa dibendung. Aplikasi ilmu tentu bakal terus berkembang sesuai tuntutan jaman dan seisi makhluk yang hidup di bumi ini.

Bro en Sis, tiap benda apalagi ciptaan manusia pastinya punya manfaat juga mudharat. Ada positif juga negatif. Kudu dicatet ya Guys, trus diinget dan diamalkan, bahwa di dalam Islam: manfaat dan mudharat bukan jadi dasar alias standar dalam ngecap suatu benda tapi kudu ditahqiqul manath alias diidentifikasi dengan teliti berdasar petunjuk dari al-Quran dan hadist ampe didapet tuh benda statusnya haram apa halal. Kalo pun tuh benda digunakan, kudu diperhatiin status hukumnya wajib, sunnah, mubah, makruh or haram. So, jelas ye kalo hukum benda dan hukum perbuatan sebenernya terpisah.

Lha, gimana dengan tv? Televisinya sih udah jelas benda ya. Benda mati pula. Dipencet or dijitak ya doi nggak protes. Paling juga rusak kalo dibanting hehehe. Yang jelas gunanya jadi alat perantara (wasilah) buat pendidikan, hiburan juga nambah informasi. Yup, tv adalah benda mati yang merupakan hasil teknologi (madaniyah) dan sifatnya universal. So, status hukum dari tv adalah halal/mubah.

Nah, sebenernya yang jadi masalah adalah isi dari tuh tv. Bukan kabel atau elemen elektroniknya! Tapi tayangan-tayangan yang disiarin dari berbagai stasiun tv yang ada di dunia ini yang kemudian bisa hadir di rumah-rumah kita. Itu yang biasanya jadi masalah buat kita semua. Yang demen nonton sinetron, bola, ftv, dorama, kartun-anime, talk show, reality show bahkan infotainment alias gosip artis ampe lupa waktu! Dan virus ‘males” pun melanda berbagai sektor (hehehe), mulai shalat, ngaji, belajar, bantu-bantu ortu, bahkan ampe tidur pun jadi males tuh! Alesan sih :”Nanggung, nih masih rame acara tv-nya.” Nggak heranlah mulai perabotan belajar, makan, juga bobo pun parkir di depan tv. Hayaaah! Segitunya euy!

Lebih gawat lagi kalo ampe ngubah kepribadian kita. Misalnya style kamu udah kayak Jang Geun Seuk di He’s Beautiful (ehm..), terus latah pake baju-baju minimizer atas-bawah kayak para presenter infotaiment en talkshow or pemeran FTV. Wasyah, ini nih yang namanya korban peradaban. Peradaban kapitalis-sekuler karena ideologi ini yang dominan di dunia saat ini, termasuk di negeri-negeri muslim.

So, gimana dong dengan nonton tv? Kalo acaranya bisa ‘merangsang’ kamu buat ngelakuin hal yang dilarang Allah Swt., udah jelas kagak boleh ditontonlan! Inget deh ama ayat ini (yang artinya): “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS al-Isra [17]: 36).

Kalo acaranya memang dibuat untuk bikin kamu lebih paham tentang suatu hal ya misalnya lagi belajar tentang masak-memasak (*dasar ibu-ibu nih, kagak jauh-jauh ngasih contoh dari masalah masak). Nah, di tv kan ada acara memasak ama chef yang berpengalaman. Liat acara itu kan jadi ngeh gimana bikin macem-macem lauk yang halal dan sehat (eh, kok jadi laper ya?)

Yang bikin gue nggak demen

Sekeren-kerennya berbagai stasiun tv yang nayangin acara, sebagai muslimah nih, gue udah punya frame berpikir kalo nonton tv. Maksudnya udah punya batasan sendiri, gitu lho. Lagian, gimana mo ngarepin tu stasiun tv bikin batas-batas buat penonton, karena tayangannya sendiri lebih sering gaje (gak jelas)! Acara-acara yang menurut gue nggak pantes buat anak-anak, tetep ditampilin buat anak-anak. Acara yang buat dewasa malah tayang di waktu remaja dan juga anak-anak belum pada bobo. Betul nggak?

Bro en Sis, kalo dirinci ada yang bikin gue nggak demen ama acara-acara tv adalah sbb.:

Pertama, latah (nggak kreatif ?): pas lagi rating naek karena acara reality show, hampir semua stasiun tv ngadain reality show. Ato bikin acara pencarian bakat gitu yang acaranya berlisensi dari negara asing.

Kedua, jam tayang ngasal: pernah nonton film Glee? Atau film-film remaja sejenis yang diimpor dari Amrik kayak Hannah Montana gitu? Wah, tuh film kontennya banyak nggak benernya.

Ketiga, tanpa solusi: ada tayangan reality show gitu tapi tanpa solusi. Kalo pun ada solusi, tapi nggak jelas. Solusinya kadang cuma berdasarkan pemikiran si host acara (yang belum tentu bener). Misalnya aja ada problem pergaulan semisal pacaran, bukannya dilarang pacarannya, malah dikasih saran supaya pacarannya baik-baik. Lha, piye iki?

Keempat, penyesatan akidah terselubung: siang-siang bolong nih ya, pantengin aja One Cubed TV juga acara buat remaja berbentuk konser musik live gitu di sebuah stasiun tv swasta. Waktu gue nonton, yang tampil The Army of God. Ternyata tuh acara non-muslim. Kalo nggak ati-ati, kamu mikirnya itu acara hiburan dan motivasi buat semua remaja. Tapi sebenernya itu ditujukan buat yang Nasrani. Kalo gue sih jadi mikir, kalo memang buat nonmuslim kenapa nggak sekalian aja dibikin acaranya dengan label untuk Nasrani, gitu. Kasihan masyarakat entar malah ‘terkristenisasi’. Atau bahkan bikin acara-acara islami tapi sebenernya nggak islami..

Kelima, cuma mikir profit alias duit: para kapitalis tuh kayak Mr. Crab di Bikini Bottom, pastilah mikirnya profit alias duit mulu. Kalo tu acara nggak komersil, nggak ngedatengin banyak iklan. Jadi tiap stasiun tv pasti mikirnya market share juga penonton lagi butuh tontonan apa. Cuma ujung-ujungnya ya acara yang ditayangin kudu menghasilkan duit banyak.

Keenam, trendsetter style yang nggak bener. Yup di jalan, di mal, pastinya fesyen udah berbagai macem style tampil. Liat aja presen-ter, pemeran sinetron/ftv/dorama, mereka yang public figure itu dijadiin contoh bagi masyarakat. Bahkan ampe cara hidupnya yang bebas dan glamour juga jadi panutan. Gawat!

Ketujuh, gebentuk opini nggak bener. Hehe… pernah liat berita tentang orang ‘diduga teroris’ atau siaran live penangkapan teroris (padahal belum tentu bener teroris) atau apalah yang kesannya berita lebay dan dibuat-buat gitu. Akhirnya, sesuatu yang belum tentu bener seakan-akan emang beneran terjadi. Bahaya!

So, nonton tv gak cuma kudu selektif tapi juga kudu kritis! Selain itu, jangan cuma taunya mantengin tv aja. Coba deh misalnya kamu dapet informasi. Misalnya aja tentang Islam dan teroris. Kalo mantengin tv terus-terusan, apalagi the(wo)man behind the scene – nya itu cuma ‘alat’ dan diupah tinggi ama orang-orang yang nggak demen ama kebangkitan Islam. Maka mereka akan bikin opini kebohongan yang diulang-ulang hingga bikin banyak orang pada percaya dan akhirnya kamu pun percaya kalo yang laki-laki jenggotan itu teroris terus perempuan yang bercadar itu istrinya teroris. Jiahahah.. itu artinya kamu udah kena tipu!

Sebagai muslim yang cerdas, seharusnya, nggak cuma mantengin tv! Tapi kudu dicocokin ama informasi yang laen, entah dari buku-buku atau siaran radio yang terpercaya. But, nggak semuanya sih apa yang di tv itu salah. Cuma, dalam nyari informasi juga kudu hati-hati. Itu aja kok.

Nah, sebenernya sih daripada mencet-mencet remote tv terus nggak ada acara yang keren, kalo gue sih ya mending baca buku aja lah. BTW, banyak juga lho teman kamu yang doyan baca gaulislam, katanya sih bahasanya keren. Walaupun bukan fiksi, tapi nggak bikin pusing buat nambah ilmu Islam (waw..tenkyu yuach! Hehehe..).

Jadi the man behind the scene!

Nggak mustahil kalo suatu hari kamu lah yang jadi the (wo)man behind the scene dari acara-acara tv. Nggak mustahil juga kamu yang nanti bakal punya stasiun tv. Bikin deh program yang kreatif dalam mendidik, menghibur dan ngasih informasi ke masyarakat. Lebih keren lagi kalo pemerintah kita juga menerapkan syariat Islam, jadinya lebih asoy tuh bikin apa aja untuk kemaslahatan masyarakat.

Soalnya saat ini sinetron aja ceritanya bikin bosen. Nggak jauh dari cinta, cinta dan cinta yang penuh adegan antara lawan jenis yang menurut gue nggak pantes diumbar ditengah umum, contohnya: saling berpelukan (kayak teletubies aja!). Diputernya pula mulai pagi jam 10’an trus siang, sore bahkan ada juga yang nyempil begitu menjelang tengah malam (ditayang ulang).

Ati-ati lho, ngehibur orang tapi dengan cara yang nggak bener jatuhnya malah jadi sia-sia. Kalo gue sih, udah males dengan ide cinta semu begitu. Cobalah misalnya dengan mengoptimalkan para SDM yang punya pengalaman bikin tayangan dokumenter terus bikin dokumenter yang sumbernya bisa dipertanggungjawabkan bukan cerita rekayasa alias manipulasi.

Para pemilik stasiun tv dan juga pemerintah, semoga cepet sadarlah dan pertegas diri dalam bikin informasi dan hiburan. Jangan sampe menyesatkan pemikiran rakyat. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama ini suka dicuekin tuh padahal sering mengoreksi acara-acara apa aja yang nggak pantes ditayangin.

Nah,buat kita semua, para generasi muda Islam, juga kudu paham kalo tv adalah alat alias sarana buat nyari informasi, hiburan juga pendidikan. You drive the TV, not TV which drive you. Jadi, kalo sistem kapitalis masih tegak hingga saat ini, kita kudu kuat menahan derasnya arus globalisasi liberal yang masuk nggak pake permisi melalui tv-tv yang ada di rumah-rumah kita.

So, just watch out guys ! Kalo nggak penting-penting banget, just TURN OFF tv-mu! Yuk, rame-rame kita koreksi acara-acara aneh yang bisa bikin akidah tersesat dan malah ngejauhin Islam dari kehidupan kita. C’mon, be brave for truthness ! [anindita: www.facebook.com/Anind.Chandra]

Kapitalisasi Jilbab

0 komentar

Jangan heran kalo beberapa waktu belakangan ini makin marak para muslimah berbusana muslim. Sebab, sepertinya sudah jadi tren. Dengan beragam model pakaian, bermacam gaya berkerudung, beraneka, bervariasi, para muslimah menunjukkan jati diri. Keren juga deh.

Fenomena itu pun ditangkap sebagai kesempatan yang nggak boleh disia-siakan oleh para pebisnis. Mulai dari pebisnis grosiran ala Tanah Abang sampai yang tingkat elit lewat bermacam butik. Bahkan pada 12 Agustus-3 September yang lalu diselenggarakan Indonesian Islamic Fashion Fair yang dijadikan momen untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia. Busana muslim rancangan desainer terkemuka dihadirkan di sini. Menaikkan gengsi busana muslim. Nggak dinilai kumuh lagi. Nggak dianggap jadul lagi.

Berbagai model kerudung dijajakan. Bermacam model pakaian dipajang. Tawaran ragam harga diajukan. Mau yang murah? Ada. Yang mahal? Tersedia. Banyak pilihan yang menggiurkan. Namun kemudian muncul tanya. Apakah fenomena berkerudung dan berjilbab itu sejatinya gambaran kebangkitan umat Islam? Gambaran kesadaran beragama, khususnya di kalangan muslimah, yang kian kental? Ataukah cuma arus tren yang sebentar lalu akan tergerus oleh arus tren berikutnya, yang lainnya? Dan lagi-lagi umat Islam, muslimah khususnya hanya dijadikan obyek marketing, tambang uang bagi sebagian pihak.

Jangan kapitalisasi jilbab kami, please!

Fakta bahwa semakin sering dan mudah dijumpai muslimah berkerudung dan berjilbab nggak bisa dibantah. Fakta kalau jilbab, kerudung, dan jenis busana muslimah lainnya berserta pernak-pernik aksesorisnya saat ini jadi komoditi dagang yang potensial menghasilkan keuntungan besar, itupun nggak bisa disangkal. Sehingga nggak heran makin banyak kreator alias desainer busana muslimah berlomba berkreasi menciptakan desain jilbab dan kerudung yang bisa menarik hati calon pembeli dan yang pasti sih menarik uang dari kantung mereka. Hehehe…

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan mencipta desain busana sehingga para muslim dan muslimah bisa tampil lebih cling. Yang bikin timbul problema jika para kreator cuma mikir fulusnya aja. Berinovasi, berikhtiar mencari ide rancangan berikutnya semata-mata untuk mempertahankan jumlah pelanggan atau bahkan untuk bisa menambah luas pasar. Kalau cuma itu yang ada di pikiran para desainer dan pengusaha busana, lantas apa bedanya dengan mereka berjualan jenis pakaian lainnya? Toh, sama-sama dalam rangka bisnis, melipatkan keuntungan dengan mempertahankan keloyalan pelanggan lama dan meraih jaringan baru calon pelanggan berikutnya. Jilbab diserbu pelanggan, pengusaha untung besar. Kerudung habis terjual, pengusaha senang.

Lantas di mana sisi “jilbab adalah baju takwa” ditempatkan? Di mana peran dan tanggung jawab para desainer dan pengusaha untuk ikut memahamkan umat tentang jilbab? Mensyiarkan jilbab yang sebenar-benarnya jilbab. Jilbab yang sejatinya ada karena Allah yang memerintahkan para muslimah memakainya. Bukan sekadar pakaian yang menutupi badan. Tapi itu akan dilakukan karena sandaran keimanan. Tidak lain dan tidak bukan. Sehingga desain yang dihasilkan pun semestinya mengikuti kriteria jilbab yang Allah perintahkan, bukan semata-mata bersandar pada daya kreativitas si manusianya aja. Bagus en indahnya bukan hanya berdasarkan pandangan manusia aja, gitu lho. Sebab, dakwah bukan hanya tugas dan kewajiban ulama. Dakwah adalah tugas dan kewajiban tiap individu muslim, termasuk para desainer dan pengusaha muslim.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fussilat [41]: 33)

Untuk kita sebagai pembeli, sebenarnya sah-sah aja memilih dan akhirnya membeli busana muslimah yang bagus dan indah. Apalagi kalau itu dalam rangka ibadah, pastinya lebih indah. Tapi, kalau sampai aktivitas membeli tadi mendekat ke perilaku konsumtif bisa berabe. Kalau beli jilbab cuma karena ikut tren, urusan ibadah bisa malah jadi terbengkalai. Pahala nggak jadi tergapai. Yang ada perilaku konsumtif menjadikan kita sebagai pemboros. Lagian kalo nafsu konsumtif udah berurat berakar, bakalan berabe. Sebab, belanja jadi maniak atau gila belanja. Tul nggak sih?

Itu sebabnya, pemahaman yang benar soal jilbab jadi urgen banget didapatkan. Jangan sampai gara-gara beli jilbab malah bikin kita terjerumus nggak berperilaku takwa karena sekadar ngejar tren.

Kami beriman, maka kami berjilbab!

Syahadah bagi tiap muslim adalah sebuah janji terbesar, dari hamba kepada Tuhannya. Janji terdalam dan teragung untuk menaati tiap perintah dan meninggalkan tiap laranganNya. Janji setia untuk mengikuti tiap sabda RasulNya, Muhammad saw. Janji telah diikrarkan lalu ketaatan dilakukan. Lalu serupalah lisan dengan perbuatan. Itulah iman.

Menutup aurat dan berjilbab (pakaian longgar, panjang, bukan potongan, semacam jubah, mirip gamis) bagi tiap muslimah adalah kewajiban. Tidak ada sanggahan yang bisa diberikan untuk menyangkal kewajiban ini.

Oya, biar lebih jelas, jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinya­takan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (tero­wongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung. Jadi, bagi kamu yang baru sekadar pake kerudung, buruan lengkapi dengan jilbab ya. Ok?

Salmah meriwayatkan bahwa Asma binti Abu bakar ra. pernah menemui Nabi saw. seraya menggunakan pakaian tipis. Melihat itu, beliau saw. memalingkan wajah kemudian memberi nasihat: “Wahai Asma’, sesungguhnya kalau sudah aqil baligh, wanita tidak patut memperlihatkan tubuhnya yang manapun kecuali ini dan ini” kata beliau sambil menunjuk muka dan kedua tangannya.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan katakalah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nuur [24]: 31)

Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Berjilbab seharusnya dilakukan karena kesadaran bahwa itu perintah Allah. Tapi, nggak jarang juga yang cuma modal ikut-ikutan. Kayaknya pake busana muslim asyik, deh. Kayaknya bikin makin cantik dan anggun, deh. Wah, kalau kayak gitu bisa bahaya, Non! Modalnya cuma ikut-ikutan, tahannya bisa jadi cuma sebentar deh. Kalau nggak segera lurusin niat dan mengkaji lebih dalam soal jilbab, bisa jadi pakai jilbab bongkar-pasang, atau malah lepas beneran. Na’udzubillahi min dzalik.

Berjilbab sebagai salah satu buah keimanan seharusnya nggak hanya sampai permukaan. Karena memang jilbab bukan sekadar pakaian, dan berjilbab bukan sekadar berpakaian. Berjilbab semestinya jadi pemicu bagi kita untuk mau menyegerakan diri menjadi hamba Allah yang lebih baik. Jadi nggak ada ceritanya udah berjilbab eh tapi masih pacaran. Atau udah berjilbab tapi masih seneng datang ke konser yang campur-baur antara laki-laki dan perempuan plus jingkrak-jingkrakan. Weleh. Nggak banget tuh!

Terus ada yang kasih pendapat, kalo gitu mendingan nggak berjilbab dunks yang penting kan jadi makhluk lemah lembut, manis, baik hati, dan nggak sombong! Heuheuheu… Ya nggak gitu juga, dong. Nggak berjilbab en nggak pacaran, tetep dosa. Dosa karena nggak pake jilbab. Berjilbab tapi masih suka pacaran juga tetep dosa. Dosa karena pacarannya. Jadi gimana dong? Kembali lagi ke soal jilbab sebagai buah keimanan tadi. Berjilbab seharusnya menjadi pintu gerbang bagi kita untuk semakin terdepan dalam praktek keislaman. Berjilbab bukan sebagai penutup atau garis finish dari segala performa kesolehan yang sudah kita tunjukkan. Kita baii…k dulu dalam semua hal barulah ditutup atau disempurnakan dengan jilbab. Nggak kayak gitu, Sista!

Sekali lagi berjilbab adalah pintu gerbang, merupakan garis start untuk melakukan amal sholih berikutnya, dan seterusnya. Sehingga setekah berjilbab seharusnya seorang cewek terus terpacu untuk menggali ilmu Islam lebih dalam. Jadi lebih konsisten dalam mempelajari khasanah pemikiran Islam. Proses belajar tiada henti terus dijalani. Ending-nya hanya ketika kematian datang.

Nah, sekarang tinggal instropeksi diri. Udah berjilbab tapi masih males datang ke pengajian? Udah berjilbab tapi masih bikin susah ortu? Udah berjilbab tapi masih seneng hang-out bareng temen-temen cowok? Udah berjilbab tapi masih itung-itungan untuk beramal? Hmm … jawaban iya en nggaknya masing-masing aja ya dan segera bikin rencana perubahan sesuai dengan jawaban masing-masing. Yang pasti semua rencana yang udah dibuat nanti harus direalisasikan sebagai wujud pembuktian atas satu kalimat yang telah diucapbersama dengan yakin dan mantap: KAMI BERIMAN, MAKA KAMI BERJILBAB! Allahu Akbar! Ayo, mulai buktikan ya! [nafiisah fb: http://sastralangit.wordpress.com]

Dapat Apa dari Obama?

0 komentar

Jiaah.. pekan-pekan kemarin semua gadget gue dipenuhi dengan kata Obama. Mulai dari informasi yang biasa aja, agak miring, miring banget sampai nyusruk semua kumplit. Jadi reseh tuh, karena kudu ngedeletin banjir informasi yang nyaris sama dengan berbagai besutan yang berbeda. Topik Obama emang laris manis kayak kacang goreng (perumpamaan yang aneh, kalo emang laris manis, kenapa jarang orang jualan kacang goreng jadi kaya raya?).

Mereka yang nggak setuju dengan Obama datang ke sini pun ada yang majang gambar Obama (yee.. kalo kagak sudi, mustinya nggak perlu dipajang di kaos!). Jelas di sini ada orang cerdik yang memanfaatkan ketidaksukaan Obama dateng dengan memproduksi kaos anti Obama plus foto doi dengan berbagai pose. Dan ternyata bukan hanya tukang sablon kaos saja yang ketiban untung dengan datengnya doi ke Indonesia, tukang sablon poster, spanduk, perusahaan bis, angkot, sampai percetakan serta merta meraup keuntungan dari bisnis kebencian ini.

Masih inget tipikal cerita klasik orang patah hati or kecewa? Biasanya orang kalo benciiiii banget, doi bakal ngga jauh dari marah, nangis bombay, ngerobek foto, ngebuang atau ngebakar barang-barang kesayangan bahkan sampai nggak BAB selama 5 minggu (eh, kalo yang satu in mah penyakitan). Jarang yang kalo benci diungkapin dengan memasang fotonya di mana-mana, pake kaos ada gambar dia, nempelin stiker bergambar dia dan sebagainya. Malah jadi terkenal deh dia!

Bro en Sis, dalam agama kita tidak menjadikan kebencian sebagai jalan utama dalam berdakwah. Justru sebaliknya, kita dikenal sebagai umat yang santun dan penyayang. Merupakan keagungan Islam, dimana ajaran dan sistemnya mencakup semua aspek kehidupan, sejak dari sistem keimanan (akidah), ibadah, syari’ah (berbagai peraturan dan perundang-undangan), mu’amalah (ekonomi dan bisnis), akhlak , budaya, seni, hubungan internasional. Perihal menyambut tamu, dalam Islam adalah bagian/cabang dari keimanan seperti yang disabdakan Rasul Saw. dalam sebuah hadits yang berasal dari sahabat Abu Hurairah ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda, “…Siapa yang beriman kepada Allah dan RasulNya hendaklah ia memuliakan tamu.” (HR Imam Muslim)

Nah, khusus berkaitan dengan kedatangan Obama pada 9 November 2010 lalu, ada dua pendapat: pro dan kontra. Pendapat pertama, menolak kehadiran Obama. Hal ini didasari dari fakta yang tak terbantahkan bahwa Obama, sebagai Presiden AS, telah dengan nyata meneruskan permusuhan politik luar negerinya terhadap kaum Muslimin yang melawan kepentingan politik, ekonomi dan ideologi AS di negeri-negeri Muslim, khususnya di Palestina, Irak, Pakistan dan Afghanistan. Sehingga kemudian muncul pertayaan; apa masih pantas seorang Obama diterima kehadiranya hanya karena alasan menghormati tamu atau etika pergaulan internasional?

Pendapat kedua mendukung kedatangan Obama dengan dalih Obama adalah seorang tamu yang harus dihormati dan taat akan etika pergaulan internasional. Mereka ini mayoritasnya, kalau tidak dikatakan semuanya, sedang bertengger di atap kekuasaan Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif. Bahkan uniknya lagi, sebagian kalangan ulama dari MUI pun sepaham pula dengan pendapat yang kedua ini. Seakan lengkaplah sudah legitimasi yang mereka miliki karena mendapat dukungan pula dari sebagian kalangan ulama, paling tidak yang menamakan dirinya ulama.

Tergantung tamunya

Muncul pertanyaan dalam benak gue, gimana sih adab menyambut tamu dalam Islam? Jawaban singkatnya adalah memuliakannya, memberinya makan, minum dan semua keperluannya. Namun demikian, bukan berarti setiap tamu seenaknya saja datang dan bertandang serta setiap kedatangannya harus diterima dengan tangan terbuka. Shahibul bait (nyang punya rumah), di samping memiliki kewajiban memuliakan tamu, namun dalam waktu yang bersamaan ia diberikan oleh Allah Ta’ala kebebasan untuk menerima atau menolaknya seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam surat an-Nuur ayat 27-29 (silakan cek ya). Karena Allah Maha Tahu bahwa tidak semua shahibul bait itu dalam keadaan siap menerima tamu dan bisa saja memberatkannya baik secara materil maupun immaterial.

Lalu bagaimana dengan tamu yang nonmuslim? Apakah ada perbedaannya? Terhadap yang Muslim, shahibul bait memiliki dua kewajiban, yakni kewajiban sebagai sesama Muslim dan kewajiban memuliakan tamu. Tentulah perlakuannya sangat istimewa. Adapaun terhadap tamu yang nonmuslim, shohibul bait hanya memiliki satu kewajiban, yakni sebagai tamu saja. Tentulah perlakuannya berbeda.

Dalam kasus Barrack Obama yang dateng ke negeri kita, faktanya pemerintah kita sudah setuju untuk menerimanya, sehingga doi pun datang deh. Meski banyak yang udah protes kepada pemerintah sejak awal tahun ini tapi rupanya pemerintah memilih menerima doi. Ya sudahlah (Bondan and F2B mode “on” hehe..)

Sumber permasalahan

Menerima nonmuslim sebagai tamu sebenarnya bukan hal yang asing dalam Islam. Sebagai tuan rumah kita menghormatinya dengan cara mendengarkan apa saja yang dia ingin sampaikan termasuk intimidasi sekalipun, jika ada. Setelah itu, shohibul bait menyampaikan pula pesan dan keinginannya seperti yang dilakukan Rasul Saw. terhadap Utbah bin Rabi’ah.

Sebagai seorang tokoh masyarakatnya, Utbah ingin sekali bertamu kepada Rasulullah karena melihat kegigihan Rasul menyebarkan Islam. Utbah ingin bernegosiasi dengan Rasul dengan cara persuasif, dengan tawaran (sogok) kepemimpinan, menjadi raja, harta, dan sebagainya. Setelah mendengar dengan serius tawaran-tawaran tersebut, Rasul Saw. berkata: Apakah Anda sudah selesai bicara Abal Walid? Ia menjawab: sudah anak pamanku.

Lalu Rasul Saw. berkata: Bismillahirrohmanirrohim… kemudian meneruskan ucapannya sambil membaca ayat surat Fushshilat dari ayat 1 – 4. Kemudian Rasulullah saw. meneruskan sampai ayat sujud dan Beliau pun melakukan sujud tilawah. Setelah itu Rasul berkata: Apakah anda sudah mendengarkannya wahai Abal Walid? Sekarang terserah Anda. Mendengar ayat dan ungkapan tersebut, muka Utbah pun berubah pucat pasi karena terpengaruh oleh mukjizat al-Quran dan perkataan Rasul saw yang begitu jelas mengajaknya beriman dan masuk Islam.

Presiden kita yang notabene muslim memiliki kesempatan emas untuk meneladani Rasul, beliau memiliki kesempatan untuk berdakwah di depan presiden AS, mampukah beliau melakukannya? Yang jelas sumber utama permasalahan ini adalah lemahnya Muslim di Indonesia. Demokrasi menjadikan Muslim lemah, karena demokrasi tidak akan berpihak kepada Islam dan tidak akan melahirkan pemimpin Islam yang kuat. Permasalahan Obama hanya sekelumit permasalah yang sebenernya bersumber pada permasalahan lain yang lebih besar dan mendasar, yaitu demokrasi, inilah hasil produk demokrasi. Nggak ada salahnya juga sih kalo kita doakan bersama semoga Pak SBY mampu meneladani Rasul Saw. dengan berdakwah di depan presiden AS ini yang lebih soft ketimbang pendahulunya, George W Bush. Tapi sayangnya, pemerintah kita faktanya malah menerima kesepakatan kemitraan konfrehensif (idpoleksusbudhankam) yang isinya justru memberatkan Indonesia sendiri. Ya, sudahlah! Itu memang konsekuensinya kalo kita merasa inlander alias mental dijajah.

Itu sebabnya, yang tepat untuk Obama sebagai kepala negara penjajah negeri-negeri muslim adalah tidak menerima tawarannya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa saja yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi (QS Ali Imran [3]: 118)

Kesimpulannya

Sebenernya banyak pemimpin yang dateng ke negara kita, Obama jadi spesial karena doi memimpin negara yang kita anggep adi daya. Anggapan ini sebenernya sudah usang dan kenyataan pun sudah berkata lain AS sekarang melemah dan sinyal pelemahan ini bisa kita lihat dalam sebuah tulisan di New York Times, ketika Obama bersikeras mendefinisikan misi ke Asia-nya dengan “Kita harus mencari konsumen baru di pasar baru untuk barang buatan Amerika.”

Doi keteteran setelah kemunduran doi dalam hasil pemilu paruh waktu AS pekan lalu. Kebangkitan Cina telah membuat banyak negara di Asia sadar, yang sebelumnya selalu mengikuti Amerika; kini mereka mulai menemukan acuan baru bagi masa depan ekonomi Asia. Cina tidak secara langsung kalah dalam perang dingin melawan AS, sekarang mereka malah menang dalam perang ekonomi. AS sering menuduh Cina memanipulasi nilai tukar mata uangnya, namun setali tiga uang, US Federal Reserve Bank memutuskan untuk membanjiri ekonomi dengan $600 milyar uang baru untuk merangsang ekonomi AS yang tengah kolaps.

AS bukan lagi negara adi daya. So, kedatangan Obama ke negeri kita bukanlah big deal. Dengan kondisi ini seharusnya lebih mudah untuk menolak Obama dateng. Daripada menerimanya, mendingan pemerintah fokus nanganin korban bencana alam.

Anyway, ini memang fakta yang ada saat ini. Gimana pun juga, harus kita hadapi. But, yang lebih keren tentu kita tetap belajar Islam dan mendakwahkannya kepada teman-teman yang belum tahu. Siap kan ya? Harus deh! [aribowo: aribowo@gaulislam.com]

Be Gentle, Bro

0 komentar

Wah, gue lagi enak-enakan duduk di depan komputer (buka facebook, upload foto, bales komen en ngupil hehe), eh ada komen temen gue yang komen pake gaya-gaya banci alias girlish, tau kan gimana gayanya? Sapaan Eike, Yey, dan Cin..udah kental di setiap komentarnya di FB, padahalkan dia laki-laki tulen?. “Ahh jijay dah Bo!” Idih, amit-amit kenapa gue jadi ikutan?

Berhubung dia temen deket gue, sambil ngocol tetep gue ladenin. Ngak lama gue buka email, seperti biasa dapet jatah nulis lagi dengan tema bebas atau terserah gue aja, eh tapi di sarankan oleh editor “temanya girlish!” Spontan langsung gue ketawa ngakak sambil ngebayangin temen gue tadi. Hahaha! Ampun deh tepat banget momennya.

BTW nanti gue dikroyok sama bencong-bencong selebor nggak ya? Gara-gara gue nulis artikel ini dan mereka baca. But, justru di sini nih tantangannya supaya mereka sadar dan menyandarkan sikap mereka kepada Islam. Oya, gue juga punya pengalaman nggak mengenakan diganggu banci. Hmm kali ini bancinya yang bakal gue ganggu! Hehe “let’s go tramtib, tangkepin mereka!”

Pengalaman diganggu banci, salah satunya waktu gue membantu seorang guru di salah satu SD di Bogor. Ceritanya begini, gue bantu dia ngetik soal-soal ulangan untuk murid didiknya. Pertama liat sih nggak aneh-aneh amat tampilannya kayak guru laki-laki lain, bahkan katanya dia udah beristri. Dia tanya “Mas udah punya pacar belum?” dengan tegas gue jawab “Ehmm, wah bukannya sok ganteng, di belakang sana banyak cewek-cewek yang ngantri, Pak! (tetep narsis) Tapi saya nggak mau tuh, karena saya bukan penganut pacaran!” mungkin dia pikir gue nggak suka sama cewek kali ya? Padalah nggak pacaran emang nggak boleh dalam Islam.

Eh, dia malah salah paham, denger jawaban gue kayak tadi, malah senyam-senyum nggak jelas. Nggak lama gayanya makin aneh dia malah pegang tangan gue! Sambil ngajakin jalan-jalan keliling Bogor tapi berdua aja Obrolannya juga makin ngawur dia malah curhat tentang kelainannya. Wachhh tolong! Kayak mimpi buruk di siang bolong disamber petir, rasanya pengen ngibrit (baca: kabur) terus nyebur ke sawah, haha!

Pengertian banci

Cowok kok dandanannya kayak cewek? Jari-jarinya lentik, gaya en cara bicaranya lemah gemulai, bener-bener cowok tapi feminin. Hadeuh-hadeuh ini nih salah satu tanda-tanda kiamat sudah dekat, Bro! Mereka eksis di mana-mana mulai dari temen-temen kita sendiri, artis hingga publik figur.

Keeksisan mereka sangat marak dan penampilan mereka cukup mengganggu perhatian kita. Terlebih seolah-olah mereka mendapat tempat tersendiri di layar kaca ada yang jadi penyanyi, pelawak, presenter dan lainnya. Bahkan ada juga pesantren khusus waria entah bagaimana kegiatan mereka di sana tapi dari informasi yang gue tahu mereka malah dilestarikan, belajar ngaji pun mereka mengenakan mukena layaknya santriwati. Katanya “mereka ini jangan dikucilkan atau dicemooh mereka harus dirangkul”. Hmm.. bener juga sih sepintas pendapatnya bisa diterima, kalo dirangkul tapi nggak ada upaya untuk menguahnya sama aja bohong malah makin parah, tul nggak?

Dalam pandangan Islam banci ada dua pengertian yaitu khuntsa dan mukhannats. Menurut para ulama, istilah al-Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir (alat kelamin laki-laki dan perempuan) atau tidak mempunyai alat kelamin sama sekali (fiqih sunnah 4/538, al-mukhalash al-fiqhi hal, 780). Kemudian khuntsa dibagi menjadi dua lagi, khuntsa biasa yaitu orang yang terlahir dengan dua alat kelamin sekaligus, namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan.

Dalam hal ini ada dalilnya adalah “dari Ibnu Abbas ra., bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang bayi yang terlahir dengan dua alat kelamin, bagai mana urusan pembagian warisannya. Beliau Rosulullah saw. bersabda, dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana cara dia buang air kecil.”

Khuntsa Musykil, sesuai namanya musykil (sulit) karena terlahir dengan dua kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Untuk kasus ini dikembalikan kepada para ulama dan medis untuk menentukan status kelaminnya (memiliki rahim atau tidak).

Pengertian kedua adalah mukhannats, adalah seorang yang menyerupai atau merasa dirinya perempuan walau secara fisik dirinya adalah laki-laki namun berpakaian serta berhias layaknya seorang perempuan.

Bro and Sis, Allah Swt. menciptakan manusia hanya dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, masing-masing jenisnya memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda di antaranya adalah penampilan, tingkah laku, gaya bicara, bahasa tubuh dan lain-lain.

Keberadaan banci ini lebih karena faktor lingkungan, Sebab, faktor ini yang sangat besar pengaruhnya terjadi saat perkembangan mulai dari kanak-kanak hingga dewasa parahnya hal semacam kayak gini sudah dianggap lazim di lingkungan kita sehingga gampang ditiru alhasil media massa sangat membantu kelaziman tersebut. Terang saja bagi mereka yang sudah bakat ingin jadi waria merasa nyaman karena dukungan lingkungannya. Adapun alasan menjadi waria adalah karena faktor ekonomi, yang tadinya hanya untuk mencari uang akhirnya keterusan karena tidak luput dari lingkungan atau media masa yang mengeksploitasi keberadaan mereka.

Hukum sengaja menjadi banci

Para ulama sepakat bahwa laki-laki yang menyerupai perempuan adalah haram dan di laknat oleh Rasulullah SAW dalam hal ini termasuk dalam dosa besar. Berdasarkan banyak dalil di antaranya adalah dalam riwayat Ibnu Abbas r.a disebutkan:”Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Bukhari, dalam Fathul Bari)

Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, “bila hal itu (banci) merupakan asal penciptaanya maka ia diperintahkan untuk memaksa dirinya agar meninggalkan hal tersebut secara berangsur-angsur. Bila hal ini tidak dilakukan bahkan ia terus tasyabhuh dengan lawan jenis maka ia masuk dalam celaan, terlebih lagi bila tampak pada dirinya perkara yang menunjukkan ia ridla dengan keadaanya yang demikian”.

Dan hikmah dilaknatnya laki-laki yang tasyabbuh dengan wanita dan sebaliknya, adalah karena mereka keluar/menyimpang dari sifat yang telah Allah Swt tetapkan untuk mereka. (Fathul Bari, 10/345-346)

Kalo kemudian yang banci ini makin kebangetan, yakni menajdi homoseksual, bisa gawat. Dalam sejarah zaman Nabi, salah satu adzab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam al-Quran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diadzab Allah karena melakukan praktek homoseksual. “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Huud [11]: 82)

Bro and Sis, sejarah diazabnya kaum Nabi Luth nyata dalam al-Quan (bukan dongeng seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang liberal). Yup, nyata. Ini dibuktikan melalui penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa kaum Luth yang disebutkan a-Quran memang pernah hidup di masa lalu, kemudian mereka punah diazab Allah akibat kebejatan moral mereka. Semua bukti terjadinya bencana itu telah terungkap dan sesuai dengan pemaparan al-Quran. Maka kita sepatutnya berkaca terhadap sejarah kelam Nabi Luth yang merupakan juga peringatan bagi kita dan sekarang yang perlu diwaspadai adanya upaya legalitas homoseksual dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia) terlebih di Indonesia sudah ada organisasi kaum homo, yakni gay dan lesbi.

Cowok kok girlish?

“….Dan beliau saw. bersabda: “Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”. Ibnu Abbas berkata: “Maka Nabi saw. pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah).” (HR Bukhari, No. 5886)

Diusirnya mereka memiliki makna, yaitu salah satunya menurut Imam an-Nawawi rahimahullah, “….sebagaimana dalam hadist tersebut mukhannats ini disangka termasuk laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita tapi ternyata ia punya syahwat namun menyembunyikannya”.

Bro and Sis, tindakan kita sebagai seorang remaja muslim adalah tidak mencemooh juga tidak membiarkan mereka terus bersikap girlish. Selayaknya kita membantu mereka untuk sembuh, membantu mereka untuk memilih menjadi manusia yang diridhoi Allah Swt.

Sebab, sampai kapanpun Islam tidak mentoleransi keberadaan banci atau waria di tengah masyarakat karena waria adalah menyalahi kodrat. Salah satunya kita bisa mengarahkan mereka untuk menyukai tantangan agar tidak manja atau penakut dan perlu diingat juga kita melakukannya sesuai dengan batas kemanusiaan tidak berlebihan dengan menganggap mereka sebagai mahluk yang layak untuk dimusnahkan (lho?), tapi yang kita musnahkan dalam hal ini adalah sikap dan tingkah laku mereka yang menyerupai perempuan dengan begitu cara mereka berpakaian dan berhias ala wanita juga akan hilang seiring dengan kejantanan mereka kecuali mereka adalah seorang prajurit Skotlandia yang mengenakan rok seperti perempuan kali ye (hehe..)

Gimana jadinya kalo cowok muslim semuanya jadi girlish? Nggak lucu! Bro, kita adalah remaja muslim yang seharusnya kuat, gagah, berani, dan tentu saja jadi pejuang dan pembela Islam. Nggak boleh loyo, kemayu atau feminim ala cewek. Selain nggak elok dipandang mata, juga bisa dilaknat. Ati-ati, Bro! [samsi: samsi_hn@yahoo.co.id]

 
  • Mengenal alqur'an lebih dekat © 2012 | Designed by dara izhhar, in collaboration with syarie blogmaker , Blogger Templates and WP Themes